Pembuka Tulisan
Permasalahan degradasi lingkungan menjadi isu mendesak di tingkat global maupun regional, termasuk di kawasan ASEAN. Meski negara-negara ASEAN menunjukkan komitmen terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) seperti pengentasan kemiskinan, energi bersih, dan pembangunan industri, kawasan ini tetap menghadapi tantangan besar berupa polusi, ketimpangan, deforestasi, serta peningkatan emisi gas rumah kaca. ASEAN Centre for Energy memperkirakan bahwa emisi dari sektor energi dapat meningkat drastis pada 2040, menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi di kawasan ini masih sangat bergantung pada energi fosil.
Dalam konteks tersebut, kajian mengenai Environmental Phillips Curve (EPC) menjadi penting. EPC menggambarkan hubungan terbalik antara tingkat pengangguran dan degradasi lingkungan, khususnya emisi COâ‚‚. Sejumlah penelitian di berbagai negara telah menunjukkan bahwa ketika pengangguran menurun”yang biasanya menandai peningkatan aktivitas industri”emisi cenderung meningkat. Namun, bukti empiris di kawasan ASEAN masih terbatas dan belum banyak mempertimbangkan heterogenitas struktural antarnegara maupun peran inovasi teknologi.
Studi ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan meneliti hubungan jangka panjang antara emisi karbon, pengangguran, pertumbuhan ekonomi, konsumsi energi, serta inovasi teknologi di tujuh negara ASEAN. Selain itu, penelitian ini menambahkan perspektif baru dengan membedakan antara inovasi teknologi umum dan inovasi teknologi hijau”dua faktor yang berpotensi memainkan peran berbeda dalam mengurangi intensitas emisi. Dengan menggunakan data periode 1995“2020 dan pendekatan ekonometrika PMG-ARDL, penelitian ini berupaya memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana dinamika ekonomi dan inovasi memengaruhi keberlanjutan lingkungan di kawasan ASEAN.
Penjelas
Studi ini menggunakan data panel tahunan dari tujuh negara ASEAN”Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam”periode 1995“2020. Variabel utama yang dianalisis meliputi emisi COâ‚‚ per kapita sebagai variabel dependen, serta pengangguran, pertumbuhan ekonomi (GDP per kapita), populasi, konsumsi energi fosil, inovasi teknologi, dan inovasi teknologi hijau sebagai variabel independen.
Penelitian ini menerapkan beberapa tahapan ekonometrika. Pertama, dilakukan uji cross-sectional dependence (CSD), menunjukkan adanya keterkaitan kuat antarnegara ASEAN, sehingga metode yang mampu menangani dependensi diperlukan. Kedua, uji unit root menggunakan CIPS dan CADF mengindikasikan sebagian besar variabel tidak stasioner pada level, tetapi menjadi stasioner setelah diferensiasi pertama. Ketiga, uji kointegrasi Westerlund menunjukkan adanya hubungan jangka panjang antara emisi karbon dan variabel-variabel penjelas.
Metode utama yang digunakan adalah PMG-ARDL (Pooled Mean Group Autoregressive Distributed Lag), yang memungkinkan heterogenitas dalam hubungan jangka pendek, tetapi memaksakan kesamaan hubungan jangka panjang antarnegara. Untuk menguji ketahanan hasil, dilakukan robustness check menggunakan CCEMG dan AMG, dua estimator yang mengakomodasi heterogenitas dan ketergantungan lintas negara. Selain itu, uji kausalitas Dumitrescu“Hurlin digunakan untuk melihat arah hubungan dinamis antarvariabel.
Hasil estimasi PMG-ARDL menunjukkan bahwa Environmental Phillips Curve (EPC) terbukti berlaku pada negara-negara ASEAN: peningkatan pengangguran berpengaruh negatif terhadap emisi karbon dalam jangka panjang. Artinya, ketika tingkat pengangguran meningkat, emisi COâ‚‚ cenderung menurun”kondisi yang menunjukkan keterkaitan antara aktivitas ekonomi, tenaga kerja, dan tekanan lingkungan.
Pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi fosil ditemukan sebagai kontributor utama peningkatan emisi di kawasan ASEAN. Inovasi teknologi umum juga memiliki efek positif terhadap emisi ketika berdiri sendiri, kemungkinan akibat meningkatnya kapasitas produksi dan aktivitas industri. Namun, ketika berinteraksi dengan pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi mampu mengurangi dampak negatif pertumbuhan terhadap emisi, menandakan peran mitigasi jangka panjang.
Inovasi teknologi hijau (GTI) secara individu menunjukkan efek positif terhadap emisi”indikasi bahwa adopsi teknologi hijau belum mampu menggantikan energi fosil secara signifikan. Namun, ketika dikombinasikan dengan konsumsi energi, inovasi teknologi hijau menurunkan intensitas karbon dari energi yang digunakan, menunjukkan fungsi moderasi yang penting.
Hasil robustness check menggunakan CCEMG dan AMG umumnya konsisten dengan temuan utama, terutama terkait pengaruh positif konsumsi energi serta peran moderasi teknologi hijau. Uji kausalitas menunjukkan hubungan dua arah antara emisi, pertumbuhan ekonomi, energi, populasi, dan inovasi, tetapi hubungan antara pengangguran dan emisi hanya muncul kuat dalam jangka panjang”konsisten dengan kerangka EPC.
Penutup
Studi ini membuktikan bahwa Environmental Phillips Curve (EPC) berlaku di negara-negara ASEAN: peningkatan pengangguran berhubungan dengan penurunan emisi COâ‚‚ dalam jangka panjang. Emisi di kawasan ini terutama didorong oleh pertumbuhan ekonomi dan konsumsi energi fosil, sementara inovasi teknologi dan inovasi teknologi hijau berperan ganda”kadang meningkatkan emisi, tetapi juga mampu menurunkan intensitas karbon melalui efek moderasi.
Temuan ini menegaskan bahwa ASEAN masih sangat bergantung pada energi fosil dan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon membutuhkan inovasi yang lebih terarah. Dengan memperkuat adopsi teknologi hijau, mendorong inovasi, dan mengintegrasikan kebijakan energi, lingkungan, dan ketenagakerjaan, negara-negara ASEAN dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan sejalan dengan SDG 8 dan SDG 13.





