Penyakit white feces disease (WFD) sudah lama menjadi mimpi buruk bagi para petambak udang di Indonesia. Penyakit ini menyerang udang vaname (Penaeus vannamei) yang merupakan salah satu komoditas unggulan ekspor nasional. Gejalanya cukup khas, yaitu kotoran berwarna putih dan mengambang di permukaan air, nafsu makan menurun, dan akhirnya kematian massal. Namun, penyebab pasti dari penyakit ini masih menjadi teka-teki bagi banyak ahli. Kini, secercah harapan muncul lewat hasil penelitian terbaru yang mencoba membongkar pathogen di balik wabah ini. Penelitian dilakukan di tambak komersial di wilayah Jawa Timur, Indonesia, dengan mengumpulkan sampel dari udang sehat dan udang yang terinfeksi WFD serta air dari media pemeliharaannya. Sampel udang dikoleksi dari delapan (8) tambak udang intensif yang terbuat dari beton. Sampel-sampel ini kemudian dianalisis menggunakan teknologi canggih berbasis DNA, yakni sekuensing gen 16S rRNA melalui platform HiSeq. Analisis ini memungkinkan para peneliti untuk melihat komposisi komunitas bakteri dalam usus udang secara mendetail.
Hasilnya sangat menarik: ternyata terdapat perbedaan signifikan antara mikrobiota usus udang sehat dan udang sakit. Udang yang terinfeksi WFD menunjukkan dominasi bakteri jenis Vibrio coralliilyticus, sementara udang sehat lebih banyak dihuni oleh bakteri dari genus Paracoccus. Temuan ini mengarahkan dugaan kuat bahwa V. coralliilyticus adalah aktor utama di balik WFD. Bakteri ini sebelumnya dikenal sebagai pathogen laut yang bisa menyerang berbagai organisme, termasuk karang. Di dalam tubuh udang yang terinfeksi, bakteri ini tampaknya berkembang dengan sangat aktif, menggeser komunitas bakteri baik yang seharusnya membantu pencernaan dan menjaga daya tahan tubuh udang. Namun, tak berhenti sampai di situ. Para peneliti juga menggunakan metode prediksi fungsi genetik mikrobiota usus. Tujuannya adalah untuk melihat jenis-jenis gen yang mungkin aktif dalam mikrobiota tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa usus udang yang terinfeksi WFD mengandung lebih banyak gen yang berkaitan dengan aktivitas pathogen, seperti metabolisme asam amino, metabolisme karbohidrat, biosintesis glikan, dan metabolisme senyawa kimia asing (xenobiotik). Dengan kata lain, bukan hanya jumlah Vibrio yang meningkat, tetapi juga aktivitas metaboliknya yang mengarah pada kerusakan sel dan penurunan fungsi pertahanan tubuh udang. Situasi ini sangat memungkinkan terjadinya infeksi yang cepat dan parah di dalam tubuh udang, memperparah kondisi dan meningkatkan angka kematian.
Sementara itu, keberadaan Paracoccus yang menurun drastis pada udang sakit menandakan adanya disbiosis, yaitu kondisi ketika keseimbangan mikrobiota terganggu. Padahal, Paracoccus dikenal sebagai bakteri yang dapat membantu proses detoksifikasi dan mendukung kesehatan usus. Disbiosis ini membuka celah bagi pathogen seperti Vibrio untuk berkembang tanpa hambatan. Penelitian ini menjadi titik balik penting dalam upaya memahami dan mengatasi WFD. Dengan mengetahui bahwa V. coralliilyticus berperan besar dalam penyakit ini, strategi pengendalian bisa diarahkan secara lebih spesifik. Salah satu solusi potensial adalah penggunaan probiotik untuk menyeimbangkan kembali mikrobiota usus, serta penerapan sistem monitoring berbasis DNA untuk deteksi dini sebelum wabah menyebar luas. Selain itu, informasi ini juga bisa menjadi dasar untuk pengembangan vaksin atau pendekatan biologis lainnya yang lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan antibiotik, yang sering kali malah memperparah resistensi mikroba di tambak. Secara keseluruhan, studi ini membuktikan bahwa pendekatan mikrobiom, yakni mempelajari komunitas mikroba yang hidup di dalam tubuh organisme adalah kunci penting dalam dunia budidaya modern. Tidak hanya membantu memahami penyebab penyakit, tapi juga membuka pintu menuju solusi yang lebih presisi, berkelanjutan, dan aman bagi lingkungan.
Kini, dengan semakin berkembangnya teknologi molekuler dan bioinformatika, dunia akuakultur Indonesia memiliki senjata baru untuk melawan penyakit-penyakit misterius seperti WFD. Harapannya, para petambak dapat lebih siap menghadapi tantangan ini dan menjaga produktivitas tambaknya tetap optimal. Sebab, menjaga kesehatan udang bukan hanya soal keuntungan ekonomi, tetapi juga soal ketahanan pangan dan masa depan industri perikanan nasional. Di masa mendatang, penelitian lanjutan untuk pengembangan deteksi dini dan pencegahan terhadap serangan pathogen pada udang vaname, khususnya WFD sangat penting dilakukan untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang di Indonesia.
Sumber:
Amin M*, Rahardjo KKE, Panosa AE, Satyantini WH, Mukti AT, Ali M, Musdalifah L, Akhyar H, Yanuhar U, Azmai MNA, Arai T (2025) Gut microbiota and functional metabolic predictions in white feces disease-infected Pacific white shrimp, Penaeus vannamei, from Indonesian farms. Fish and Shellfish Immunology 158: 110171.
Penulis: Akhmad Taufiq Mukti, Muhamad Amin, dan Woro Hastuti Satyantini





