Masalah gizi buruk pada anak balita masih menjadi tantangan besar di Indonesia, termasuk di Provinsi Jawa Timur. Meski angka stunting nasional menunjukkan penurunan dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 21,5% di tahun 2023, wilayah Jawa Timur masih menjadi salah satu penyumbang terbesar kasus gizi buruk di tingkat nasional. Data menunjukkan adanya perbedaan yang sangat mencolok antar daerah misalnya Kabupaten Probolinggo dengan prevalensi stunting hingga 35,4%, sementara Kota Malang mencatatkan angka 0%. Perbedaan inilah yang mendorong perlunya pendekatan baru yang lebih peka terhadap variasi wilayah.
Penelitian yang dilakukan oleh Syifa Azizah Putri Gunawan, Regina Fortunata, dan Elly Ana dari Departemen Matematika 51动漫 ini mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR), sebuah pendekatan statistik spasial yang memungkinkan peneliti melihat hubungan antar faktor penyebab gizi buruk secara berbeda di tiap kabupaten/kota.
Berbeda dari analisis konvensional, GWR tidak hanya melihat 渞ata-rata hubungan di seluruh Jawa Timur, tapi juga bagaimana pengaruh setiap faktor bisa berubah tergantung lokasi. Misalnya, di Kabupaten Tuban, faktor seperti berat badan lahir rendah, akses sanitasi, jumlah Posyandu, akses air bersih, dan tingkat kemiskinan terbukti berpengaruh besar terhadap angka gizi buruk. Namun di Kabupaten Trenggalek, faktor yang dominan justru berbeda di sana, pemberian ASI eksklusif dan akses air bersih menjadi penentu utama.
Secara keseluruhan, model GWR yang digunakan dalam penelitian ini mampu menjelaskan 94,15% variasi data, jauh lebih baik dibandingkan model regresi global biasa. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis lokasi jauh lebih efektif dalam memahami masalah gizi buruk yang kompleks. Temuan penting dari penelitian ini adalah: solusi satu kebijakan untuk semua daerah tidak lagi relevan. Setiap wilayah memiliki penyebab dominan yang berbeda, sehingga intervensi gizi juga perlu disesuaikan. Daerah dengan sanitasi buruk membutuhkan peningkatan infrastruktur, sementara daerah lain mungkin lebih membutuhkan edukasi tentang pola makan dan pemberian ASI.
Dengan pendekatan spasial ini, pemerintah daerah dapat mengidentifikasi wilayah prioritas dan menyusun kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran. Harapannya, hasil riset ini bisa menjadi dasar perencanaan program kesehatan anak di tingkat lokal agar tidak ada lagi anak di Jawa Timur yang menderita gizi buruk hanya karena lahir di wilayah dengan keterbatasan tertentu.
Penulis: Syifa Azizah Putri Gunawan, Regina Fortunata, Elly Ana
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





