Kanker payudara merupakan salah satu penyakit paling mematikan dan menjadi beban besar bagi sistem kesehatan global. Pada tahun 2022, tercatat sekitar 2,3 juta kasus baru dengan lebih dari 666 ribu kematian di seluruh dunia. Meningkatnya deteksi dini memang menjadi kabar baik, namun pilihan terapi yang aman dan efektif masih sangat dibutuhkan. Terapi konvensional seperti kemoterapi sering kali tidak spesifik, menyerang sel sehat dan menyebabkan berbagai efek samping. Oleh karena itu, pencarian senyawa antikanker dari bahan alam menjadi alternatif yang menarik, terutama dari tanaman-tanaman tradisional seperti Piper ornatum atau dikenal juga sebagai daun sirih merah.
Daun sirih merah merupakan tanaman asli Asia Tenggara yang terkenal dengan warna daunnya yang merah mencolok serta beragam manfaat kesehatannya dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini kaya akan senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, fenol, dan terpenoid yang memiliki aktivitas antikanker, antioksidan, anti-inflamasi, dan antimikroba. Salah satu flavonoid yang terkandung di dalamnya adalah 5,7-dimetoksiflavon (5,7-DMF), senyawa yang kini menarik perhatian para peneliti karena potensinya sebagai agen antikanker payudara. Dalam sebuah studi terbaru, dilakukan pendekatan in silicountuk menyelidiki kemampuan 5,7-DMF dalam menghambat pertumbuhan kanker payudara melalui beberapa jalur molekuler penting.
Pendekatan in silico merupakan metode komputasi yang digunakan untuk mensimulasikan interaksi molekul, menganalisis kelayakan senyawa sebagai obat, serta menilai profil toksisitas dan aktivitas biologis tanpa uji coba langsung pada hewan atau manusia. Dalam studi ini, 5,7-DMF dievaluasi untuk mengetahui kemampuannya dalam:
- Menghambat aktivitas enzim kinase yang berperan dalam proliferasi sel kanker.
- Bertindak sebagai inhibitor kompetitif terhadap COX-2 (cyclooxygenase-2) dan NOS2 (nitric oxide synthase 2), dua enzim yang diketahui berperan dalam peradangan dan progresi tumor.
Hasil molecular docking menggunakan AutoDock Vina menunjukkan bahwa 5,7-DMF memiliki afinitas pengikatan yang tinggi terhadap situs aktif COX-2. Senyawa ini juga berinteraksi kuat dengan NOS2, yang keduanya berkontribusi terhadap angiogenesis (pembentukan pembuluh darah baru), invasi, dan metastasis kanker.
Simulasi dinamika molekul menggunakan CABS-flex 2.0 memperkuat temuan tersebut, menunjukkan bahwa ikatan antara 5,7-DMF dan COX-2 stabil dan potensial untuk menghambat fungsinya. Selain itu, 5,7-DMF lolos uji “drug-likeness” (kesesuaian sebagai kandidat obat), tidak menunjukkan potensi toksisitas, serta mampu menembus membran sel, menjadikannya kandidat kuat untuk pengembangan obat antikanker.
Senyawa 5,7-DMF diprediksi bekerja dengan menekan jalur PI3K/Akt/mTOR, salah satu jalur penting dalam proliferasi dan kelangsungan hidup sel kanker. Selain itu, senyawa ini juga memicu apoptosis (kematian sel terprogram), menghambat pembentukan pembuluh darah baru (anti-angiogenesis), serta menghentikan siklus sel kanker. Menariknya, penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa 5,7-DMF dapat mengatasi sarcopenia (penurunan massa otot akibat usia), serta berpotensi digunakan dalam terapi peradangan kronis seperti arthritis dan penyakit usus inflamasi. Namun, masih diperlukan lebih banyak data farmakokinetik dan galenik, mengingat senyawa ini memiliki kelarutan air yang rendah.
Walaupun 5,7-DMF diprediksi tidak toksik dalam uji in silico, evaluasi keamanan secara menyeluruh masih sangat dibutuhkan. Beberapa kekhawatiran potensial meliputi risiko hepatotoksisitas (kerusakan hati), nefrotoksisitas (kerusakan ginjal), serta kemungkinan efek genotoksik yang dapat menyebabkan mutasi DNA. Uji laboratorium seperti uji Ames dan uji mikronukleus sangat direkomendasikan untuk menyingkirkan risiko-risiko ini. Studi jangka panjang seperti uji toksisitas 28- atau 90-hari juga perlu dilakukan untuk menjamin keamanan penggunaannya dalam terapi klinis.
Penelitian ini menunjukkan bahwa 5,7-dimetoksiflavon dari daun sirih merah memiliki potensi besar sebagai agen antikanker payudara yang bekerja melalui berbagai jalur molekuler penting. Meski masih berada pada tahap awal dan memerlukan validasi lanjutan melalui uji praklinis dan klinis, temuan ini membuka peluang besar untuk pengembangan obat berbasis alam yang lebih aman dan efektif. Dengan pendekatan in silico yang hemat biaya dan waktu, langkah awal ini dapat menjadi fondasi kuat dalam menjawab tantangan besar dalam terapi kanker payudara di masa depan. Alam telah menyediakan sumber daya melimpah, tinggal bagaimana kita menggali dan memanfaatkannya secara bijak untuk kesehatan manusia.
Penulis: Firli Rahmah PD, PhD
Link:





