Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat telah membawa berbagai peluang sekaligus tantangan, terutama bagi anak-anak. Di tengah akses yang semakin luas terhadap internet, anak-anak menjadi kelompok yang rentan terhadap berbagai risiko digital seperti paparan konten tidak layak, perundungan siber (cyberbullying), hingga pelanggaran privasi. Penelitian yang dilakukan oleh Wiwin Hendriani, A檌da Fayza Fitrianetha, Naya Shafina Najah, Primatia Yogi Wulandari, dan Rudi Cahyono (2025) dari Fakultas Psikologi 51动漫 menyoroti peran penting orangtua dalam membantu anak menghadapi risiko-risiko tersebut. Dalam penelitian berjudul 淎ssisting Children in Facing Digital Risks: The Role of Values and Communication, ditemukan bahwa faktor internal dari orangtua, khususnya nilai-nilai yang mereka anut dan cara mereka berkomunikasi dengan anak, sangat memengaruhi efektivitas pendampingan terhadap anak dalam menghadapi tantangan dunia digital.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Sebanyak empat orangtua dari anak-anak usia 7 hingga 12 tahun yang secara aktif terlibat dalam pendampingan digital anak dijadikan partisipan. Data dikumpulkan melalui survei daring, wawancara, dan dokumen laporan pribadi dari orangtua, lalu dianalisis secara tematik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangtua yang memiliki landasan nilai kuat dan mampu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak cenderung lebih efektif dalam membantu anak memahami dan mengelola risiko digital. Nilai-nilai seperti keterbukaan, tanggung jawab, dan empati menjadi pijakan penting dalam pengambilan keputusan sehari-hari terkait penggunaan teknologi di rumah. Selain itu, pola komunikasi yang hangat dan reflektif antara orangtua dan anak memungkinkan terjadinya diskusi yang bermakna tentang berbagai pengalaman digital anak. Dalam keluarga seperti ini, anak-anak cenderung merasa lebih aman untuk bercerita, bertanya, dan mencari arahan dari orangtuanya ketika menghadapi situasi digital yang membingungkan atau tidak nyaman. Pendekatan pendampingan yang berfokus pada komunikasi terbuka dan pembentukan nilai bersama dalam keluarga dinilai lebih berdampak dibanding pendekatan yang hanya menekankan pada pengawasan atau pembatasan teknis penggunaan gawai.
Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan agar program-program pendampingan orangtua, baik yang diselenggarakan oleh sekolah, komunitas, maupun institusi pemerintah, memberikan perhatian lebih pada penguatan nilai keluarga dan keterampilan komunikasi. Fokus semata pada pengetahuan teknis atau kontrol perangkat dinilai belum cukup menjawab kompleksitas risiko digital yang dihadapi anak-anak saat ini.
Dengan mendampingi anak melalui nilai-nilai yang jelas dan komunikasi yang konsisten, orangtua dapat membentuk fondasi penting bagi ketahanan digital anak. Hal ini bukan hanya membantu anak terhindar dari bahaya di dunia maya, tetapi juga mendukung perkembangan karakter dan keterampilan sosial-emosional mereka dalam jangka panjang. Penelitian ini menegaskan bahwa ketahanan anak di era digital bukan semata hasil dari penguasaan teknologi, melainkan berakar dari kualitas hubungan dalam keluarga yang dibangun melalui nilai dan komunikasi yang penuh perhatian.





