Banyak orang tua masih menganggap gigi susu anak-anak sebagai gigi yang sifatnya sementara dan tidak terlalu penting. Ketika gigi susu rusak atau tanggal lebih awal, sering muncul anggapan bahwa hal itu bukan masalah besar karena nantinya akan digantikan oleh gigi permanen. Padahal, anggapan ini kurang tepat dan dapat berdampak terhadap kesehatan gigi dan mulut anak di masa depan.
Kesehatan gigi dan mulut memiliki peran yang penting dalam tumbuh kembang dan kesejahteraan anak. Gigi susu tidak hanya berfungsi untuk mengunyah makanan, tetapi juga berperan dalam menjaga estetika wajah, membantu perkembangan bicara, serta mengarahkan posisi dan pertumbuhan gigi permanen. Kehilangan gigi susu secara dini dapat menyebabkan pergeseran gigi, gangguan perkembangan rahang, dan maloklusi, yang pada akhirnya memerlukan perawatan ortodontik yang lebih kompleks dan berbiaya tinggi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknnologi dalam bidang ilmu kedokteran gigi anak, terdapat suatu tindakan preventif yang dikenal sebagai space maintainer. Alat ini dirancang untuk mempertahankan ruang gigi yang hilang akibat tanggalnya gigi susu sebelum waktunya, sehingga gigi permanen pengganti dapat tumbuh pada posisi yang seharusnya. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa penggunaan space maintainer secara tepat dapat mengurangi risiko maloklusi serta menurunkan kebutuhan perawatan ortodontik di kemudian hari. Namun, meskipun manfaatnya jelas dan telah lama digunakan, space maintainer masih belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia.
Salah satu penyebab utama rendahnya pemanfaatan space maintainer adalah kurangnya pengetahuan orang tua serta masih kuatnya kepercayaan bahwa masalah gigi anak akan terselesaikan dengan sendirinya seiring pertumbuhan gigi permanen. Banyak orang tua memilih untuk menunggu tanpa menyadari bahwa periode menunggu tersebut justru dapat memperburuk kondisi gigi dan rahang anak. Akibatnya, berbagai pilihan perawatan preventif sering kali terabaikan.
Persepsi orang tua memegang peranan penting dalam menentukan apakah anak akan memperoleh perawatan gigi secara tepat waktu. Ketika kehilangan gigi dini dianggap hal yang wajar, kunjungan ke dokter gigi sering kali hanya dilakukan saat anak mengalami nyeri atau keadaan darurat. Di era digital, kondisi ini semakin kompleks karena orang tua cenderung mencari informasi melalui media sosial, forum daring, atau situs kesehatan yang belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Misinformasi yang beredar dapat memengaruhi pengambilan keputusan dan menunda penanganan yang sebenarnya diperlukan.
Indonesia, sebagai negara dengan lebih dari 17.000 pulau dan ratusan kelompok etnis, menghadapi tantangan yang unik dalam upaya peningkatan kesehatan gigi anak. Perbedaan tingkat pendidikan, kondisi sosial ekonomi, akses terhadap layanan kesehatan gigi, serta latar belakang budaya menyebabkan tingkat kesadaran orang tua sangat bervariasi. Di wilayah perkotaan, akses terhadap dokter gigi anak dan informasi kesehatan relatif lebih baik. Sebaliknya, di daerah pedesaan dan terpencil, masih banyak orang tua yang belum mengenal space maintainer atau memahami pentingnya perawatan gigi preventif bagi anak.
Program kesehatan gigi nasional di Indonesia telah memberikan kontribusi besar dalam edukasi kebersihan gigi dan pencegahan karies pada anak usia sekolah. Namun, edukasi mengenai kehilangan gigi dini, space maintainer, dan ortodontik interseptif masih belum banyak disosialisasikan. Hal ini menciptakan kesenjangan pengetahuan di tingkat masyarakat dan tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan gigi dalam memberikan perawatan yang komprehensif.
Kesadaran dan pengetahuan orang tua merupakan fondasi utama dalam membentuk perilaku pencarian layanan kesehatan anak. Ketika orang tua memahami bahwa gigi susu memiliki peran penting dan perlu dirawat dengan serius, mereka akan lebih siap mengambil keputusan yang tepat demi kesehatan anak. Dengan edukasi yang sesuai konteks dan mudah dipahami, diharapkan orang tua dapat lebih proaktif dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut anak sejak dini.
Pada akhirnya, menjaga gigi susu bukan hanya tentang mempertahankan gigi sementara, tetapi tentang melindungi kualitas hidup anak di masa depan. Senyum sehat yang dimulai sejak dini adalah investasi jangka panjang yang nilainya tidak ternilai.
Penulis: Prof. Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG. Subsp, KE(K)
Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Aishwarya Kumbhar, Bhagyashree Thakur, Dian Agustin Wahjuningrum, Suraj Arora, Krishna Prasad Shetty, Alexander Maniangat Luke, Mohmed Isaqali Karobari and Ajinkya M. Pawar. [2026] Indonesian parental knowledge, attitudes, and sources of information regarding pediatric space maintainers: a crosssectional questionnaire-based study.





