51动漫

51动漫 Official Website

Menilik Peran dan Tantangan Zakat dalam Menyukseskan Program SDGs

Potret Bayu Are Fianto, SE., MBE., Ph.D. selaku ketua SDGs 51动漫 ketika sedang memaparkan materinya pada Sabtu (02/03/2024). (Foto: Naufal Hilmi F.)
Potret Bayu Are Fianto, SE., MBE., Ph.D. selaku ketua SDGs 51动漫 ketika sedang memaparkan materinya pada Sabtu (02/03/2024). (Foto: Naufal Hilmi F.)

UNAIR NEWS – Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan serangkaian tujuan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) guna mencapai kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi seluruh umat. Indonesia sendiri menjadi salah satu negara di dunia yang terus menggaungkan dan mendukung program SDGs. 

Dalam sambutannya pada Seminar Zakat & LMI Award yang terselenggara di Aula Soepoyo (FEB) 51动漫 (UNAIR) pada Sabtu (02/03/2024), Agung Witjaksono selaku Presiden Direktur Laznas LMI menyebutkan bahwa islam sendiri memiliki peranan penting dalam mewujudkan program SDGs ini lewat metode zakat. Namun, bagaimana hubungan antara zakat dengan SDGs sendiri? Dan kendala apa yang dihadapinya? Mari mendalami bersama terkait permasalah tersebut.

Zakat merupakan salah satu dari lima pilar utama dalam agama islam dan merupakan kewajiban keuangan yang dikenakan kepada umat muslim yang mampu untuk membersihkan harta seseorang dari sifat-sifat negatif seperti kekikiran dan keserakahan. Bayu Arie Fianto SE MBA PhD selaku ketua SDGs UNAIR menjelaskan bahwa zakat sendiri dapat berkontribusi mewujudkan program SDGs lewat skema Islamic Social Justice (ISF).

淚slamic Social Justice ini adalah upaya umat islam untuk memastikan adanya keadilan sosial yang berlaku di masyarakat. Setidaknya ada 4 cara bagaimana zakat ini bisa mewujudkan SDGs. Yang pertama adalah membantu menstabilkan perekonomian individu berpenghasilan rendah dan bisnis kecil, memberi bantuan secara finansial bagi yang membutuhkan, menyediakan bantuan pendidikan dan kesehatan, dan mempromosikan kesejahteraan masyarakat melalui Baitul Maal, ujar Bayu. 

Sebagai contoh, Bayu juga menjelaskan bahwa Kuwait adalah negara yang sukses menerapkan skema zakat sebagai sarana mewujudkan program SDGs tersebut. Kuwait sendiri tercatat berhasil mengirimkan zakat mereka ke negara lain karena dinilai memiliki kelebihan zakat yang cukup besar. 

Tidak bisa dipungkiri, banyak umat islam yang masih menganggap bahwa zakat ini bukanlah hal yang penting meskipun menjadi salah satu bagian dari rukun islam. Banyak asumsi liar yang berkembang di masyarakat bahwa zakat yang mereka berikan akan disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Padahal seperti yang dijelaskan oleh Bayu sebelumnya, zakat sendiri bisa membantu mewujudkan program SDGs ini. 

Zaman sekarang banyak sekali yang beranggapan bahwa hanya shalat saja yang penting. Padahal zakat sendiri menjadi rukun islam yang ketiga. Dan dari mereka juga masih banyak yang tidak bisa mempercayai adanya lembaga zakat dan akan dikemanakan uang zakat mereka nanti, ujar Bayu.

Melihat tantangan tersebut, Bayu juga menegaskan bahwa lembaga zakat yang ada di Indonesia harus diisi oleh kaum akademis dan lulusan-lulusan terbaik yang ada di Indonesia. Hal tersebut harus segera diupayakan agar lembaga zakat dapat menciptakan peluang dan ide baru guna menarik minat masyarakat membayar zakat dan mendukung program SDGs.

Penulis: Naufal Hilmi F

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT