Rheumatoid arthritis atau yang biasa disingkat dengan RA adalah Salah satu penyakit auto imun yang ditandai dengan peradangan pada persendian (biasanya tangan dan kaki) sehingga menimbulkan pembengkakan dan nyeri, bahkan sering menimbulkan kerusakan pada bagian dalam persendian. Di dunia, prevalensi RA berkisar 0,5-1%, dengan rasio perempuan lebih tinggi daripada laki-laki sebanyak 3 banding 1. Patogenesis RA melibatkan respons imun seluler dan humoral yang abnormal. Beberapa sel dan sitokin memegang peranan penting dalam perkembangan RA. Salah satu yang perlu kita ketahui adalah keterlibatan jalur rantai inflamasi pada RA ini diawali dengan adanya penumpukan mediator inflamasi, yang akan meningkatkan infiltrasi leukosit ke dalam cairan sinovial. Keadaan inilah yang akan memicu aktivasi sistem imun bawaan dimana akan diikuti oleh sistem imun adaptif seperti sel T dan sel B.
Pengobatan RA saat ini sering dilakukan dengan menggunakan obat obatan NSAID dan kortikosteroid. Meskipun dapat mengurangi gejala, pengobatan ini memiliki tingkat efek samping yang tinggi. Hal inilah yang mendasari penelitian terkait pencarian bahan obat dari alam yang dapat mengobati RA. Mengapa dari alam, karena sejak jaman nenek moyang kita, tanaman obat memberikan dampak yang positif bagi pengembangan obat di dunia dalam mengatasi berbagai permasalahan kesehatan. Pada penelitian ini, dilakukan pengujian antiinflamasi pada tanaman asli Indonesia yaitu temu giring, Curcuma heyneana, sehingga nantinya dapat digunakan sebagai pengobatan alternatif RA. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa hingga saat ini, penelitian mengenai tanaman temu giring untuk pengobatan RA masih terbatas.
Rimpang temu giring diekstraksi dengan cara maserasi dengan etanol yang kemudian dilanjutkan dengan proses fraksinasi menggunakan berbagai pelarut organik dengan tingkat polaritas yang berbeda beda yaitu n-heksana, etil asetat, dan n-butanol. Pengujian aktivitas antiinflamasi secara in-vitro ditentukan dengan 3 metode pengujian yaitu hemolisis yang diinduksi panas, efek pada denaturasi protein, dan penghambatan siklooksigenase (COX). Dari ekstrak etanol dan ketiga fraksi C. heyneana, fraksi etil asetatlah yang menunjukkan aktivitas antiinflamasi terbaik.
Penambatan secara molecular dari senyawa senyawa utama yang diduga dimiliki oleh ekstrak temu giring ini dilakukan dengan perangkat lunak AutoDock Vina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa fraksi C. heyneana mengandung terpenoid, flavonoid, dan alkaloid. Fraksi etil asetat menunjukkan aktivitas antiinflamasi tertinggi, yang dikaitkan dengan keberadaan kurkuminoid.
Di antara beberapa senyawa kurkuminoid yang terdeteksi dalam fraksi etil asetat temu giring, potensi terbaik sebagai antiinflamasi melalui penghambatan enzim COX-2 ditunjukkan oleh senyawa demetoksikurkumin. Hal ini didasarkan pada uji penambatan secara molekular pada senyawa demetoksikurkumin terhadap enzim COX-2.
Temuan ini menunjukkan bahwa tanaman obat C. heyneana, khususnya fraksi yang kaya akan kandungan senyawa kurkuminoid yang sebelumnya tidak dilaporkan, memiliki potensi sebagai agen antiinflamasi alami. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi potensi terapeutik tanaman ini dalam pengelolaan RA dan gangguan inflamasi lainnya.
Untuk informasi yang lebih lengkap dapat dilihat pada artikel aslinya dengan judul:
Anti-inflammatory potential of Curcuma heyneana: An in vitro and in silico investigation, pada tautan berikut ini:
Ditulis oleh Melanny Ika Sulistyowaty





