Budidaya ikan laut bernilai tinggi, seperti kerapu, menjadi salah satu primadona sektor akuakultur Indonesia. Tapi tahukah kalian bahwa tidak semua jenis kerapu memberikan keuntungan yang sama?
Sebuah studi terbaru dari tim peneliti IPB University dan 51动漫 mencoba menjawab pertanyaan sederhana namun penting: jenis kerapu mana yang paling menguntungkan untuk dibudidayakan di fase pembesaran (nursery)? Dalam studi ini, mereka menguji tiga jenis kerapu yang umum dibudidayakan di Indonesia:
- Kerapu sunu merah (Plectropomus leopardus)
- Kerapu tikus (Cromileptes altivelis)
- Kerapu bebek (Epinephelus fuscoguttatus)
Selama 90 hari, ketiganya dibudidayakan di kolam semen berisi air laut di pesisir Bali, dengan perlakuan budidaya yang sama. Hasilnya cukup menarik!
Kerapu Bebek: Cepat Tumbuh, Tapi Boros Pakan
Dari sisi pertumbuhan, kerapu bebek jadi juara. Kerapu bebek tumbuh paling cepat dan memiliki tingkat kelangsungan hidup tertinggi (lebih dari 80%). Artinya, dari 400 ekor yang ditebar, sebagian besar berhasil hidup sampai akhir pemeliharaan.
Namun, keunggulan ini dibayar mahal: kerapu bebek membutuhkan pakan paling banyak. Feed Conversion Ratio (FCR)-nya tertinggi di antara ketiganya, yaitu 2,81. Ini berarti efisiensi pakan rendah, yang berdampak langsung pada biaya produksi.
Kerapu Sunu Merah: Pilihan Paling Menguntungkan
Meski tumbuh sedikit lebih lambat dan lebih sensitif terhadap lingkungan, kerapu sunu merah justru memberi keuntungan finansial paling tinggi. Harga jualnya mahal, efisiensi pakannya paling baik (FCR = 2,00), dan waktu balik modal paling cepat (hanya 1,5 tahun).
Secara keseluruhan, ia mencatat:
- Laba bersih tertinggi
- Nilai investasi paling tinggi (NPV = US$ 63.609)
- Tingkat pengembalian investasi (IRR) hingga 89,4%
Dengan manajemen air dan pakan yang baik, kerapu sunu merah sangat menjanjikan, terutama untuk petani yang mengincar pasar premium.
Kerapu Tikus: Di Tengah-Tengah, Tapi Kurang Kompetitif
Kerapu tikus menempati posisi tengah: tidak terlalu cepat tumbuh, tidak terlalu efisien pakannya, dan harga jualnya juga sedang. Untuk petani skala kecil atau pemula, jenis ini bisa jadi opsi yang aman, tapi tidak unggul secara ekonomi dibanding dua saudaranya.
Apa Pelajaran bagi Mahasiswa dan Akademisi?
Bagi kita yang berkecimpung di dunia akuakultur, penelitian ini memberi pelajaran penting: keputusan memilih jenis ikan untuk dibudidayakan harus berdasarkan data, bukan sekadar tren pasar.
Kita perlu mempertimbangkan:
- Efisiensi pakan (FCR)
- Tingkat kelangsungan hidup
- Biaya produksi dan harga jual
- Sensitivitas terhadap lingkungan
Pendekatan ini sangat penting tidak hanya untuk keberhasilan teknis, tetapi juga untuk keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.
Penutup: Budidaya ikan adalah Ilmu, Tapi Juga Strategi
Budidaya ikan bukan sekadar urusan air dan pakan. Ia adalah kombinasi dari ilmu pengetahuan, manajemen biaya, dan strategi pasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa kerapu sunu merah adalah pilihan paling menjanjikan secara ekonomi, meski butuh perhatian lebih dalam pengelolaannya. Sementara itu, kerapu bebek bisa jadi pilihan bagi yang ingin produksi cepat dengan biaya lebih hemat per ekor.
Oleh: Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si.
Semoga hasil riset ini bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa, peneliti muda, dan petani ikan yang ingin mengembangkan usaha budidaya kerapu berbasis data dan keberlanjutan
(Astari et al., 2025)
Astari, B., Budi, D.S., Ismi, S., Effendi, I., Budiardi, T., Diatin, I., Vinasyiam, A., Sugama, K., 2025. Culture performance and financial business of leopard coral (Plectropomus leopardus), humpback (Cromileptes altivelis), and brown-marbled (Epinephelus fuscoguttatus) grouper nursery. Aquac. Reports 43, 102923. https://doi.org/10.1016/j.aqrep.2025.102923





