Indonesia memiliki risiko bencana alam yang tinggi. Provinsi Jawa Timur, wilayah yang berada di zona aktif gempa dan letusan gunung berapi, juga memiliki potensi bencana yang beragam. Gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor menjadi ancaman yang sering terjadi. Namun dampak bencana terhadap kesehatan mental dan psikososial masyarakat penyintas seringkali diabaikan. Padahal masyarakat penyintas bencana memiliki potensi dan prevalensi gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi. Sehingga menyiapkan kapasitas dukungan kesehatan mental dan psikososial diperlukan untuk membangun resiliensi masyarakat yang hidup di lokasi risiko tinggi bencana.
Mengapa Kesehatan Mental Penting Saat Bencana
Saat bencana terjadi, trauma yang dirasakan bisa sangat berat. Para penyintas bisa kehilangan keluarga, rumah, pekerjaan, dan rasa aman mereka. Reaksi yang muncul bisa berupa stres berat, kecemasan, kesedihan, bahkan gangguan psikologis jangka panjang seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dan depresi. Jika tidak segera ditangani, dampak ini bisa menetap selama bertahun-tahun.
Selama ini, dukungan kesehatan mental di Indonesia baru diberikan setelah bencana terjadi. Namun kini muncul kesadaran bahwa perhatian terhadap kesehatan mental harus menjadi bagian dari pencegahan, bukan hanya pemulihan.
Program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia merupakan upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas. Desa-desa yang mengikuti program ini mendapatkan pelatihan dan sumber daya untuk menghadapi bencana. Sayangnya fokus utama program masih pada kesiapan fisik dan ekonomi, aspek kesehatan mental belum disentuh di modul Destana yang telah ada.
Suara dari Komunitas
Destana memiliki Forum Pengurangan Bnecana tingkat desa atau kelurahan yang terdiri dari perwakilan desa攖okoh masyarakat, pemuda, perempuan, dan aparatur desa. Hasil penelitian partisipatif di 20 Destana di Jawa Timur yang dilakukan oleh Fakultas Psikologi 51动漫 dan Pusat Krisis dan Pengembangan Komunitas menggali tentang dampak bencana terhadap kesehatan mental; sumber dukungan yang tersedia di komunitas mereka; dan cara mengintegrasikan dukungan mental ke dalam perencanaan bencana
Di semua desa, masyarakat menggambarkan berbagai reaksi psikologis setelah kejadian bencana seperti ketakutan, rasa bersalah, sulit tidur, menarik diri dari lingkungan, bahkan gejala fisik seperti sakit kepala dan kelelahan. Selain itu di aspek sosial, masyarakat sering kali kehilangan rutinitas sehari-hari, seperti anak-anak tidak dapat sekolah, kegiatan masyarakat yang ditiadakan, dan kesulitan untuk mengakses dukungan sosial.
Siapa yang Bisa Membantu?
Berbagai pihak dapat memberikan dukungan kesehatan mental dan psikososial saat bencana, seperti layanan kesehatan (puskesmas dan rumah sakit jiwa); Pemerintah lokal, dari tingkat desa hingga kota; Tokoh masyarakat (guru, pemuka agama, organisasi pemuda); serta Keluarga dan tetangga, sebagai sumber dukungan terdekat. Masyarakat lebih nyaman mendapatkan bantuan dari orang-orang yang mereka kenal dibanding dari luar. Selain itu, kegiatan sosial seperti doa bersama, seni, senam, atau ngobrol santai, sangat membantu pemulihan emosi.
Model Baru Kesiapsiagaan Bencana
Strategi menyeluruh tentang integrasi dukungan kesehatan mental dan psikososial dapat diaplikasikan di tiap-tiap siklus manajemen bencana. Di tahap pra-bencana masyarakat dapat melakukan edukasi kesehatan mental, pelatihan Psychological First Aid, kegiatan yang memperkuat jaringan sosial. Pada saat bencana, Psychological First Aid dapat langsung diberikan oleh relawan desa yang sudah terlatih. Pada tahap pasca-bencana, dapat dilakukan pendampingan psikososial berkelanjutan, mengembalikan rutinitas dan kegiatan masyarakat, serta menyediakan ruang aman untuk berkegiatan, termasuk sekolah darurat dan kegiatan untuk semua usia. Strategi ini juga harus menghargai kearifan lokal yang ada di masyarakat.
Bencana adalah bagian dari kehidupan di Indonesia攖etapi kesiapsiagaan terhadap bencana dapat dibangun. Dengan menjadikan kesehatan mental sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, resiliensi komunitas terhadap bencana akan semakin kuat. Destana juga membutuhkan dukungan kebijakan, pelatihan, dan pengakuan bahwa ketangguhan mental sama pentingnya dengan ketahanan fisik.
Seiring perubahan iklim yang memperparah frekuensi bencana, kini saatnya kita membangun daya tahan攂ukan hanya pada bangunan fisik, tapi juga pada keseahatan mental dan psikososial manusia.
Penulis: Bani Bacan Hacantya Yudanagara, S. Psi., M. Si.
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





