Studi ini bertujuan untuk memahami dan menganalisis praktik kepenggemaran pada female fandom online K-Drama yang dibentuk oleh ibu rumah tangga urban di media sosial Facebook dan Whatsapp. Metode penelitian ini adalah Etnografi Internet, dengan Female Fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor sebagai subjek kajian. Dalam penelitian ini, penulis memposisikan diri sebagai aca-fan. Selain sebagai akademisi yang melakukan penelitian, Penulis juga merupakan penggemar K-Drama yang tergabung dalam Female fandom online Drama mama dan Mamak Ngedrakor.
Dalam melalukan pengumpulan data penulis menggunakan strategi observasi partisipan, selain itu mengkaji interaksi online pada grup facebook dan whatsapp serta melakukan wawancara kepada 10 orang anggota dari female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor. Penulis memadukan tiga teori sebagai landasan dalam penelitian ini yaitu teori modal subkultur yang dikemukakan oleh Thornton (1995), teori female fandom online yang dikemukakan oleh Bury (2005), dan teori digital Fandom yang dikemukakan oleh Booth (2017). Tiga teori ini digunakan untuk mengalisis modal-modal subkultur yang dimiliki dan digunakan oleh perempuan penggemar K-Drama dalam mengembangkan subkultur penggemar, identitas yang terbangun melalui aktifitas penggemar serta bagaimana posisi teknologi media digital, internet dan media sosial sebagai basis aktifitas penggemar.
Untuk memaparkan hasil penelitian dan analisis, penulis membagi hasil penelitian dalam empat sub bab. Sub bab K-Drama dan Female Fandom Online menggambarkan hasil temuan dan analisis penelitian berkaitan dengan perkembangan K-drama di Indonesia, alasan K-drama disukai oleh penonton perempuan dan sejarah terbentuknya Female Fandom Online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor selain itu juga penulis memaparkan Female Fandom Online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor sebagai ruang private, bersyarat dan menjadi sebuah ruang yang dirasakan aman dan nyaman bagi anggotanya dari dual stigma, peran ibu rumah tangga, konstruksi budaya dan beban
perempuan yang menjalankan multi peran . Pada sub bab pleasure ibu rumah tangga urban sebagai penggemar K-Drama penulis memaparkan temuan-temuan penelitan dan analisisnya terkait dengan bentuk-bentuk pleasure yang dilakukan bersama oleh anggota Drama Mama dan Mamak Ngerdrakor seperti pola menonton K-Drama, Kopdar, Ngekost dan Ngetrip serta roti sobek oppa yang mereka nikmati bersama. Pada sub bab praktik kolaboratif penggemar K-drama berbasis modal subkultur dan teknologi digital penulis memamparkan mengenai praktik-praktif kolaboratif yang dilakukan oleh anggota Drama Mama dan Mamak Ngedrakor dengan menggunakan media digital yang dipadukan dengan modal subkultur yang mereka miliki seperti latar belakang pendidikan, profesi, keterampilan menggunakan media digital serta pengalaman sebagai aktifis dan relawan.
Pada sub bab Ibu Berdaya penggemar K-Drama: Sebuah Identitas, penulis memaparkan identitas yang terbangun melalui berbagai prakti penggemar dan aksi-aksi kolaboratif yang dilakukan oleh ibu rumah tangga urban sebagai penggemar K-Drama. Secara keseluruhan temuan diperoleh melalui penelitian ini yaitu Ibu rumah tangga urban membentuk female fandom online K-Drama didasari pada minat, hasrat mencari informasi dan berbagi informasi sebagai penggemar K-Drama. Female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor menjadi 淪pace untuk release stress dari tuntutan perempuan dengan multi peran serta menjadi ruang bagi anggotanya bebas dari stigma penggemar K-Drama yang agresif dan mengutamakan rasa emosial yang berlebihan pada idolanya, bebas dari label yang melekat sebagai ibu rumah tangga, sebagai perempuan yang berkarier dan sebagai perempuan berhijab.
Dalam 渞uang lain ini rasa kepenggemaran mereka divalidasi melalui interaksi, penerimaan dan rasa solidaritas sebagai sesama ibu rumah tangga penggemar K-Drama. Selain sebagai ruang kepenggemaran, female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor menjadi ruang untuk berdaya dengan modal subkultur yang mereka miliki melalui berbagai rubric grup, webinar dan produksi konten edukatif. Hasil temuan menujukkan bahwa modal subkultur yang dimiliki oleh Ibu rumah tangga urban adalah status sosial sebagai ibu, latar belakang pendidikan, profesi, keterampilan dalam menggunakan berbagai aplikasi pada media digital, pengalaman sebagai relawan pada organisasi yang kemudian dipadukan dengan minat mereka pada K-Drama. Modal subkultur yang dimiliki oleh Ibu rumah tangga urban tidak hanya sebagai penanda fandom mereka berbeda dengan fandom
K-Drama yang lain, namun lebih dari itu modal subkulut yang mereka miliki digunakan sebagai sumber daya untuk pemberdayaan subkultur yang mereka bangun. Proposisi ini juga sejalan teori modal subkultural yang dipahami sebagai pengetahuan dan komoditas kultural yang diperoleh oleh anggota subbudaya. Hal ini meningkatkan status mereka dan membantu membedakan diri mereka dari anggota kelompok lain. Melalui interaksi, kreatifitas, aksi kolaboratif dan pemberdayaan berbasis teknologi digital yang dilakukan ibu rumah tangga urban penggemar K-Drama terbangun identitas kelompok Female Fandom Online ibu berdaya penggemar K-Drama. Drama Mama dan Mamak Ngedrakor membentuk identitas sebagai emak-emak penggemar K- Drama dengan menciptakan dan menggunakan bahasa emak-emak dalam subkultur mereka, merefleksikan topik K-Drama dengan peran sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.
Di sisi lain identitas sebagai perempuan urban yang berpendidikan dibangun dengan mempertahankan nilai dan aturan bersama yang berlaku dalam subkultur. Identitas dikembangkan dalam konteks kelompok dengan menawarkan berbagai jenis sumber daya, sistem nilai dan kebutuhan kelompok untuk membangun dan menegaskan identitas. Secara bersamaan praktik-praktik kepenggemaran yang mereka lakukan termasuk pemberdayaan melalui aktifitas kolaboratif membentuk identitas subkultur ibu berdaya penggemar K-Drama. Posisi Media digital digunakan sebagai kebutuhan ibu rumah tangga urban untuk membangun subkultur secara online, mempertahankan keberadaan mereka dalam subkultur penggemar K-Drama dan kelangsungan hidup subkultur itu sendiri. Internet dianggap sebagai 渏antung yang menjalankan kehidupan female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor. Selain itu media sosial beserta fitur-fitur yang ditawarkan oleh media digital ditambah dengan keterampilan ibu rumah tangga urban dalam mengakses, menggunakan fitur-fitur tersebut menjadi pendukung dalam praktik kepenggemaran dan pemberdayaan dalam subkultur yang mereka bangun. Dari hasil penelitian dapat dikatakan bahwa posisi media digital digunakan sebagai kebutuhan ibu rumah tangga urban untuk membangun subkultur secara online, mempertahankan keberadaan mereka dalam subkultur penggemar K-Drama dan kelangsungan hidup subkultur itu sendiri. Media berperan penting dalam pembangunan makna dan subkultur dan bahwa proses perkembangan teknologi informasi dan teknologi menjadi pondasi dibangunnya 渟pace di dunia siber dan komunitas online khusus perempuan. Selain itu juga dalam teori digital Fandom bahwa penggemar mempengaruhi dan dipengaruhi oleh teknologi bukan hanya sebagai alat tapi sebagai kebutuhan. Penggemar menggunakan teknologi digital bukan hanya untuk membuat, merubah, memburu, tapi juga untuk berbagi dan membuat pengalaman bersama dan hidup dalam komunitas. Dengan basis teknologi digital female fandom online Drama Mama dan Mamak Ngedrakor dibangun dan mereka hidup bersama didalamnya.
Penulis: Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA.,PhD,Novaria Maulina, IGAK Satrya Wibawa
DOI:





