UNAIR NEWS – Divisi hubungan masyarakat (humas) menjadi ujung tombak dalam menjaga citra institusi di mata publik. Reputasi sebuah institusi sangat bergantung pada peran divisi humas dalam membangun relasi dengan publik. Karena itu, staf humas harus mumpuni dengan memiliki kemampuan komunikasi dan relasi yang sesuai tuntutan zaman.
Dalam upaya memenuhi kemampuan tersebut, Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, 51动漫 (UNAIR), yang bekerja sama dengan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Surabaya mengadakan Pelatihan Humas dan Keprotokolan Perguruan Tinggi di Aula Amerta, Kampus C, UNAIR, Selasa (24/10).
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan mengenai dunia kehumasan dalam memperhatikan keterampilan teknis yang biasanya dilupakan. 滵unia keprotokolan sangat kompatibel. Kesalahan kecil bisa berdampak fatal bila diabaikan. Ini menjadi pertaruhan humas karena berhubungan dengan citra, ucap Dra. Liestianingsih Dwi D. M.Si. selaku penanggung jawab acara tersebut.
Pelatihan pada 23-25 Oktober itu akan membahas dunia keprotokolan dan media relation. Humas harus memiliki pengetahuan yang lebih pada perkembangan era keterbukaan seperti saat ini. Perkembangan yang begitu cepat mengharuskan humas bisa responsif menyikapi masalah. Peserta dalam pelatihan tersebut berasal dari perwakilan humas fakulas dan unit se-UNAIR serta anggota Perhumas Surabaya
Suko Widodo, ketua Humas UNAIR, dalam acara tersebut menyebutkan bahwa publik saat ini telah menjadi produser informasi. Masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tapi juga sudah bisa memproduksi atau menggandakan informasi. Menurut dia, humas harus memiliki bekal pengetahuan yang cukup dalam menyikapi era keterbukaan. 滺umas saat ini harus berbasis riset dan teknologi informasi, ucapnya.
Menurut Suko, masih banyak lembaga yang kurang memahami tugas-tugas kehumasan. Terlebih, pada era digital saat ini, humas dituntut bisa responsif dalam menyikapi masalah. Padahal, peran humas sangat krusial dalam berkontribusi memajukan suatu institusi, bukan dianggap seperti tameng.
Aris Agung Paewai, kepala bagian Protokoler Pemerintah Jawa Timur, menyampaikan hal serupa. Menurut dia, humas harus memiliki pengetahuan yang tinggi. Selain mengikuti peraturan undang-undang yang berlaku, protokol harus fleksibel dan tetap general. Artinya, protokol harus bisa memosisikan diri untuk bisa menciptakan kenyamanan dalam satu acara. 漇elain itu harus tegas serta berkoordinasi yang menjadi hal penting selanjutnya untuk meminimalkan miskomunikasi, ungkapnya.
Diharapkan, pelatihan itu menjadi pertemuan pertama yang menjadi sarana diskusi antarhumas di Surabaya.
淭idak hanya Surabaya, ke depan, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi embrio untuk perkumpulan humas perguruan tinggi se-Jawa Timur, ucap Suko yang juga dosen Ilmu Komunikasi, FISIP, UNAIR. (*)
Penulis: Helmy Rafsanjani
Editor: Feri Fenoria





