UNAIR NEWS Kehadiran platform digital dan media sosial turut menggeser penggunaan bahasa Indonesia di media massa. Hal ini berakibat pada menurunnya fungsi bahasa sebagai identitas bangsa. Isu tersebut menjadi pembahasan dalam kuliah tamu bertajuk Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa pada Era Digital yang digelar oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya () 51动漫 (UNAIR) pada Rabu (6/4/2026).
Kuliah tamu tersebut menghadirkan Yusuf M Ridho untuk membahas dinamika penggunaan bahasa Indonesia di tengah perkembangan media digital yang semakin pesat. Dalam pemaparannya, Yusuf menegaskan bahwa penggunaan bahasa Indonesia di era digital mulai banyak tergeser oleh istilah-istilah asing.
淪aya heran dengan media-media yang masih sering menggunakan istilah asing dalam artikelnya. Padahal sebenarnya istilah tersebut memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Apakah menurut mereka itu terlihat keren? Tidak sama sekali, ungkapnya.
Identitas Bahasa di Tengah Arus Digitalisasi
Lebih lanjut, Yusuf memaparkan bahwa tuntutan kecepatan media massa dalam menjangkau pembaca secara lebih luas sering kali mendorong penggunaan istilah-istilah asing dalam pemberitaan. Menurutnya, istilah asing lebih praktis dan mudah menarik perhatian masyarakat di era digital meskipun hal tersebut menimbulkan ketidakakuratan makna.
Selain itu, Yusuf turut menyoroti kesalahan penggunaan diksi dalam penulisan berita di media massa. Ia menilai ketepatan pemilihan kata menjadi hal penting karena dapat memengaruhi makna informasi yang disampaikan.
淪elain istilah asing, saya juga sering menemui penulis yang salah menggunakan diksi. Contohnya, peristiwa kecelakaan KAI kemarin. Seharusnya menggunakan kata 榢ecelakaan, bukan 榯abrakan, karena posisi kereta ditabrak dari arah belakang, jelasnya.
Media Massa sebagai Sarana Edukasi
Media massa merupakan sarana edukasi publik yang memiliki peran krusial dalam membentuk pemahaman pembaca terhadap suatu informasi. Pasalnya, masyarakat sering kali menjadikan media massa sebagai rujukan dalam memahami standar penggunaan bahasa yang baik dan benar. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang kurang tepat akan memengaruhi cara masyarakat memahami dan menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Copy editor & redaktur opini Harian Disway tersebut menekankan bahwa media memiliki tugas penting untuk membuktikan penggunaan bahasa Indonesia secara relevan dan lincah mengikuti perkembangan zaman. Tanpa kehilangan martabatnya sebagai identitas bangsa.
Upaya tersebut dapat dimulai melalui kebiasaan-kebiasaan kecil. Seperti menggunakan padanan bahasa Indonesia untuk istilah asing, memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk meminimalisasi kesalahan penggunaan diksi, serta membiasakan penggunaan bahasa Indonesia resmi di media massa dan forum diskusi dengan menyertakan penjelasan terhadap istilah-istilah baru agar pembaca turut belajar.
淒i tengah tuntutan konten yang serba kilat ini, mari kita tetap menjaga wibawa bahasa Indonesia bersama, pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah P.I
Editor: Yulia Rohmawati





