51动漫

51动漫 Official Website

Menjaga Mental Tetap Sehat di Tengah Tuntutan Akademik

Sarasehan Batch 2 BEM FEB UNAIR. (Foto : Tangkapan Layar Zoom Meeting)

UNAIR NEWS – Salah satu tantangan yang dihadapi mahasiswa semasa kuliah adalah tuntutan dalam menghadapi kegiatan akademik maupun non-akademik. Tuntutan itu tak jarang menjadikan tekanan tersendiri bagi mahasiswa. Menghadapi hal itu, menyelenggarakan kegiatan Prabu Adhikari Sarasehan Batch 2 dengan membahas tentang menjaga mental tetap sehat di tengah tuntutan akademik pada Minggu (28/5/2023).

Sarasehan secara daring tersebut merupakan salah satu program kerja Departemen Keilmuan BEM FEB UNAIR. Topik yang diusung dalam program kerja itu beragam, intinya, menyajikan berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan mahasiswa.

Hadir dua pembicara yaitu Athifa Hafizha Putri (Mahasiswa ) dan Ilham Hardina Atmaja (Mahasiswa ). Kedua narasumber tersebut memiliki prestasi yang cukup banyak. Meski demikian, selama menjalani perkuliahan, keduanya tak lepas dari berbagai tekanan dalam berkegiatan akademik maupun non-akademik.

淪elama kuliah pressure itu pasti ada. Maka agar menjaganya untuk tetap stabil kita perlu mempunyai mindset bahwa pressure itu tidak sepenuhnya buruk. Justru akan membawa kita agar berani mengambil kesempatan maupun keputusan, tutur Athifa.

淜别迟颈办补 pressure itu datang, ingat bahwa kita memiliki tujuan. Maka kita harus menjaga konsistensi kita, tambah Ilham.

Kembangkan Potensi

Athifa memberikan tips ketika merasakan lelah dalam menjalani kegiatan di kampus. Yaitu, harus mengingat tujuan yang ingin kita raih. 淛adikan tekanan itu sebagai tantangan bahwa kita bisa menghadapinya, ucapnya.

Ia menambahkan, agar tidak merasa tertekan selama kuliah, maka mahasiswa perlu memilih kegiatan untuk mengembangkan potensi diri. 淢emilih kegiatan yang tepat harus berani untuk mencoba dulu. Cari kegiatan yang bisa mengantarkan kamu ke tujuanmu saat kuliah itu, kata Athifa.

Ilham mengatakan, kita harus mau belajar dari pengalaman. Jika kita mengalami kegagalan, setidaknya kita telah berusaha melakukannya. Kemudian, ketika salah mengambil keputusan, maka sebelum mengambil keputusan harus mengenali diri sendiri. Kemudian, memperluas relasi sosial dengan mahasiswa lain.

淜别迟颈办补 kita salah mengambil keputusan maka kita harus melakukan refleksi. Kita harus tau dimana letak kesalahan kita, agar kedepannya kita dapat melakukan antisipasi, ungkap Athifa.

Ia menambahkan, setiap keputusan memiliki tanggungjawab yang melekat. Jika merasa tidak cocok dengan aktivitas kelompok, maka bukan berarti kita bisa meninggalkan begitu saja.

Mengatasi Fomo

淔omo itu penyakit yang sebenarnya berasal dari diri sendiri yang merasakan kecemasan akan tertinggal dengan orang lain, ungkap Ilham.

Untuk mengatasi fomo, Ilham memberikan beberapa tips. Pertama, motivasi diri. Kita harus percaya bahwa kita memiliki semangat yang membara dalam mengejar tujuan. Kedua, adanya motivasi diri tersebut maka akan menata kepercayaan diri. Kita juga tidak boleh berlebihan dalam percaya diri.

Ketiga, menata sikap positif. Untuk mencapai tujuan maka kita perlu membekali diri dengan sikap positif. Keempat, memiliki ketahanan mental, sebab ini adalah kunci agar kita tidak fomo.

淢embandingkan diri dengan orang lain itu baik. Jika untuk menjadi motivasi diri, jangan sampai berlebihan sehingga tanpa sadar menjadi fomo, tutur Ilham.

Athifa juga menambahkan bahwa agar tidak fomo kita perlu mengingat bahwa tujuan yang diraih setiap orang itu berbeda. Maka dari itu kita perlu memiliki tujuan sendiri agar tidak mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

Mengatasi Burnout

淎dakalanya kita mahasiswa akan merasakan burnout. Maka beri jeda diri untuk beristirahat. Setelah itu kejar lagi apa yang tertinggal selama masa itu, tutur Athifa.

Burnout terjadi karena seseorang memaksakan diri untuk mengejar sesuatu. Pada saat burnout maka kita perlu untuk mengistirahatkan diri. Namun, istirahat bukan berarti mengacuhkan diri dari semua hal, tapi memberikan ruang diri sendiri untuk refreshing.

Pada saat seseorang mengalami burnout tentu akan memberikan dampak bagi orang lain di lingkungannya. Maka dari itu kita perlu melakukan pendekatan seperti mengajak bicara atau memintanya bercerita.

淛ika dalam organisasi ada anggota yang mengalami burnout, di sinilah kepekaan kita diuji. Kita harus mengambil peran untuk menstabilkan pikiran mereka agar pekerjaannya di organisasi dapat kembali optimal, tutur Ilham.

Kemudian agar kita dapat berkomitmen atas waktu kedua narasumber mengatakan bahwa kita perlu menentukan skala prioritas dan manajemen waktu. Manajemen waktu akan memberikan dampak positif terhadap keproduktifitasan seseorang. Namun kebiasaan menunda juga akan dapat merusak manajemen waktu yang sudah dibuat. (*)

Penulis : Nova Dwi Pamungkas

Editor : Binti Q Masruroh

AKSES CEPAT