Pembangunan berkeberlanjutan (sustainable development) merupakan salah satu isu yang paling penting di abad ke-2, terutama karena kebutuhan akan solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia, tetapi juga menjaga keseimbangan alam. Dalam beberapa tahun belakangan, masyarakat telah memulai berbagai kebiasaan yang mencerminkan kepedulian dengan lingkungan melalui tindakan sederhana seperti menghemat air, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, hingga memilah sampah.
Kesadaran ini telah memunculkan tren baru dalam dunia bisnis, yaitu wirausaha hijau. Istilah kewirausahaan hijau mengacu pada pengusaha yang mampu melihat peluang baru di pasar dan memanfaatkan ide-ide inovatif mereka untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan. Kewirausahaan hijau adalah konsep bisnis yang berfokus pada pengembangan produk atau layanan ramah lingkungan, memanfaatkan sumber daya terbarukan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Berbeda dengan kewirausahaan tradisional, kewirausahaan hijau tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga berupaya memberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial.
Negara-negara di seluruh dunia terus mendorong kewirausahaan hijau sebagai upaya untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan ekonomi, pembangunan sosial, dan pelestarian lingkungan. Indonesia menunjukkan komitmennya terhadap ekonomi hijau melalui partisipasinya dalam inisiatif Partnering for Green Growth and the Global Goals (P4G), yang mencakup upaya untuk mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi digital-hijau dalam mewujudkan visi 淩ecover Together, Recover Stronger. Masyarakat Indonesia juga memperlihatkan antusiasme yang tinggi terhadap kewirausahaan hijau. Di tengah tantangan seperti degradasi lingkungan, pemanasan global, dan perubahan iklim, kewirausahaan hijau hadir sebagai solusi yang memungkinkan wirausahawan untuk berkontribusi pada keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan sosial. Pendekatan ini tidak hanya membantu menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis yang menguntungkan bagi para pelaku usaha dan komunitasnya.
Islam dan Isu Keberlanjutan
Keberlanjutan lingkungan merupakan salah satu pesan utama dalam ajaran Islam, yang berakar pada prinsip menjaga keseimbangan alam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam pandangan Islam, perhatian terhadap lingkungan sejalan dengan Maqasid al-Shariah, yaitu tujuan utama dari hukum Islam yang bertujuan melindungi dan meningkatkan kesejahteraan umat manusia.
Islam mengajarkan pentingnya memanfaatkan sumber daya alam secara bertanggung jawab, menghindari eksploitasi berlebihan, serta melarang segala bentuk penyalahgunaan yang merusak keseimbangan alam. Ketidakseimbangan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memengaruhi kebutuhan dasar manusia, khususnya pada aspek dharuriyah yang sangat penting bagi kehidupan. Untuk menghadapi tantangan ini, diperlukan penafsiran syariat yang progresif dan relevan dengan persoalan lingkungan saat ini.
Islam juga mendorong keterlibatan umatnya dalam aktivitas produktif, termasuk kewirausahaan, dengan syarat semua transaksi bisnis mengikuti prinsip-prinsip Islam. Seorang wirausahawan Muslim tidak hanya bertujuan mencari keuntungan, tetapi juga berusaha mendapatkan keridhaan Allah dengan mematuhi etika, menjalankan kewajiban agama, dan berkontribusi pada kemaslahatan masyarakat. Melalui pendekatan ini, kewirausahaan menjadi sarana untuk mendukung tujuan Islam yang lebih besar, yaitu menciptakan kesejahteraan bersama.
Peran Universitas dalam Pengembangan Kewirausahaan Hijau
Sejalan dengan tren global, perguruan tinggi kini tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Banyak kampus mulai aktif mendukung program-program yang meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan dan mendorong lahirnya wirausaha berbasis keberlanjutan. Kegiatan mahasiswa pun semakin dipenuhi oleh semangat untuk berkontribusi terhadap solusi isu-isu lingkungan, menjadikan kampus sebagai pusat inovasi bagi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia kini memiliki peluang besar untuk mengembangkan potensi kewirausahaan mereka melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Program MBKM menempatkan kewirausahaan sebagai elemen penting dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan era Revolusi Industri 4.0. Dalam program ini, mahasiswa tidak hanya diberikan bekal pengetahuan dasar melalui mata kuliah wajib kewirausahaan, tetapi juga diberi kebebasan memilih spesialisasi yang lebih menarik dan memotivasi untuk mendalami dunia usaha. Kebijakan ini lahir dari kesadaran akan kebutuhan mendesak untuk menghadapi isu-isu besar abad ke-21, termasuk pembangunan berkelanjutan. Tantangan seperti perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menjadi salah satu persoalan paling kompleks di era modern, sehingga membekali generasi muda dengan keterampilan kewirausahaan dianggap sebagai langkah strategis untuk menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan.
Perguruan tinggi, khususnya kampus Islam, memainkan peran strategis dalam membentuk generasi wirausahawan hijau. Berdasarkan penelitian terbaru, dukungan universitas memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi wirausahawan hijau. Namun sayangnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan universitas di Indonesia belum sepenuhnya mampu meningkatkan niat wirausaha hijau mahasiswa secara langsung. Hal ini diduga karena topik kewirausahaan hijau masih relatif baru dan kurang terekspos dalam kurikulum universitas. Untuk itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh perguruan tinggi untuk mendorong motivasi kewirausahaan hijau dalam diri mahasiswa. Pertama, perguruan tinggi perlu mempertimbangkan pembaruan kurikulum untuk memasukkan mata kuliah dan program terkait kewirausahaan hijau. Langkah ini bertujuan membantu mahasiswa memahami lebih dalam tentang konsep, tantangan, dan peluang yang ada dalam bidang kewirausahaan berkelanjutan. Kedua, untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih ramah lingkungan, perguruan tinggi dapat menyediakan dukungan berupa fasilitas seperti inkubator bisnis dan sumber daya material pendukung lainnya. Ketiga, perguruan tinggi juga perlu memberikan dukungan non-material seperti pembimbingan insentif, arahan strategis, serta peluang jejaring yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan pola pikir dan perilaku ramah lingkungan secara positif. Melalui kurikulum yang relevan, program pelatihan, dan seminar, perguruan tinggi menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya ide-ide inovatif yang berorientasi pada keberlanjutan.
Nilai Religiusitas dan Peran Keluarga dalam Wirausaha Hijau
Dalam konteks Islam, ajaran agama memberikan dasar yang kuat bagi kewirausahaan hijau. Al-Qur’an dan Sunnah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab. Penelitian menunjukkan bahwa nilai religiusitas secara signifikan memengaruhi motivasi wirausaha hijau. Mahasiswa yang memiliki tingkat religiusitas tinggi cenderung lebih terdorong untuk menjalankan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga membawa manfaat bagi lingkungan. Islam mengajarkan bahwa aktivitas kewirausahaan harus dilakukan dengan mematuhi prinsip-prinsip agama, seperti kejujuran, etika, dan komitmen terhadap kemaslahatan umat. Dalam hal ini, wirausahawan Muslim tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga berusaha mendapatkan keridhaan Allah dengan menjaga kelestarian bumi.
Selain universitas dan nilai religiusitas, dukungan keluarga juga berperan besar dalam membentuk sikap dan niat mahasiswa terhadap kewirausahaan hijau. Dukungan finansial, emosional, serta motivasi dari keluarga menjadi pendorong utama bagi mahasiswa untuk berani mengambil langkah dalam menjalankan usaha hijau.
Tantangan dan Peluang
Meski kewirausahaan hijau menawarkan solusi bagi berbagai masalah lingkungan, tantangannya tidaklah kecil. Minimnya pengetahuan, keterbatasan akses pendanaan, dan kurangnya dukungan kebijakan menjadi kendala utama. Namun, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan dorongan dari berbagai pihak, kewirausahaan hijau memiliki potensi besar untuk berkembang di Indonesia. Dengan sinergi antara pendidikan, kebijakan, dan masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mencetak generasi wirausahawan yang tidak hanya inovatif tetapi juga peduli terhadap lingkungan.
Transformasi ini bukan hanya tentang menciptakan bisnis baru, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Penulis: Prof. Dr. Raditya Sukmana, S.E., M.A.





