Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1) merupakan penyakit kronis yang umumnya muncul sejak anak-anak dan membutuhkan pengelolaan seumur hidup. Pada kondisi ini, tubuh tidak mampu memproduksi hormon insulin, sehingga anak dengan DMT1 harus menjalani suntikan insulin dan pemantauan gula darah secara rutin setiap hari untuk mencegah komplikasi serius seperti diabetic ketoacidosis (DKA) dan kerusakan organ jangka panjang.
Federasi Diabetes Internasional (IDF) memperkirakan bahwa hampir 500.000 anak di bawah usia 15 tahun menderita DMT1 di seluruh dunia. Di Indonesia, tercatat 1.210 anak dan remaja usia 0“25 tahun hidup dengan DMT1. Kelompok usia terbanyak berada pada rentang 11“15 tahun dan sebagian besar kasus tercatat di Pulau Jawa. Namun, angka ini sangat mungkin masih lebih rendah dari kondisi sebenarnya karena keterbatasan pelaporan dan akses pelayanan kesehatan di berbagai daerah.
Penanganan DMT1 pada anak bersifat kompleks dan berkelanjutan. Idealnya, perawatan dilakukan oleh tim multidisiplin yang terdiri dari dokter, perawat diabetes, ahli gizi, dan tenaga kesehatan terlatih lainnya. Di banyak negara berpendapatan tinggi, pendekatan ini sudah menjadi standar, sehingga anak dan keluarganya mendapat pendampingan yang komprehensif, termasuk edukasi berkelanjutan dan dukungan psikososial. Namun di Indonesia, pengelolaan DMT1 masih sangat bergantung pada dokter spesialis endokrin anak, yang jumlahnya hanya sekitar 39 orang di seluruh Indonesia. Ketimpangan ini menjadi tantangan besar dalam pemerataan layanan, terutama di wilayah dengan akses rujukan yang terbatas.

Terapi insulin dan pemantauan gula darah mandiri merupakan pilar utama pengelolaan DMT1, namun keduanya tidak selalu mudah dijalankan dalam praktik sehari-hari. Anak dengan DMT1 membutuhkan suntikan insulin beberapa kali sehari dan pemeriksaan gula darah berulang, termasuk sebelum makan, saat sakit, atau setelah aktivitas fisik. Prosedur ini sering kali menimbulkan kelelahan fisik dan emosional, baik pada anak maupun orang tua. Meskipun insulin telah ditanggung oleh Pemerintah, keluarga masih menghadapi tantangan lain, seperti keterbatasan jumlah insulin yang diterima, jarak ke fasilitas kesehatan rujukan, serta biaya transportasi dan waktu yang harus dikorbankan untuk kontrol rutin. Tantangan menjadi semakin besar pada pemantauan gula darah mandiri. Alat dan strip pemeriksaan gula darah sebagian besar belum ditanggung asuransi, padahal pemeriksaan idealnya dilakukan beberapa kali dalam sehari. Bagi banyak keluarga, biaya pembelian alat dan strip menjadi beban tersendiri, sehingga frekuensi pemeriksaan seringkali dikurangi. Kondisi ini dapat berdampak langsung pada pengendalian gula darah dan risiko komplikasi.
Secara keseluruhan, perawatan anak dengan DMT1 di Indonesia masih menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari keterbatasan tenaga ahli hingga faktor sosial dan ekonomi keluarga. Berbagai upaya telah dilakukan, namun diperlukan pendekatan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan agar setiap anak dengan DMT1 memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan menjalani hidup dengan kualitas yang optimal.
Penulis: Dr. dr. Nur Rochmah.., Sp.A(K); Dr. dr. Muhammad Faizi., Sp.A(K); Dr. dr. Yuni Hisbiyah., MMRS., Sp.A(K); dr. Rayi Kurnia Perwitasari, M.Ked.Klin., Sp.A(K); dr. Calcarina Nira Pramesthi
Disarikan dari: Faizi M, dkk. Pediatric Type 1 Diabetes Care in Indonesia: A Review of Current Challenges and Practice. Journal of Clinical Research in Pediatric Endocrinology. 2025. doi:10.4274/jcrpe.galenos.2024.2024-9-4.
Estimasi prevalensi global anak dengan DMT1 mengacu pada data Federasi Diabetes Internasional sebagaimana dikutip dalam Rochmah N, Perwitasari RK, Hisbiyah Y, Rosyidah LN, Ni™mah NL, Kusumastuti NP, Faizi M. Factors affecting insulin-like growth factor-1 in type 1 diabetes mellitus in children. Journal of Medical and Pharmaceutical Chemical Research. 2024;7(1):120“128. doi:10.48309/jmpcr.2025.451173.1185.
Sumber Gambar: ANTARA/Shutterstock/aa (melalui VOI.id), diakses 13 Januari 2026.
Link:





