51

51 Official Website

Mikroba Baluran, Sumber Baru Enzim Industri

(sumber: Travelspromo)

Taman Nasional Baluran di Jawa Timur sering dijuluki Little Africa karena memiliki hamparan savana luas yang menyerupai lanskap benua Afrika. Kawasan ini menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna yang khas. Namun, perubahan iklim ekstrem dan musim kemarau panjang membuat wilayah ini rentan terhadap kebakaran lahan. Untuk mengurangi risiko tersebut, pengelola taman menanam Vachellia nilotica atau akasia berduri sebagai sekat api alami karena tanaman ini tahan kering dan memiliki batang keras.

Tanaman Invasif yang Menyimpan Potensi

Upaya ini memang efektif menahan rambatan api, tetapi dalam jangka panjang menimbulkan masalah baru. Biji Vachellia nilotica tersebar luas melalui hewan seperti banteng, rusa, dan kerbau. Akibatnya, tanaman ini tumbuh tak terkendali dan mengubah struktur savana yang seharusnya terbuka menjadi lebih rapat. Kondisi tersebut mengancam keseimbangan ekosistem alami Baluran.

Meski dikenal invasif, tanaman ini ternyata menjadi rumah bagi mikroorganisme tanah dengan potensi besar di bidang bioteknologi. Kajian dari Fakultas Sains dan Teknologi 51 menemukan komunitas bakteri pada perakaran Vachellia nilotica yang mampu menghasilkan berbagai enzim penting untuk industri.

Mikroba Tahan Kering Penghasil Enzim

Penelitian yang terbit dalam jurnal Biodiversitas edisi April 2025 ini mengidentifikasi lebih dari 99.000 unit taksonomi operasional dan lebih dari 4.600 spesies bakteri dari 45 kelompok utama. Mayoritas bakteri berasal dari kelompok Bacillota yang dikenal mampu hidup di tanah kering dan berperan dalam proses penguraian bahan organik. Dari hasil isolasi, 26 jenis bakteri terbukti menghasilkan enzim hidrolitik seperti amilase, lipase, protease, dan selulase. Dua isolat bahkan dapat memproduksi lebih dari satu jenis enzim sekaligus.

Enzim hidrolitik berfungsi memecah senyawa kompleks menjadi bentuk sederhana dan banyak digunakan dalam industri pangan, farmasi, pertanian, serta pengolahan limbah. Potensi ini menunjukkan bahwa mikroba di tanah kering Baluran tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi tinggi.

Dari Savana Kering Menuju Inovasi Bioteknologi

Hasil riset ini membuktikan bahwa tekanan lingkungan ekstrem justru dapat memicu munculnya mikroorganisme yang adaptif dan produktif. Tanah kering Baluran terbukti menyimpan sumber daya mikroba yang bernilai untuk riset dan pengembangan produk bioteknologi. Vachellia nilotica yang semula dianggap gangguan ekologis kini justru membuka peluang baru dalam pemanfaatan mikroba lokal untuk mendukung industri ramah lingkungan.

Dengan kekayaan biodiversitasnya, Baluran memiliki potensi besar menjadi laboratorium alam bagi pengembangan bioteknologi hayati di Indonesia. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah penting bahwa upaya konservasi dapat berjalan beriringan dengan inovasi, menghasilkan manfaat ekologis sekaligus ekonomi.

Penulis: Prof. Dr. Ni’matuzahroh, Dra

Informasi lebih lanjut tentang artikel berikut ini dapat diakses melalui:

AKSES CEPAT