Anemia atau kekurangan darah masih menjadi salah satu masalah serius bagi ibu hamil di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hampir separuh ibu hamil mengalami anemia, dan kondisi ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan ibu maupun janin. Ibu hamil yang menderita anemia berisiko mengalami kelelahan berat, perdarahan, bayi lahir premature, bahkan kematian. Penelitian yang dilakukan terhadap 115 ibu hamil di Surabaya ini menemukan bahwa perilaku pencegahan anemia tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan atau niat baik, tetapi terutama oleh kemampuan ibu untuk mengatur diri sendiri atau self-regulation. Dalam konteks ini, self-regulation berarti kemampuan ibu untuk mengenali, mengawasi, dan menilai perilakunya sendiri dalam menjaga kesehatan selama kehamilan. Misalnya, apakah ia sudah rutin mengonsumsi tablet zat besi, makan makanan bergizi, atau menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi cacing. Tanpa kemampuan mengatur diri, niat baik sering kali tidak diwujudkan dalam tindakan nyata karena adanya hambatan seperti lupa, rasa bosan, atau efek samping dari suplemen zat besi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-regulation menjadi faktor paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan anemia. Proses ini melibatkan tiga langkah penting, yaitu self-observation (mengamati diri sendiri), self-judgement (menilai sejauh mana perilaku sudah sesuai anjuran kesehatan), dan self-reaction (mengambil langkah perbaikan bila ditemukan kekurangan). Ibu hamil yang mampu memantau dan mengevaluasi perilakunya cenderung lebih konsisten dalam menjalankan pola hidup sehat dan mencegah anemia.
Selain itu, penelitian ini juga menyoroti peran penting faktor lain seperti pendidikan, ekonomi, dan dukungan sosial. Ibu dengan pendidikan lebih tinggi lebih memahami pentingnya gizi dan kesehatan, sementara ibu dengan ekonomi rendah sering terkendala dalam mengakses makanan bergizi. Dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, dan kelompok ibu hamil terbukti dapat meningkatkan semangat dan komitmen ibu untuk menjaga kesehatannya. Dengan kata lain, keberhasilan mencegah anemia bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi juga hasil dari dukungan lingkungan sekitar.
Penelitian ini juga menemukan bahwa komitmen saja tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku. Banyak ibu hamil yang sudah berkomitmen untuk minum tablet zat besi, tetapi tidak mampu mempertahankan kebiasaan tersebut karena kendala pribadi dan lingkungan. Di sinilah peran self-regulation menjadi penting sebagai jembatan antara niat dan tindakan nyata. Ketika ibu mampu memantau dirinya, menilai hambatan, dan menyesuaikan perilaku, peluang untuk berhasil mencegah anemia menjadi lebih besar.
Temuan dari penelitian ini menghasilkan model baru pencegahan anemia berbasis pengendalian diri yang dapat digunakan oleh tenaga kesehatan, khususnya perawat, dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada ibu hamil. Melalui model ini, perawat tidak hanya memberi informasi tentang pentingnya zat besi, tetapi juga membantu ibu hamil untuk menetapkan tujuan, membuat catatan kebiasaan, dan mencari strategi agar tetap konsisten dalam menjalankan perilaku sehat. Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena memberdayakan ibu hamil untuk aktif mengelola kesehatannya sendiri.
Secara praktis, model ini dapat diterapkan di layanan kesehatan seperti puskesmas, posyandu, maupun kelas ibu hamil. Petugas kesehatan dapat memberikan pelatihan sederhana tentang cara memantau diri, menetapkan jadwal minum suplemen, atau membuat catatan harian konsumsi makanan bergizi. Dengan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, ibu hamil akan lebih mudah mempertahankan perilaku sehat hingga masa persalinan.
Melalui penelitian ini, tim dari 51动漫 menunjukkan bahwa kunci utama mencegah anemia pada ibu hamil bukan hanya pada pemberian tablet zat besi, tetapi pada kemampuan ibu untuk mengatur diri dan dukungan lingkungan yang mendukung. Dengan pendekatan ini, diharapkan angka anemia, serta risiko komplikasi kehamilan dan kematian ibu, dapat terus menurun.
Penelitian lengkap ini dapat dibaca dalam Jurnal Keperawatan Global Vol. 10 No. 1 Tahun 2025 melalui tautan: .
Penulis: Dr. Mira Triharini, S.Kp., M.Kep.





