Pendidikan adalah fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kecerdasan individu. Salah satu faktor yang tak kalah penting dalam pendidikan adalah hubungan antara guru dan siswa. Hubungan yang baik antara keduanya berpotensi menciptakan iklim belajar yang positif, yang pada gilirannya memengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Eko Hardi Ansyah dkk (2024) tentang model hubungan guru-siswa di Sekolah Dasar Muhammadiyah di Indonesia memberikan wawasan penting dalam konteks ini, dengan menggali peran mediasi kontrol usaha (effortful control), iklim sekolah, dan religiositas dalam membangun hubungan tersebut. Sekolah Muhammadiyah, yang memiliki lebih dari dua ribu sekolah dasar di seluruh Indonesia, menjadi konteks yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 429 guru dari berbagai sekolah dasar Muhammadiyah, memberikan gambaran yang luas mengenai dinamika hubungan guru-siswa di lembaga pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai keagamaan tersebut. Temuan utama yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah pentingnya kontrol usaha sebagai mediator antara iklim sekolah dan religiositas terhadap kualitas hubungan guru-siswa. Artinya, guru yang memiliki kontrol usaha yang baik, cenderung mampu menciptakan interaksi yang lebih positif dengan siswa, yang tentunya berkontribusi pada pengembangan prestasi akademis dan sosial mereka.
Salah satu poin menarik dalam penelitian ini adalah pengaruh religiositas guru terhadap hubungan yang mereka bangun dengan siswa. Guru yang memiliki dasar religiositas yang kuat cenderung mampu menciptakan suasana belajar yang lebih mendukung, penuh empati, dan penuh perhatian. Hal ini tentu saja berperan dalam membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki nilai-nilai moral yang baik. Dalam konteks sekolah Muhammadiyah, di mana nilai-nilai keislaman menjadi bagian integral dari proses pendidikan, temuan ini semakin menegaskan pentingnya peran religiositas dalam membangun kualitas pendidikan. Dari segi praktis, implikasi dari penelitian ini sangat relevan untuk kebijakan pendidikan. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan meningkatkan keterampilan kontrol usaha di kalangan guru. Program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola emosi dan interaksi sosial mereka bisa menjadi kunci untuk menciptakan hubungan yang lebih harmonis dengan siswa. Dengan hubungan yang lebih positif, siswa akan merasa lebih dihargai dan didukung, yang pada gilirannya akan mendorong mereka untuk mencapai hasil yang lebih baik dalam proses belajar. Selain itu, peningkatan kesejahteraan guru juga menjadi aspek penting, karena hubungan yang sehat dengan siswa juga dapat meningkatkan kepuasan kerja mereka.
Namun, meskipun penelitian ini memberikan kontribusi yang besar, ada beberapa keterbatasan yang perlu dicatat. Salah satunya adalah sampel yang terbatas pada sekolah dasar Muhammadiyah. Meskipun hasil penelitian ini memberikan gambaran yang sangat relevan untuk konteks pendidikan berbasis agama, perlu ada penelitian serupa di sekolah-sekolah lain dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda, untuk mengetahui apakah temuan ini bersifat universal ataukah hanya berlaku dalam konteks tertentu. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia, terutama dalam memahami hubungan guru-siswa yang lebih mendalam. Dengan memperhatikan variabel-variabel seperti iklim sekolah dan religiositas, kita dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif bagi pengembangan siswa secara menyeluruh. Penelitian lanjutan yang memperluas sampel dan konteksnya tentu akan sangat bermanfaat untuk menggali lebih dalam lagi dinamika hubungan ini, serta untuk merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan efektif.
Penulis: Eko Hardiansyah, Cholicul Hadi, Nur Ainy Fardana, Mohd Nazri Abdul Rahman
Link:
Baca juga:





