Penyakit kaki gajah atau filariasis merupakan salah satu jenis penyakit yang menjadi perhatian dunia. Filariasis terjadi karena infeksi cacing Filaria yang menyerang kelenjar getah bening manusia. Penyakit ini disebarkan oleh spesies nyamuk tertentu dan berada pada urutan ketiga dari daftar penyakit di dunia yang paling banyak ditularkan oleh nyamuk. Dampak negatif dari filariasis adalah dapat mengakibatkan kelumpuhan bagi penderita.
Tak terkecuali di negara Indonesia, dimana Jawa Barat merupakan salah satu dari 5 Provinsi dengan penderita filariasis terbanyak sampai dengan tahun 2021. Infeksi ulang filariasis terjadi di tempat-tempat yang sudah menerapkan Pemberian Obat Massal Pencegahan Filariasis (POMP). Oleh karena itu, operasi pemantauan harus dilakukan untuk melacak munculnya kasus baru dan faktor risiko penularan.
Metode MARS pertama kali diperkenalkan oleh Friedman pada Tahun 1991. Metode MARS adalah kombinasi yang kompleks antara metode spline dengan Recursive Partitioning Regression (RPR) untuk menghasilkan estimasi fungsi regresi yang kontinu. Pembentukan model MARS tidak terikat oleh asumsi serta tidak tergantung pada hubungan linier, kuadratik, maupun kubik di antara variabel respon dan variabel prediktor. Menurut Deichmann et al. (2002), terdapat dua langkah dalam membangun model MARS, yaitu : a. membangun fungsi basis yang merupakan transformasi dari variabel prediktor yang non-linier dan, b. membangun interaksi antar variabel prediktor dalam model.
Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk memodelkan Jumlah Kronis Filariasis di Jawa Barat dengan pendekatan Multivariate Adaptive Regression Spline (MARS). Variabel prediktor atau faktor-faktor yang digunakan dalam penelitian, meliputi persentase rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), persentase penduduk miskin, persentase akses penduduk terhadap fasilitas sanitasi layak, dan rasio jenis kelamin. Dengan memperhitungkan faktor-faktor tersebut, penggunaan metode MARS dalam pemodelan kasus filariasis di Provinsi Jawa Barat ini diharapkan dapat diperoleh hasil model terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa variabel prediktor atau faktor yang paling berpengaruh pada model terbaik adalah persentase akses penduduk terhadap fasilitas sanitasi layak. Manfaat penelitian diharapkan dapat berguna sebagai bahan evaluasi bagi pemerintah serta bahan pertimbangan untuk melakukan langkah konkret dalam mencegah penyebaran kasus kronis filariasis dan mendukung rencana aksi Sustainable Development Goals (SDGs) yang dikeluarkan Bappenas pada tahun 2020 (khususnya fokus tujuan nomor ketiga, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia).
Semoga artikel ini dapat menjadi media pembelajaran sekaligus menambah wawasan kita dalam menanggulangi terjadinya kasus filariasis. Artikel lengkap terkait permasalahan yang disajikan, dapat diakses melalui link yang diberikan di bawah.
Penulis : Ardi Kurniawan
Artikel dapat diakses melalui link : https://doi.org/10.30598/barekengvol18iss2pp1249-1260





