51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Monitoring Penggunaan Obat Antiepilepsi Dapat Meningkatkan Capaian Klinis Pasien Epilepsi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Status epileptikus (SE) merupakan kondisi gawat darurat neurologis yang sering dijumpai pada populasi anak, dengan angka mortalitas jangka pendek berkisar antara 0,9% hingga 3,6%. Luaran klinis pasien SE sangat dipengaruhi oleh penyebab yang mendasari, keterlambatan dalam pemberian terapi, serta keberadaan kejang refrakter selama penatalaksanaan. Tingkat morbiditas cenderung meningkat pada kasus SE yang tidak responsif terhadap pengobatan standar, menunjukkan pentingnya identifikasi dini dan penanganan yang tepat terhadap faktor-faktor risiko yang berperan. Pada populasi pediatri, faktor-faktor seperti demam tinggi, ketidakpatuhan dalam penggunaan obat anti kejang, maupun kondisi akut tertentu dapat memicu terjadinya kejang yang progresif. Jika kondisi ini tidak ditangani secara cepat dan adekuat, maka dapat berkembang menjadi status epileptikus. Menurut definisi dari International League Against Epilepsy (ILAE), kejang merupakan aktivitas neuron yang abnormal dan berlebihan secara sementara. Sedangkan status epileptikus merupakan kondisi kejang yang berlangsung lebih dari 30 menit secara terus-menerus atau dua atau lebih kejang berurutan tanpa pemulihan kesadaran penuh di antaranya. Namun, dalam praktik klinis, protokol pengobatan umumnya mengadopsi ambang waktu 5 menit untuk inisiasi terapi guna mencegah kejang berkepanjangan serta meminimalkan risiko komplikasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama periode 2011 hingga 2017, tercatat sebanyak 665 anak dirawat dengan status epileptikus konvulsif, terdiri dari 381 laki-laki dan 284 perempuan, dengan usia rata-rata 3 tahun 8 bulan. Usia ditemukan sebagai prediktor terkuat terjadinya status epileptikus konvulsif, dengan prevalensi tertinggi pada anak usia 2 2 tahun, yang kemudian menurun seiring bertambahnya usia. Di Indonesia, data pasti mengenai insidensi epilepsi masih terbatas, mengingat banyak kasus yang tidak terdeteksi atau tidak tercatat akibat rendahnya akses layanan kesehatan. Namun, diperkirakan sekitar 40% kasus status epileptikus terjadi pada anak-anak di bawah usia 2 tahun, dan 75% di antaranya merupakan manifestasi awal dari epilepsi. Sebuah studi yang melibatkan 674 pasien anak dengan status epileptikus konvulsif menunjukkan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap perkembangan neurologis pasien. Dari total tersebut, 40 pasien mengalami status epileptikus refrakter. Selama fase akut, lima pasien (12,5%) meninggal dunia dan empat lainnya tidak dapat ditindaklanjuti. Dari 31 pasien yang berhasil dilakukan follow-up, sebanyak 20 anak (65%) mengalami perkembangan menjadi epilepsi, dan 18 anak (58%) menunjukkan gangguan neurokognitif menetap. Studi lain yang menilai health-related quality of life (HRQOL) pada anak dengan riwayat status epileptikus konvulsif juga mengindikasikan bahwa kualitas hidup mereka cenderung lebih rendah dibandingkan populasi sehat. Meskipun setelah 10 tahun tindak lanjut terdapat perbaikan, skor HRQOL rata-rata tetap berada di bawah normal dan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.

Penanganan status epileptikus memerlukan strategi terapi yang cepat dan tepat, di mana inisiasi pengobatan dini berperan penting dalam memperbaiki luaran klinis. Benzodiazepin merupakan terapi lini pertama yang direkomendasikan untuk menghentikan kejang pada status epileptikus. Efektivitas benzodiazepin sebagai terapi lini pertama dapat menurun seiring lamanya durasi kejang. Jika kejang berlanjut atau berulang setelah pemberian benzodiazepin, maka terapi lini kedua seperti anti kejang intravena nonbenzodiazepin dapat diberikan. Namun, pemberian terapi ini juga dapat menimbulkan resiko terjadinya adverse drug reaction (ADR) selama masa perawatan. Di sisi lain, penyebab juga merupakan salah satu faktor risiko penting terhadap kejang berulang pada status epileptikus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara penyebab dan terapi anti kejang terhadap luaran klinis berupa frekuensi dan durasi kejang pada pasien anak dengan status epileptikus di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Soetomo Surabaya, serta kejadian ADR yang terjadi selama masa perawatan. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik retrospektif dengan sumber data rekam medis elektronik di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, yang dikumpulkan sejak Januari 2023 hingga April 2025. Dari total pasien yang ditelaah, sebanyak 82 anak memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis karakteristik dasar memperlihatkan bahwa rata-rata usia pasien dengan status epileptikus adalah 4,78 tahun, dengan proporsi laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Faktor penyebab terbanyak berasal dari kondisi akut (54,9%), diikuti oleh epilepsi (24,4%), remote (17,1%), progresif (2,4%), dan paling sedikit idiopatik (1,2%). Terkait terapi penghentian status epileptikus, sebagian besar pasien anak berhasil ditangani dengan obat lini kedua (86,6%), sedangkan penggunaan lini ketiga sebesar 8,5% dan lini pertama 4,9%. Dari penggunaan terapi tersebut, tercatat efek samping berupa depresi napas pada 1,2% pasien, peningkatan SGOT/SGPT pada 3,7%, sedangkan 95,1% tidak mengalami efek samping. Luaran klinis yang dinilai meliputi durasi kejang dan frekuensi kejang berulang selama perawatan. Durasi kejang pada pasien bervariasi, dengan 45% berhenti dalam waktu < 10 menit, 22% antara 10“20 menit, 22% lainnya dalam 21“30 menit, dan 11% baru berhenti setelah lebih dari 30 menit. Sementara itu, sebanyak 45,1% pasien tidak terjadi kejang berulang selama masa perawatan. Sebagian lainnya mengalami kejang berulang < 5 kali sebanyak 35,4%, sedangkan 14,6% mengalami 5 “ 10 kali, dan 4,9% mengalami > 10 kali. Hasil analisis regresi linear berganda tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara penyebab maupun terapi status epileptikus dengan durasi kejang maupun frekuensi kejang berulang (p > 0,005). Meski demikian, seluruh pasien anak dengan status epileptikus mengalami perbaikan klinis, dengan rata-rata kondisi tanpa kejang selama Ditulis lebih jelas Gunakan terminologi yang tepat ix 6,84 hari sebelum dipulangkan. Temuan ini menggarisbawahi bahwa status epileptikus merupakan kondisi gawat darurat yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Sumber :

Judul: A New Strategy in Epilepsy Therapy Through Attenuation of Phosphorylated Tau and Amyloid-beta

Author:  Junaidi Khotib, Badzlina Azyyati Maizan

Jurnal: Archives of Epilepsy

Laman:

DOI: 10.4274/ArchEpilepsy.2024.24158

AKSES CEPAT