51动漫

51动漫 Official Website

Morfologi Ultrastruktur Larva Tahap Kedua dan Ketiga Toxocara cati di Dalam Jaringan Host Paratenik

Morfologi Ultrastruktur Larva Tahap Kedua dan Ketiga Toxocara cati di Dalam Jaringan Host Paratenik
Sumber: detiknews

Toxocariasis merupakan penyakit infeksi zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Toxocariasis merupakan istilah untuk penyakit yang disebabkan oleh Toxocara spp. Salah satu bentuk Toxocariasis adalah infeksi Toxocara cati yang ditularkan dari inang definitif atau paratenik ke manusia. Dalam mengobati penyakit ini, diperlukan metode diagnostik yang tepat. Diagnosis dapat dilakukan melalui diagnosis etiologi dengan mengamati morfologi perkembangan setiap stadium larva T. cati. Pengamatan morfologi larva T. cati biasanya menggunakan mikroskop cahaya, tetapi cara ini belum dapat mengidentifikasi secara jelas dan tepat. Beberapa organ larva T. cati seperti alae serviks, body ring, dan kutikula tidak dapat dilihat sehingga diperlukan metode lain. Pengamatan morfologi larva dapat dilihat lebih jelas menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM).

Teknik SEM diperlukan untuk memberikan gambaran tiga dimensi dari setiap stadium larva T. cati. Penelitian larva 2 (L2) dan larva 3 (L3) jaringan inang paratenik menggunakan SEM belum banyak dilakukan karena penelitian sebelumnya hanya mendeteksi pola migrasi L3 pada jaringan inang paratenik. Kucing dan anak kucing dapat terinfeksi T. cati, tetapi insidensi T. cati pada anak kucing lebih tinggi daripada pada kucing dewasa. Kucing dapat terinfeksi T. cati dengan menelan L2 yang kemudian bermigrasi melalui vena porta ke hati dan paru-paru. Pada hewan betina, L2 tidak mencapai stadium dewasa. L2 dianggap tidak aktif di otot saat kucing hamil. L2 berkembang menjadi L3 saat kucing melahirkan anak kucing, yang mengakibatkan penularan melalui susu. Penelitian ini dirancang untuk mengeksplorasi penerapan SEM untuk memahami secara komprehensif morfologi dan topografi ultrastruktur larva tahap kedua dan ketiga T. cati untuk diagnosis toxocariasis yang akurat, menggunakan tikus sebagai inang paratenik.

Penelitian ini menggunakan mikroskop elektron pemindai (SEM) untuk mengamati detail morfologi permukaan larva T. cati. SEM memungkinkan visualisasi struktur permukaan dengan resolusi tinggi, sehingga perbedaan antara L2 dan L3 dapat diamati secara detail. Sampel larva yang diisolasi dari jaringan inang paratenik dipreparasi melalui serangkaian tahap, termasuk fiksasi, dehidrasi, dan pelapisan dengan logam konduktif sebelum diamati menggunakan SEM.

Hasil observasi SEM menunjukkan perbedaan morfologi antara L2 dan L3 T. cati. Larva L2 memiliki kutikula yang lebih halus dengan sedikit lipatan transversal, sedangkan L3 menunjukkan kutikula yang lebih tebal dengan lipatan transversal yang lebih jelas dan struktur seperti duri kecil (spina) di permukaannya. Selain itu, perbedaan dalam struktur mulut dan papila sensorik juga diamati antara kedua tahap larva tersebut. Temuan ini memberikan wawasan penting mengenai adaptasi morfologi T. cati selama perkembangan larva dalam inang paratenik, yang dapat berkontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang patogenesis dan interaksi parasit dengan inangnya.

Penulis: Dr. Kusnoto, drh., M.Si.

Link:

Baca juga: Terobosan Baru Vaksin Multiepitope: Solusi atas Ancaman Aeromonas hydrophila

AKSES CEPAT