51动漫

51动漫 Official Website

MRI pada Status Epileptikus

Status epileptikus (SE) adalah kondisi neurologis yang mengancam jiwa dengan tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi pada anak-anak. Kondisi ini bermanifestasi sebagai kejang berulang tanpa kembalinya kesadaran normal atau kejang berkepanjangan yang berlangsung lebih dari 30 menit. Dalam penanganan SE, menilai prognosis sangat penting untuk menghindari pengobatan yang berlebihan dan komplikasi jangka panjang, karena SE dapat timbul dari berbagai penyebab, termasuk ensefalitis.

Diagnosis dan terapi yang tepat dilakukan untuk menurunkan angka kematian dan mempengaruhi perkembangan penyakit. Prevalensi tahunan SE pada anak-anak diperkirakan antara 18 dan 23 kasus per 100.000 anak, sebagian besar menimpa neonatus hingga anak berusia 5 tahun, dengan angka kematian berkisar antara 2% hingga 7%. Insiden keseluruhan dari kejang SE di antara anak-anak diperkirakan antara 10 dan 38 kasus per 100.000 anak setiap tahun.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada otak digunakan dalam evaluasi SE untuk menilai kerusakan struktural, memastikan penyebab kejang, dan memprediksi perkembangan penyakit pasien. Perubahan fisiologis yang dilaporkan diantaranya adalah edema serebral (pembengkakan otak), hiperperfusi, dan perubahan pada sawar darah otak (blood-brain barrier). Sebuah studi mengenai pencitraan (imaging) mengungkapkan bahwa kelainan otak terdeteksi pada 20% kasus dengan menggunakan CT Scans (computed tomography scan), sedangkan MRI otak mendeteksi kelainan pada 58% individu dengan SE.

Sejumlah penelitian telah meneliti hubungan antara biomarker serum dan gangguan neurologis. Kada serum yang menjadi salah satu biomarker, yakni laktat, biasanya meningkat dalam beberapa jam pertama setelah kejang. Setelah kejang berhenti, produksi laktat menurun, dan laktat dengan cepat dikeluarkan dari sistem. Jumlah laktat dalam darah mencerminkan tingkat kerusakan otak dan berhubungan dengan prognosis yang buruk pada anak-anak. Sebuah penelitian melaporkan bahwa laktat adalah biomarker neurologis yang efektif untuk kejang general, dengan peningkatan kadar yang terdeteksi pada hampir 90% peserta dalam waktu 30 menit setelah kejang berhenti. Penelitian lain menemukan bahwa kadar serum laktat yang didapat dalam waktu 2 jam setelah kejang general tonik-klonik meningkat secara signifikan. Demikian pula sebuah penelitian yang mengamati kedua cairan serebrospinal dan kadar laktat plasma, yang dikumpulkan dalam waktu 12 jam setelah kejang, meningkat secara signifikan. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa SE menyebabkan peningkatan kadar laktat yang signifikan, yang dapat digunakan sebagai indikator morbiditas dan mortalitas. Beberapa penelitian telah mencatat peningkatan kadar laktat darah dan kelainan pencitraan pada anak-anak dengan hypoxic ischemic ensepalophaty (HIE).

Penulis: Prastiya Indra Gunawan

Informasi detail bisa dilihat pada tulisan kami di :

Prastiya Indra Gunawan, Riza Noviandi, Sunny Mariana Samosir. Correlation between Persistent Serum Lactate Elevation and Brain Magnetic Resonance Imaging Abnormalities in Children with Status Epilepticus. Annals of Child Neurology 2024;32(1):30-36.

AKSES CEPAT