Mycobacterium leprae sejak bertahun-tahun lamanya diketahui menjadi organisme penyebab kusta. Pada tahun 2008 ditemukan spesies baru dari genus Mycobacterium yang terdapat pada 2 pasien dari Meksiko yang meninggal akibat DLL (Difuse Lepromatous Leprosy). Spesies ini dinamakan Mycobacterium lepromatosis karena memiliki kekerabatan yang dekat dengan Mycobacterium leprae namun berbeda secara genetik.
Di Indonesia sudah terdapat beberapa laporan kasus mengenai fenomena Lucio namun belum pernah dilaporkan adanya penemuan Mycobacterium lepromatosis sebagai agen penyebab. Laporan kasus ini adalah penemuan agen Mycobacterium lepromatosis sebagai penyebab ulserasi yang luas pada Fenomena Lucio pasien laki-laki dengan DLL.
Mycobacterium lepromatosis yang ditemukan memiliki urutan DNA serupa dengan yang terdeteksi di Meksiko, sehingga identifikasi Mycobacterium lepromatosis ini sangat penting. Masih perlu banyak kasus untuk membuktikan bahwa Mycobacterium lepromatosis adalah penyebab fenomena Lucio, terutama yang ada di Indonesia.
Morbiditas dan mortalitas fenomena Lucio termasuk tinggi. Dari beberapa laporan kasus, 6 dari 10 pasien meninggal akibat fenomena Lucio. Sehingga butuh perhatian khusus pada penyakit ini. Metode yang digunakan untuk mendeteksi M. lepromatosis adalah dengan cara histopatologi dan biomolekuler dengan metode nested PCR untuk membedakan Mycobacterium leprae dan Mycobacterium lepromatosis. Hasil positif PCR akan dikonfirmasi ke tahap sekuensing yang kemudian dianalisis urutan DNA nya dengan urutan DNA yang sudah ada pada Gene Bank sebagai bentuk konfirmasi jenis bakteri.
Fenomena Lucio (Lucio Phenomenon/ LP) jarang terjadi dilaporkan di Jawa Timur meskipun prevalensinya tinggi untuk kasus multibasiler kusta. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kecurigaan klinis atau gambaran histopatologis yang tidak konsisten dari LP. Diagnosis LP dalam kasus ini didasarkan pada klinis dan gambaran histopatologis.
Pentingnya deteksi dini dan identifikasi M. lepromatosis berbasis biomolekuler dalam kasus DLL/LP yang meluas di luar Meksiko adalah suatu keniscayaan, karena hal ini juga diidentifikasi sebagai penyebab kusta di Amerika dan Asia. LP tetap harus dipertimbangkan dalam diferensial diagnosis, bahkan di daerah non-endemis kusta. Kurangnya konsensus mengenai terapi LP telah menimbulkan kontroversi dalam pengelolaannya. Menetapkan diagnosis dini dan memulai pengobatan dengan segera dapat membantu mengurangi morbiditas dan kematian.
Penulis : Dr.dr Medhi Denisa Alinda,Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh di :





