51动漫

51动漫 Official Website

Nanopartikel Naringin dalam Mempercepat Penyembuhan Luka pada Tikus Diabetes dengan Menghambat Stres Oksidatif

Diabetes Mellitus (DM) merupakan gangguan pada sekresi insulin atau resistensi terhadap aksi insulin, yang mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia). Hiperglikemia ini berpotensi merusak sel-sel organ dan memicu berbagai komplikasi diabetes, seperti kardiomiopati, neuropati, nefropati, retinopati, dan luka gangren, yang semuanya dapat meningkatkan risiko kematian.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres oksidatif dapat mengganggu proses penyembuhan luka pada penderita diabetes. Stres oksidatif timbul akibat produksi berlebih radikal bebas oksigen (reactive oxygen species/ROS), termasuk radikal hidroksil (OH鈦), anion superoksida (O鈧傗伝), dan hidrogen peroksida (H鈧侽鈧). Peningkatan kadar ROS dapat memicu proses peroksidasi lipid pada membran sel, yang menghasilkan senyawa malondialdehida (MDA), yang dapat digunakan sebagai indikator kerusakan sel akibat ROS. Kadar ROS yang berlebihan juga dapat mengganggu regulasi nuclear transcription factor erythroid 2-related factor 2 (Nrf2), yaitu protein penting yang mengaktivasi jalur pertahanan antioksidan seluler. Inaktivasi Nrf2 menyebabkan penurunan ekspresi berbagai enzim antioksidan endogen, seperti superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), dan katalase, yang memiliki peran penting dalam menetralkan ROS dan menjaga keseimbangan redoks dalam sel. Kelebihan ROS dapat menyebabkan kerusakan lipid, protein, dan DNA pada sel-sel di sekitar luka, termasuk sel endotel, keratinosit, dan fibroblas. Akibatnya, fungsi serta regenerasi sel terganggu, sehingga memperlambat proses penyembuhan luka.

Penyembuhan luka pada pasien diabetes merupakan tantangan klinis karena prosesnya sering terhambat oleh hiperglikemia kronis, peradangan berkepanjangan, gangguan angiogenesis, dan stres oksidatif. Pemberian antioksidan eksogen, baik secara oral maupun topikal, dapat menjadi terapi yang efektif dalam penanganan luka pada pasien diabetes. Telah dilaporkan bahwa salah satu pendekatan terapeutik yang menjanjikan untuk memperbaiki kondisi luka diabetes adalah pemberian antioksidan eksogen seperti kurkumin, quercetin, rutin, dan piperin yang berasal dari produk alam.

Antioksidan eksogen memiliki potensi besar dalam mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes dengan cara menetralkan ROS, mengurangi peradangan, dan meningkatkan regenerasi jaringan. Namun, efektivitas klinis dari banyak antioksidan eksogen sering kali terbatas oleh berbagai kendala farmakokinetik, seperti kelarutan yang rendah, stabilitas yang buruk, absorpsi yang terbatas, dan distribusi yang tidak spesifik. Nanoteknologi hadir sebagai solusi inovatif untuk mengatasi kendala-kendala tersebut dan secara signifikan meningkatkan efektivitas antioksidan eksogen melalui sistem penghantaran berbasis nanopartikel.

Telah dilaporkan bahwa naringin merupakan produk alam yang memiliki efek antioksidan kuat, yang berperan dalam menetralkan ROS dan mencegah kerusakan sel [1719]. Naringin adalah senyawa aktif dari kelompok flavonoid yang menunjukkan berbagai aktivitas farmakologis. Aktivitas antioksidannya menjadikannya sangat relevan untuk pengobatan berbagai penyakit kronis, khususnya yang berkaitan dengan stres oksidatif seperti diabetes mellitus [19, 20]. Sifat-sifat lain seperti antidiabetik, antikanker, antibakteri, dan antiinflamasi semakin memperkuat potensinya sebagai kandidat fitofarmaka di masa depan. Sejalan dengan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kapasitas antioksidan dari formulasi nanopartikel naringin dalam mendukung proses regenerasi luka pada tikus model diabetes yang diinduksi dengan streptozotosin.

.

Nanopartikel naringin dibuat dengan menggunakan metode penggilingan bola berenergi tinggi.

Tikus dibius menggunakan campuran ketamin dengan dosis 50 mg/kg berat badan (BB) dan xilazin dengan dosis 5 mg/kg BB. Selanjutnya, bulu pada bagian punggung dicukur, kemudian area tersebut disterilkan menggunakan alkohol 70%. Sayatan sepanjang 1 cm 脳 1 cm kemudian dibuat menggunakan pisau bedah steril pada area yang telah ditandai sebelumnya.

Penelitian ini terdiri dari lima kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari 8 ekor tikus, dengan rincian sebagai berikut:

  1. Kelompok kontrol: Tikus sehat yang diberi pakan normal tanpa induksi diabetes.
  2. Kelompok diabetes: Tikus dengan diabetes yang tidak diberikan perlakuan nanopartikel naringin.
  3. Kelompok nanopartikel naringin: Tikus diabetes yang diberikan perlakuan harian berupa nanopartikel naringin secara oral dengan dosis 300 mg/kg BB, dikombinasikan dengan aplikasi topikal nanopartikel naringin pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% selama 14 hari.

Periode perlakuan berlangsung selama 14 hari. Setelah itu, tikus dimatikan dengan di anestesi ketamin (50 mg/kg BB) yang dikombinasikan dengan  xylazin (5 mg/kg BB), dan jaringan luka diambil untuk dilakukan diperiksa kontraksi penyembuhan luka, kadar MDA, SOD, GPx, ekspresi Nrf2 dan kepadatan kolagen pada histopatologi jaringan luka.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian naringin dalam bentuk nanopartikelyang diberikan secara oral dan topikal dapat mempercepat proses penyembuhan luka pada tikus diabetes. Efek ini dicapai melalui mekanisme penurunan kadar MDA, peningkatan ekspresi Nrf2, serta peningkatan aktivitas enzim antioksidan seperti SOD dan GPx, yang secara keseluruhan berkontribusi dalam mengurangi kerusakan jaringan akibat stres oksidatif.

Penulis: Sri Agus Sudjarwo

Informasi detil dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di Rochmah Kurnijasanti, Giftania Wardani, Mohd. Rais Mustafa,  Qonita Kurnia Anjani, Sri Agus Sudjarwo. Naringin nanoparticles accelerate diabetic rat wound healing by inhibiting oxidative stress. Edelweiss Applied Science and Technology. 2025.Vol. 9, No. 5, 2670-2679

AKSES CEPAT