Jamak diketahui bahwa setiap rumah tangga memiliki beragam obat yang disimpan dan dikelola untuk kebutuhan keluarga. Fakta menunjukkan bahwa hampir sekitar 44% keluarga di negara miskin menyimpan obat di rumah. Angka ini lebih tinggi lagi pada kasus negara berkembang dan negara maju dengan sekurang-kurangnya 82% keluarga menyimpan obat untuk keperluan keluarga.
Persediaan obat di rumah tangga terkadang justru menimbulkan dampak yang merugikan. Keberadaan obat di rumah dapat menimbulkan problem sampah obat yang jika tidak ditangani dengan benar akan berimbas pada kesehatan manusia, hewan dan lingkungan. Belum lagi isu keamanan dan bahaya penggunaan misalkan penyalahgunaan obat dan keracunan karena obat dijadikan mainan / dikonsumsi sembarangan oleh anak. Obat-obatan yang tidak disimpan dengan benar berpotensi rusak, kadaluwarsa dan tidak digunakan sehingga berujung pada pemborosan ekonomi.
Peneliti dari Fakultas Farmasi 51动漫 kemudian melakukan survei dengan tujuan untuk mengidentifikasi ragam obat yang disimpan di keluarga, problematika pengelolaan dan penyimpanan serta potensi kerugian ekonomi akibat munculnya sampah obat. Survei ini melibatkan 100 orang keluarga di Lamongan Indonesia.
Mayoritas responden menyatakan bahwa Ibu menjadi figur penting dalam pengelolaan obat di keluarga. Obat yang dikelola di rumah sebagian besar diperoleh dari apotek dan tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat. Oleh karena itu tidak mengherankan jika 57% obat yang disimpan merupakan obat dengan resep, 32% adalah obat yang dibeli dengan bebas dan sisanya obat herbal dan suplemen kesehatan. Lebih dari 90% obat yang disimpan masih dalam keadaan baik. Meskipun demikian, hasil perhitungan dari nilai obat yang rusak dan kadaluwarsa menunjukkan nilai rata-rata kerugian ekonomi adalah Rp. 30.000 (USD 2) per keluarga. Menariknya, peneliti mengungkapkan bahwa pengetahuan responden berkorelasi dengan sikap dalam pengelolaan dan penyimpanan obat.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ibu rumah tangga memegang peranan penting dalam pengelolaan obat di keluarga. Potensi sampah obat di rumah tangga memang tergolong kecil. Meski demikian, kerugian yang ditimbulkan cukup besar jika melihat kecilnya persentase obat rusak dan kadaluwarsa.
Penulis: Andi Hermansyah, S.Farm., Apt., M.Sc., Ph.D.
Artikel penelitian dapat diakses di:





