UNAIR NEWS – Environmental, Social, dan Governance (ESG) saat ini telah menjadi tolak ukur perusahaan menentukan strategi bisnis. National Business Case Competition (NBCC) National Webinar merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan 51动漫 (UNAIR) sebagai bagian dari sub acara .
Sebelum memulai kegiatan, Dr Dien Mardhiyah, SE MSi selaku ketua program studi S1 Manajemen menyampaikan sambutan mengenai tujuan kegiatan ini. 淲ebinar NBCC bertujuan mengenal lebih dalam strategi sebuah perusahaan dan bagaimana bisnis dapat bersaing di pasar yang semakin bersaing. Selain menambah wawasan, kegiatan ini dapat menjadi wadah berinteraksi dengan narasumber mengenai teori sustainability, ucap Dien.
ESG Menjadi Penentu Keberlanjutan Bisnis
Pembicara pertama, Kemas Adrian selaku Environmental Manager PT Pertamina Hulu Indonesia memaparkan mengenai ESG. Kemas menyampaikan bahwa setiap perusahaan ketentuan ESG dan berbeda-beda. Ketentuan ESG suatu perusahaan ditentukan oleh bidang usaha dan resiko yang dihadapi masing-masing perusahaan.
淧erusahaan pertambangan dan perminyakan memiliki karakter ESG yang berbeda. Jika pertambangan bersifat open mining, maka minyak bersifat close mining dengan risiko yang tidak sama. Dalam industri migas, aspek lingkungan terutama menyangkut keanekaragaman hayati, jejak lingkungan, dan emisi karbon. Karbon emisi penting ditekan karena bukan sekadar soal pohon bisa menyerap Carbon dioxide (CO鈧) tetapi efisiensi operasional perusahaan, jelas Kemas.
Kemas memberi contoh Raja Ampat, dimana kegiatan pertambangan yang tidak memperhatikan kawasan dilindungi dapat menyebabkan kerugian nilai investasi. Menurutnya, saat perusahaan tidak memperhatikan ESG maka dapat menghancurkan keberlanjutan bisnis.
Dari sisi sosial, ESG menekankan pentingnya keselamatan kerja dan pemanfaatan tenaga kerja lokal. Kemas dalam pemaparannya mengungkapkan kecelakaan maupun konflik dengan masyarakat lokal dapat mengganggu proses produksi. Sedangkan dari sisi pemerintah, praktik ESG yang buruk seperti penyuapan dapat menurunkan kualitas layanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa penerapan ESG, suatu bisnis dapat sewaktu-waktu berhenti.

Picu Kemampuan Analisis melalui Business Case Competition
Pembicara kedua, Olivia Valentina selaku business analyst Deloitte Consulting membagikan pengalaman mengikuti kompetisi business case. Olivia menyampaikan penting bagi peserta untuk fokus pada bagian analisis daripada hanya fokus pada solusi. Menurut Olivia, tidak semua case collaborator fokus pada solusi, sebagian justru fokus pada hasil analisis sebagai dasar merumuskan solusi yang relevan.
淎nalisis bisnis itu bukan hanya soal menjawab ya atau tidak. Misalnya pada kasus investasi stasiun charging mobil listrik, pertanyaan utamanya bukan hanya balik modal atau tidak, tetapi bagaimana tren kendaraan listrik di Indonesia, siapa target konsumennya, dan di mana potensi besar ke depan. Inilah mengapa analisis bisnis penting, karena solusi yang baik selalu lahir dari alasan yang kuat, jelas Olivia.
Dalam perjalanannya mengikuti kompetisi, Olivia mengungkap bahwa pada perlombaan pertama ia tidak langsung menang. Salah satu yang Olivia pelajari adalah saat membuat pitch deck, buat judul slide dengan menekankan insight, bukan hanya sekedar judul generik. Olivia juga menyampaikan bahwa di Deloitte, tim biasanya membantu klien membangun list prioritas program sehingga membantu klien menentukan solusi yang lebih mudah mereka jalankan.
Penulis: Kania Khansanadhifa Kallista
Editor: Ragil Kukuh Imanto





