51动漫

51动漫 Official Website

Obat Gagal Jantung dan Ginjal: Apa Manfaat ARNI pada Penyakit Ginjal Kronik?

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Penyakit ginjal kronik (PGK) sering kali tidak berdiri sendiri. Pada praktik klinik, gangguan ginjal sangat sering berjalan beriringan dengan gagal jantung, membentuk suatu kondisi yang dikenal sebagai sindrom kardiorenal. Hubungan dua arah ini membuat terapi yang menargetkan jantung hampir selalu berdampak pada ginjal攂aik menguntungkan maupun merugikan. Salah satu terapi yang kini banyak dibicarakan adalah angiotensin receptor搉eprilysin inhibitor (ARNI), khususnya kombinasi sacubitril/valsartan.

ARNI awalnya dikembangkan untuk pengobatan gagal jantung, terutama pada pasien dengan fraksi ejeksi rendah. Obat ini bekerja melalui dua mekanisme sekaligus: menghambat sistem renin揳ngiotensin揳ldosteron (RAAS) yang bersifat merusak ginjal dan jantung, serta meningkatkan aktivitas sistem natriuretic peptide yang bersifat protektif, termasuk meningkatkan natriuresis, vasodilatasi, dan menurunkan tekanan intraglomerulus. Secara teoritis, mekanisme ini sangat relevan bagi pasien PGK yang sering mengalami hipertensi dan overaktivasi RAAS.

Sebuah meta-analisis besar yang melibatkan lebih dari 28.000 pasien gagal jantung dari 18 uji klinis acak memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai efek ARNI terhadap ginjal. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan ARNI tidak meningkatkan risiko kerusakan ginjal dibandingkan ACE inhibitor atau ARB konvensional. Bahkan, terdapat kecenderungan penurunan kejadian penurunan fungsi ginjal, meskipun secara statistik tidak selalu signifikan. Menariknya, analisis lanjutan menunjukkan bahwa pasien dengan fungsi ginjal yang lebih buruk (eGFR rendah) justru memperoleh manfaat klinis yang lebih besar, terutama dalam penurunan mortalitas dan luaran kardiovaskular

Namun, manfaat ini tidak datang tanpa konsekuensi. ARNI secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko hipotensi simptomatik. Pada pasien PGK, hipotensi bukan masalah sepele karena dapat memperburuk perfusi ginjal dan mempercepat penurunan laju filtrasi glomerulus bila tidak dimonitor dengan baik. Oleh karena itu, pemilihan pasien, penyesuaian dosis, dan pemantauan tekanan darah serta fungsi ginjal menjadi kunci keberhasilan terapi.

Dari sudut pandang penyakit ginjal kronik, temuan ini membawa pesan penting. Selama ini, terapi gagal jantung sering dikhawatirkan akan 渕engorbankan ginjal. Bukti terkini menunjukkan bahwa ARNI relatif aman terhadap ginjal dan bahkan berpotensi memberikan perlindungan tidak langsung melalui perbaikan hemodinamik dan kontrol tekanan darah yang lebih baik. Hal ini sangat relevan mengingat sebagian besar pasien PGK meninggal bukan karena gagal ginjal terminal, melainkan akibat komplikasi kardiovaskular.

Kesimpulannya, ARNI bukan sekadar obat gagal jantung, tetapi juga bagian dari pendekatan terpadu pada pasien dengan penyakit ginjal kronik dan gangguan kardiovaskular. Dengan penggunaan yang hati-hati dan berbasis individual, terapi ini dapat menjadi jembatan penting dalam mengelola dua penyakit kronik yang saling memperburuk satu sama lain.

Penulis: Maulana A Empitu dr MSc PhD, Ika N Kadariswantiningsih dr MMSc PhD

Informasi detail artikel: Rampengan, D. D., Surya, S. C., Tjandra, K. C., Lele, J. A., Rampengan, S. H., Kadariswantiningsih, I. N., Idrisov, B., Idrisova, A., Empitu, M. A.”Cardiorenal safety and efficacy of angiotensin receptor憂eprilysin inhibitors in heart failure across the ejection fraction spectrum: A meta慳nalysis and meta憆egression of RCTs with 28,001 patients”. Biomedical Reports 24.2 (2026): 23.

AKSES CEPAT