Cidera anyaman saraf brakialis adalah salah satu cidera yang dapat membuat kecacatan berat pada pasien. Walaupun cidera ini tidak mengancam nyawa, kecacatan berat ini dapat mengganggu fungsi dan kualitas hidup sehari-hari. Kasus seperti ini biasanya terjadi pada usia produktif dan kebanyakan disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor (76,1%). Trauma ini juga dapat disebabkan oleh trauma energi rendah, seperti trauma tumpul dan dislokasi sendi bahu, yang dapat bermanifestasi pada gangguan fungsi anggota gerak atas, baik motorik maupun sensoriknya, yang masih dapat kembali membaik secara spontan dengan rehabilitasi. Manajemen pada cidera anyaman saraf brakialis ini pada tahun 1990an masih menganut terapi konservatif dan observasi selama 5-6 bulan sebelum akhirnya diindikasikan untuk operasi. Alasan dari pendekatan tersebut adalah untuk memberi waktu sekitar 3 bulan untuk saraf dapat sembuh sempurna, seperti yang dijelaskan pada teori degenerasi Wallerian. Masalah yang ditimbulkan dari observasi yang terlalu lama pada cidera ini adalah semakin banyak serat otot yang akan kehilangan inervasi. Bagian distal akan mulai mengalami degenerasi pada empat bulan setelah cidera, yang akan berakibat fibrosis pada otot dan semakin menurunnya kemungkinan untuk mengalami kesembuhan klinis. Sebaliknya, yang memilih melakukan terapi lebih awal dengan neurolisis eksternal berpendapat bahwa semakin awal dilakukan terapi maka akan membebaskan anyaman saraf ini dari kompresi atau jepitan dan hal ini akan membuat kesembuhan serta pertumbuhan aksonal yang lebih cepat. Kontroversi dari manajemen terapi cidera anyaman saraf brakialis ini yang menjadi latar belakang dilakukan penelitian untuk membandingkan hasil akhir fungsional pasien yang menjalani neurolysis eksternal yang lebih awal dan tidak.
Studi ini merupakan studi kohort retrospektif pada RSUD Dr. Soetomo yang menggunakan data kuesioner dan pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tahun 2003 hingga 2020. Kriteria inklusi kami adalah pasien dengan usia minimal 17 tahun pada saat operasi, yang menjalani operasi neurolysis eksternal kurang dari 12 bulan setelah kejadian, memiliki waktu follow up kurang dari 6 bulan setelah operasi, dan menjalani operasi dengan operator operasi yang sama. Kriteria eksklusi kami adalah pasien dengan tanda preganglioner dengan gejala sindroma Horner (trias pupil miosis, ptosis, dan anhidrosis), winging scapula (C5-C7), atrofi otot paraskapula (C5), atau paralisis hemidiafragma yang dapat tampak dari foto radiografi dada (C3-C5). Sebagai tambahan, pasien yang mengalami cidera anyaman saraf brakialis akibat trauma kelahiran dan yang disebabkan karena cacat bawaan, polineuropati, dan yang memiliki lesi organik di otak juga termasuk pasien yang dieksklusi.
Pada tahun 2003-2020, sebanyak 493 pasien didiagnosis dengan cidera anyaman saraf dan 40 orang telah menjalani operasi neurolisis eksternal, namun yang masuk kriteria inklusi terdapat 37 pasien. Usia rata-rata dari pasien adalah 31卤12.5 tahun dan penyebab paling sering adalah kecelakaan kendaraan bermotor. Sebagian besar cidera anyaman saraf brakialis ini tidak memiliki cidera lain, namun beberapa ada yang mengalami cidera lain seperti fraktur klavikula, fraktur humerus, fraktur femur, dan dislokasi sendi bahu. Penelitian ini membagi sampel menjadi 2 grup berdasarkan waktu antara cidera dan operasi neurolisis eksternal (sebelum dan sesudah enam bulan). Alat ukur untuk menentukan hasil keluaran fungsi pasien sebelum dan setelah operasi menggunakan DASH, VAS, dan Skor SF-36.
Studi ini menunjukkan bahwa operasi neurolisis eksternal pada pasien dengan cidera anyaman saraf brakialis memperbaiki fungsi ekstremitas atas dan kualitas hidup pasien berdasarkan skoring DASH, VAS, dan Skor SF-36 pada kedua kelompok, baik yang menjalani operasi sebelum dan sesudah enam bulan setelah cidera. Data dari penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasien yang menjalani operasi neurolisis eksternal sebelum 6 bulan memiliki hasil keluaran yang lebih baik dibandingkan yang menjalani operasi setelah enam bulan. Salah satu faktor yang menyebabkan kesuksesan pada operasi prosedur saraf ini adalah jumlah sel saraf yang masih bertahan pada ujung proksimal saraf yang cidera. Jumlah sel yang mengalami apoptosis pada ujung proksimal saraf yang cidera lebih besar setelah enam bulan dibandingkan sebelum enam bulan paska trauma. Hal ini terjadi karena terdapat Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-伪) dan sitokin apoptosis lain yang meningkat saat menjalani operasi setelah enam bulan setelah kejadian. Terdapat penelitian juga yang menyatakan bahwa waktu optimal untuk melakukan operasi pada pasien dengan cidera anyaman saraf brakialis adalah antara 3-6 bulan setelah kejadian. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa terjadi mobilitas yang lebih baik pada pasien yang menjalani operasi neurolisis eksternal yang lebih awal atau kurang dari enam bulan.
Penulis: Azmi Farhadi, Lydia Arfianti, Heri Suroto
Artikel jurnal : Early external neurolysis surgery reduces the pain and improves the functional outcomes and quality of life among traumatic brachial plexus injury patients. Bali Medical Journal (Bali MedJ) 2022, Volume 11, Number 2: 879-884 P-ISSN.2089-1180, E-ISSN: 2302-2914





