Berbagai jenis alergen inhalant dapat penyebabkan asma seperti tungau debu rumah, bulu kucing, serbuk sari, jamur atau material lain disekitar kita. Tungau debu rumah menduduki peringkat tertinggi dalam menimbulkan asma. Selain itu juga dapat menyebabkan rino- konjungtivitis alergi, dermatitis atopic dan urtikaria serta gejala yang lainnya. Asma yang disebabkan oleh alergi terhadap HDM dikaitkan dengan peningkatan respon imun tubuh yang ditandai dengan peningkatan imunoglobulin E (IgE) dalam darah. HDM memiliki alergen utama seperti Dermatophagoides pteronyssinus (Der p) dan Dermatphagoides farinae (Der f). Dalam dua decade ini, banyak penelitian tentang strategi untuk menemukan terapi baru banyak dilakukan. Sebagian besar pengobatan masih berfokus pada obat-obatan berbasis pengendalian gejala seperti antagonis reseptor leukotrien, antihistamin oral, antihistamin intranasal, kortikosteroid intranasal, dekongestan hidung. Sebagian kecil lainnya mengembangkan imunoterapi spesifik alergen (AIT) yang ditujukan untuk meningkatkan kekebalan terhadap respon paparan allergen dari sekitar kita. AIT ini diyakini menjadi satu-satunya kelas terapi yang dapat mengatasi penyebab alergi. AIT bertindak langsung pada sasaran yang tepat melalui mekanisme imunologis yang melibatkan penguatan desensitisasi terhadap rangsangan allergen.
Salah satu tantangan dalam sediaan imunoterapi adalah adanya perbedaan tingkat alergenisitas bahan baku. Hal ini disebabkan oleh perbedaan ekspresi heterolog, metode pemurnian, dan karakter protein penyebab alergi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak alergen memiliki tingkat alergenisitas yang berbeda-beda tergantung daerah asal bahan baku tersebut. Masyarakat Indonesia tentu mengalami alergiu berasal dari paparan material local. Untuk itu sangat diperlukan standarisasi bahan baku dan produk ekstrak alergen lokal sehingga mempunyai tingkat akurasi dan khasiat yang sangat baik. Standarisasi ini ditujukan pada ekastrak allergen yang digunakan dalam pembuatan bahan diagnostik atau desensitisasi.
Pada standarisasi IHDM telah dilakukan proses inkubasi tepung jagung sebagai media tumbuh tungau. Hasil optimasi menunjukkan bahwa tiga minggu merupakan waktu yang paling baik untuk menghasilkan biomarker tungau. Tungau betina dapat hidup hingga 70 hari (dengan rata-rata umur 65-100 hari), bertelur hingga 60-100 telur dalam lima minggu terakhir, dan menetas 6-12 hari kemudian. Dalam siklus hidup sepuluh minggu, tungau dapat menghasilkan sekitar 2000 partikel feses (termasuk protease Der p) hingga jumlah yang jauh lebih besar. pada penelitian ini memberikan hasil yang optimal karena adanya enzim yang mampu mendegradasi protein yang terdapat pada partikel debu, apalagi dalam hal ini akan diasumsikan sebagai partikel stasioner. Fase optimal untuk memanen tungau sebaiknya berada pada fase stasioner dengan jumlah tungau yang maksimal. Minggu ke 3 memberikan kandungan lipid (0.13%) dan konsentrasi Der p1 tertinggi (5.42 ng/mL). Ini telah ditetapkan menjadi metode standar untuk mendapatkan Ekstrak Alergen untuk IHDM.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa telah dikembangkan metode kultivasi dan ekstraksi terstandar untuk menghasilkan produk ekstrak alergen Tungau Debu Rumah Indonesia yang terstandar.
Penulis : Junaidi Khotib
Judul : The optimisation and standardisation of Indonesian house dust mites allergenic extract as a desensitising agent
Penerbit : International Pharmaceutical Education (FIP)
Link : https://pharmacyeducation.fip.org/pharmacyeducation/article/view/2244





