Prevalensi penyakit alergi terus mengalami peningkatan pada beberapa dekade dan mencapai hingga 10% populasi penduduk dunia. Peradangan dan gejala lainnya dapat terjadi setelah paparan alergen secara terus-menerus atau berulang, sehingga menyebabkan timbulnya penyakit alergi. Saat ini, penatalaksanaan terapi peradangan akibat alergi terbatas pada pengobatan simtomatik yang bersifat sementara. Sebaliknya, pengobatan jangka panjang untuk penyakit alergi dapat menggunakan Allergen-Specific Immunotherapy (AIT) yang menginduksi toleransi imun terhadap alergen masih belum banyak diungkap secara saintifik. Meskipun demikian, beberapa penelitian mengenai respon AIT telah mendorong pengembangan target terapi baru untuk mengobati penyakit alergi. MALT1 (mucosa-associated lymphoid tissue lymphoma translocation protein 1) merupakan protein pensinyalan intraseluler yang penting dalam imunitas bawaan dan adaptif sehingga menjadi target dalam pengembangan AIT. MALT1 berkontribusi terhadap reaksi hipersensitivitas fase akhir dengan mengaktifkan jalur sinyal NF-魏B. Ini akan meningkatkan regulasi sitokin proinflamasi yang dimediasi IgE dan mengarah pada aktivasi sel limfosit T. Dengan demikian, pengembangan obat baru yang menargetkan protease MALT1 merupakan strategi potensial untuk pengobatan alergi secara kausatif.
Phyllanthus niruri (P. Niruri) atau meniran dalam Bahasa Jawa telah dikenal luas dalam pengobatan tradisional karena berbagai aktivitas farmakologisnya, antara lain sebagai anti inflamasi dan anti alergi. P. niruri terbukti memiliki khasiat antiasma karena perannya dalam mengurangi jumlah degranulasi sel mast. Kandungan hypophyllanthin yang terdapat pada P. niruri memiliki aktivitas anti alergi dengan mencegah aktivasi reseptor H1. Selain itu, metabolit sekunder P. niruri lainnya terbukti menghambat TNF-伪, IL-1, dan IL-6 dengan menonaktifkan NF-魏B. Histamin dan sitokin merupakan mediator inflamasi yang dilepaskan setelah degranulasi sel mast. Kurangnya efektivitas pengobatan penyakit alergi memicu pencarian dan pengembangan agen anti-alergi baru yang berasal dari P. niruri yang cukup menjanjikan. Oleh karena itu, untuk mengevaluasi aktivitas anti alergi metabolit sekunder P. niruri terhadap protease MALT1, yang mengatur respon inflamasi alergi, dilakukan skrining in silico menggunakan molekuler docking.
Evaluasi sifat fisikokimia dan kemiripan obat ditentukan dengan menggunakan SwissADME. Prediksi sifat toksisitas dianalisis menggunakan pkCSM. AutoDock Vina digunakan untuk mengevaluasi energi pengikatan terbaik senyawa terhadap reseptor (PDB ID: 3V4O dan 4I1R). Visualisasi diperoleh dengan menggunakan visualisator Biovia Discovery Studio. Analisis docking menunjukkan bahwa sepuluh dari 21 senyawa termasuk astragalin, eriodictin, punigluconin, kaempferol 4′-rhamnoside, rutin, fisetin 4′-glucoside, quercitrin, quercetin, quercetin-3-O-glucoside, dan hinokinin, memiliki afinitas pengikatan yang lebih rendah dibandingkan ligan asli dan obat referensi pada reseptor 3V4O. Pada reseptor 4I1R, hanya tiga senyawa yang memiliki afinitas pengikatan lebih rendah dibandingkan ligan aslinya, namun hanya satu senyawa yang memiliki afinitas pengikatan lebih rendah dibandingkan semua obat referensi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa astragalin, eriodictin, punigluconin, kaempferol 4′-rhamnoside, rutin, fisetin 4′-glucoside, quercitrin, quercetin, quercetin-3-O-glucoside, dan, khususnya hinokinin diprediksi memiliki aktivitas anti-alergi yang kuat sehingga dapat dikembangkan sebagai agen penghambat protease MALT1 yang kuat dan selektif. Namun, penelitian in vitro dan in vivo lebih lanjut juga diperlukan untuk mendukung pengembangan agen baru untuk mengobati peradangan alergi dengan menargetkan protease MALT1.
Judul : Investigating the anti-allergic activity of Phyllanthus niruri via MALT1 protease inhibition: An in silico approach
Jurnal : Pharmacy Education (2023) 23(4) 196 – 202
Penerbit : International Pharmaceutical Education (FIP)
DOI : https://doi.org/10.46542/pe.2023.234.196202
ISSN : ISSN 1477-2701
Link : https://pharmacyeducation.fip.org/pharmacyeducation/article/view/2230





