UNAIR NEWS menyelenggarakan kuliah tamu internasional pada Selasa (23/04/2025) secara daring. Kegiatan itu bertajuk Cross-Cultural Applications in Psychology, dengan menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UNAIR yaitu Prof Dr Suryanto M Si, sebagai pembicara utama.
Melalui kuliah tamu tersebut, Prof Suryanto membahas penerapan prinsip-prinsip lintas budaya dalam bidang psikologi. Ia menekankan bahwa pendekatan lintas budaya menjadi aspek krusial dalam memahami perilaku manusia di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara global.
淧sikologi lintas budaya membantu kita memahami bagaimana norma, nilai, dan praktik sosial dalam suatu kebudayaan memengaruhi cara berpikir, emosi, dan interaksi sosial individu, ungkap Dekan Fakultas Psikologi UNAIR.
Memahami Perbedaan Budaya, Kunci Profesionalisme Global
Dalam pemaparannya, Prof Suryanto menyoroti pentingnya memahami perbedaan budaya dalam konteks perilaku. Ia menjelaskan bahwa gaya komunikasi, cara mengekspresikan emosi, dan cara pandang terhadap waktu sangat dipengaruhi oleh latar budaya masing-masing.
淪ebagai contoh, budaya Barat seperti Amerika Serikat cenderung mengedepankan komunikasi langsung, sementara budaya Asia Timur lebih memilih komunikasi tidak langsung demi menjaga keharmonisan, jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan perbedaan antara budaya individualistik dan kolektivistik. Budaya individualistik, seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara, lebih menekankan kebebasan pribadi dan ekspresi diri. Sementara itu, budaya kolektivistik seperti di Asia dan Afrika lebih mengutamakan kebersamaan dan harmoni sosial.
淧emahaman ini penting dalam konteks kerja lintas budaya, agar tidak terjadi salah paham yang dapat mengganggu kerja sama profesional maupun hubungan sosial, tegasnya.
Menerapkan Metodologi Riset Lintas Budaya
Selain itu, Prof Suryanto mengulas metodologi riset dalam psikologi lintas budaya. Ia menekankan pentingnya prinsip equivalence dalam alat ukur psikologis agar hasil penelitian tidak bias budaya. Hal ini mencakup penggunaan pendekatan emic yang memahami budaya dari dalam konteksnya sendiri dan pendekatan etic yang mencari prinsip psikologis universal lintas budaya.
淏anyak teori psikologi Barat yang tidak selalu relevan di konteks non-Barat. Oleh karena itu, adaptasi kultural dalam teori, metode, dan intervensi menjadi sangat penting, imbuhnya.
Menghindari Bias dan Etnosentris
Kuliah tamu juga menyoroti bahaya etnosentris dalam psikologi. Prof Suryanto mengingatkan bahwa kecenderungan menganggap budaya sendiri lebih unggul bisa mengakibatkan diskriminasi dan konflik sosial.
淧sikolog harus mengedepankan perspektif relativisme budaya dan mampu menghindari generalisasi yang bersifat merendahkan budaya lain, ucapnya.
Sebagai solusi, ia menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan lintas budaya bagi profesional di bidang psikologi dan layanan sosial. Mengakhiri pemaparannya, Prof Suryanto mengajak mahasiswa untuk mengembangkan kepekaan budaya sebagai bagian dari kompetensi profesional. 淜ita tidak bisa mengandalkan pendekatan satu ukuran untuk semua. Kita perlu psikolog yang peka budaya dan mampu menjawab tantangan keberagaman, tutup Prof Suryanto.
Penulis: Nafiesa Zahra
Editor: Khefti Al Mawalia





