n

51动漫

51动漫 Official Website

Pakar Stroke FK UNAIR Berpulang

unair
Persemayaman Prof.Dr. Paulus Gunawan Budiarto, Sp.S(K) di FK UNAIR. (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)

UNAIR NEWSCivitas Akademika 51动漫 kembali berduka. Guru Besar Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran UNAIR Prof.Dr. Paulus Gunawan Budiarto, Sp.S(K) wafat dalam usia 84 tahun.

Prof.Dr. Paulus Gunawan Budiarto, Sp.S(K) atau akrab disapa Prof Gun wafat pada hari Sabtu (20/1) di RS Adi Husada, Surabaya. Sebelum dikremasi di Eka Praya, jenazah disemayamkan terlebih dulu di FK Aula FK UNAIR dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Unika WM), Kamis (23/1).

Rasa kehilangan tidak hanya menyelimuti keluarga besar. Kepergian suami dari Jeanne Anggraini Budiarto ini juga menyisakan kesedihan di benak sejawat dokter lainnya, khususnya para dokter bidang ilmu neurologi FK UNAIR.

Sebut saja dua murid Prof Gun dari dua angkatan berbeda yakni Prof. Troeboes Poerwadi, P dr.,Sp.S serta Ahmad Firdaus, dr., Sp.S. Usai menghadiri acara persemayaman, Firdaus dan Prof. Troeboes berbagi sepotong pengalaman berkesan selama bersama sang profesor.

Sebagai murid, Firdaus terkesan dengan sosok Prof Gun. Baginya Prof Gun adalah guru panutan. Semasa hidup, Prof Gun dikenal sebagai sosok guru yang sabar, disiplin, dan telaten. Pada bidang neuro intervensi yang digelutinya hingga sekarang ini, Firdaus merasakan adanya kemudahan selama proses belajar bersama almarhum.

Bidang neuro intervensi merupakan cabang ilmu neurologi yang berhubungan dengan pembuluh darah dan stroke. Prof Gun merupakan pakar stroke yang berhasil membangun dasar-dasar keilmuan manajemen stroke. Sehingga para anak didiknya sekarang bisa merasakan 榖uah manis dari kontribusi Prof Gun selama ini.

淧ada saat itu alat-alat kedokteran tidak secanggih sekarang. Namun berkat keilmuan stroke yang beliau bangun, memudahkan kami dalam belajar dan beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi kedokteran seperti sekarang. Itulah yang kami peroleh dari beliau, ujar dokter lulusan S1 FK UNAIR angkatan 2000 itu.

Posisi Prof Gun sebagai guru paling sepuh dan paling senior, tidak serta merta membatasi jarak dengan anak didiknya. Prof Gun tetap membangun komunikasi, seperti tidak ada jarak dengan para generasi dokter yang berada jauh di bawahnya.

Firdaus ingat betul, meski Prof Gun sudah sepuh, namun beliau tetap aktif berkomunikasi dengan sejawat dokter lainnya di grup diskusi mailing list neurologi. Melalui grup ini, ribuan dokter spesialis saraf se-Indonesia bertemu dan saling berdiskusi via maya.

淜alau kami share artikel terbaru, penelitian terbaru, beliau aktif berkomentar. Bagi saya itu istimewa, karena meskipun sudah sepuh beliau tetap terbuka dengan perkembangan teknologi, ungkapnya.

Sementara itu, kesan mendalam juga dirasakan Prof. Troeboes yang juga Guru Besar Ilmu Neurologi FK UNAIR. Sebagai seorang yang pernah merasakan didikan Prof Gun, pria lulusan Spesialis Neurologi angkatan 1968 tersebut masih terkesan dengan kesabaran dan ketelatenan beliau dalam mengajar.

Prof Troeboes masih teringat terakhir bertemu Prof Gun ketika ia sedang menyambangi cucunya di RS Premier Surabaya. Tanpa disengaja keduanya berpapasan. Prof Gun bilang apes mas trubus. Saya jawab 淟ho kenapa?

Prof Gun bercerita bahwa sedang sakit dan mengaku pasrah. Nek wes tumor yo wes bar, ungkapnya menirukan ucapan Prof Gun yang sempat mendapat perawatan di Singapura kala itu.

Semasa hidup, Prof Gun tidak pernah mengeluh kesakitan kepada Prof Troeboes. 淲aktu saya ke Adi Yasa menengok almarhum, saya lihat wajah beliau terlihat begitu pasrah sekali, ungkapnya.

Hidup memang harus dijalani dengan rasa syukur dan berpasrah. Termasuk ketika harus menghadapi takdir Tuhan berupa sakit.

淢enurut saya, kematian adalah bagian dari perjalan hidup, sepantasnya kita terima dengan hati yang lapang, ujarnya. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

AKSES CEPAT