UNAIR NEWS Kerja saja, kuliah biayanya mahal, tutur salah seorang siswa kepada tim menirukan kerabatnya memberikan nasihat saat menjelang kelulusan. Bagi segenap remaja SMA dari kalangan kurang mampu, ungkapan tersebut memang kerap menjadi momok. Terutama menjadi batu sandungan untuk memotivasi diri agar bisa menempuh pendidikan tinggi.
Jangankan berencana melanjutkan pendidikan tinggi di kampus favorit, membayangkan untuk mengikuti pendidikan pasca SMA saja dibutuhkan keberanian. Apalagi berada di daerah yang minim informasi dan akses internet.
Kendala-kendala itulah yang coba dijelaskan sekaligus dihilangkan tim AUBMO, organisasi mahasiswa bidikmisi 51, kala menggelar sosialisasi beasiswa bidikmisi di daerah Tambak, Banyumas, Jawa Tengah. Tim yang terdiri atas tiga mahasiswa UNAIR tersebut berupaya memupuk asa siswa-siswi di SMA PGRI Tambak agar tak takut bermimpi.
Kurang mampu secara ekonomi bukan berarti tak berhak mendapatkan pendidikan tinggi, tutur Fitri, anggota tim, membuka sosialisasi itu. Pemerintah telah memberikan beasiswa terhadap siswa-siswi kurang mampu untuk berkuliah di kampus-kampus favorit. Manfaatkanlah, imbuhnya.
Dalam sosialisasi pada Selasa (16/1) itu, sebanyak 28 siswa memperhatikan dengan saksama penjelasan oleh tim. Sesekali di antara mereka serius mencatat hal-hal yang penting, lantas mempertanyakannya.
Daftarnya ini memang gratis, Mbak? ujar salah seorang siswa ragu.
Menurut Rizki Nur Azizah, salah seorang anggota tim, kebanyakan siswa di sana memang begitu, ragu. Bahkan orang tuanya pun demikian. Sebab, sebelum-sebelumnya, belum ada mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi dari sana.
Ya, mungkin karena belum ada faktanya. Jadi, mereka (siswa, Red) ragu sehingga memilih untuk memupus keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Karena itu, oleh orang tua, kerabat, dan orang dekatnya, mereka diarahkan bekerja setelah lulus dari SMA, ungkapnya.
Selain itu, lanjut dia, di daerah tersebut, meski berada tidak terlalu jauh dengan pusat kecamatan, akses informasi memang cukup menjadi kendala. Karena itu, masyarakat, terutama para siswa, tidak cukup memiliki banyak informasi tentang beasiswa dan kehidupan kampus. Hasilnya, semangat serta gambaran untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sulit dibangun.
Novi berharap para siswa terus membangun, lantas memupuk, keinginan dan motivasinya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Yakni, dengan berusaha berupa bersungguh-sungguh dalam belajar serta berdoa.

Sementara itu, Kepala SMA PGRI Tambak Sriyatun mengakui bahwa kehadiran tim AUBMO sangat membantu dalam memberikan informasi terkait dengan perguruan tinggi. Khususnya beasiswa bidikmisi dan kehidupan kampus. Juga membangun motivasi dan semangat siswa-siswinya untuk berani bermimpi.
Bukan berarti tak punya keinginan, tapi sering terkendala informasi. Kendalanya memang minimnya informasi terkait dengan hal itu. Kehadiran mereka (tim AUBMO, Red) sangat membantu kami, katanya soal sosialisasi tersebut. Saya berharap anak-anak (para siswa, Red) bisa termotivasi dan bersemangat serta mampu diterima di salah satu perguruan tinggi negeri, terutama di UNAIR, tambahnya. (*)
Penulis: Novitri Widiasih
Editor: Feri Fenoria





