51动漫

51动漫 Official Website

Pakar UNAIR Ungkap Dampak Tambang Nikel di Raja Ampat

Ilustrasi Raja Ampat (Sumber: cdn.pixabay.com)
Ilustrasi Raja Ampat (Sumber: cdn.pixabay.com)

UNAIR NEWS – Raja Ampat, kawasan konservasi laut yang dikenal sebagai surga bawah laut dunia, kini menghadapi ancaman serius dari aktivitas pertambangan nikel. Kawasan yang selama ini menjadi ikon ekowisata Indonesia itu dikhawatirkan mengalami kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya mineral, menyusul terbitnya izin tambang di wilayah tersebut.

Pakar ekonomi , Prof Dr Rossanto Dwi Handoyo Ph D, menilai bahwa Raja Ampat memiliki peran penting dalam rantai pasok global, khususnya untuk industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat. Tambang nikel di wilayah ini berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, termasuk pendapatan daerah hingga Rp2 triliun per tahun dan penyerapan tenaga kerja lokal sekitar 5.000 orang.

Namun, nilai strategis ini tidak terlepas dari konsekuensi. 淎ktivitas pertambangan memang mendorong ekonomi lokal, tetapi jika dilakukan tanpa pengelolaan lingkungan yang baik, dampaknya akan serius, ujarnya.

Eksploitasi tambang di wilayah dengan ekosistem laut yang rapuh menimbulkan kekhawatiran. Keindahan bawah laut Raja Ampat yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara terancam oleh pencemaran dan kerusakan habitat.

Kerusakan lingkungan dapat menurunkan populasi ikan pelagis dan biota laut lain yang selama ini menjadi tumpuan hidup nelayan lokal. Jika terus berlangsung, degradasi ini akan berdampak pada sektor perikanan, pariwisata, bahkan ekonomi jangka panjang masyarakat sekitar.

Pakar ekonomi , Prof Dr Rossanto Dwi Handoyo Ph D. (Foto: Istimewa)

Selain dampak langsung terhadap lingkungan, aktivitas tambang juga dapat memengaruhi citra Indonesia di mata dunia. Isu lingkungan dan sosial menjadi pertimbangan penting dalam kerja sama internasional, termasuk perjanjian dagang dan investasi.

淜ontroversi lingkungan bisa membuat investor ragu dan merusak reputasi Indonesia sebagai negara yang ramah lingkungan, jelas Prof Rossanto. Ketidaksinkronan antar lembaga pemerintah dalam mengelola izin tambang juga dinilai dapat memperburuk kepercayaan investor.

Pakar ekonomi itu menekankan pentingnya kebijakan hilirisasi yang seimbang antara eksploitasi dan keberlanjutan. Proses hilirisasi, jika dilakukan dengan benar, dapat meningkatkan nilai ekspor dan mendorong transfer teknologi. Namun, ia mengingatkan agar dampak lingkungan tetap menjadi perhatian utama.

淜alau lingkungan rusak, wisatawan hilang, nelayan kehilangan mata pencaharian, dan generasi mendatang hanya mewarisi kerugian, tuturnya.

Penulis : Rosali Elvira Nurdiansyarani

Editor : Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT