UNAIR NEWS – Pameran lukisan di (FIB) menyemarakkan rangkaian peringatan Dies Natalis Ke-13 Departemen Magister Kajian Sastra dan Budaya (MKSB) 51动漫 (UNAIR) pada Senin (6/3/2023).
Perayaan Dies Natalis MKSB UNAIR kali ini terlihat berbeda karena mampu menghidupkan sepanjang lorong FIB UNAIR dengan beragam lukisan. Tercatat sebanyak 40 karya lukisan dari 23 pelukis Adhicipta Art Community di sepanjang koridor FIB yang dipajang hingga akhir pekan nanti.
Gelaran ini merupakan kolaborasi antara Adhicipta Art Community dengan MKSB UNAIR dengan tajuk The Art Rendezvous: Memaknai Dunia melalui Seni. Kata Rendezvous sendirimengacu pada suatu pertemuan dari berbagai latar belakang dengan cara yang tidak terduga.
淜arya seni ini sebenarnya tidak memiliki tema utama yang signifikan karena kami ingin semua orang dari berbagai kalangan dapat berpartisipasi dalam menciptakan seni, ungkap Q Sakti Laksono, Ketua Adhicipta Art Community.

Ia menambahkan, segala hal yang dimunculkan dalam seni akan menghadirkan kedamaian, kejujuran, dan mampu mempengaruhi dunia. Para seniman berharap dapat menjadikan seni lukis menjadi bagian dari akademik. Dengan dampingan akademisi, maka karya seni di daerah tersebut akan cepat berkembang.
淪aya ingin Kota Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan tetapi juga sebagai Kota Budaya. Apalagi Surabaya memiliki banyak objek pendukung seni seperti museum, bangunan bersejarah, dan gedung-gedung tinggi. Apabila seniman bertambah, maka penyuka seni akan meningkat sehingga Surabaya bisa menjadi kota budaya, tambahnya.
Imam selaku Menteri Kesenian dan Budaya BEM FIB sekaligus panitia juga berharap bahwa mahasiswa yang mengunjungi acara ini tidak hanya menjadi penonton dan penikmat keindahan karya seni saja, namun juga mampu mengkritik dan memaknai apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh pelukis.
淪emoga dengan diadakan acara ini teman-teman mahasiswa bisa melihat, menikmati, mengkritik, karya lukisan para pelukis ini. Karena dari satu kanvas lukisan tidak hanya menggambarkan sesuatu yang tidak bermakna. Justru kalau kita pelajari secara mendalam lukisan itu adalah gambar yang berbicara, pungkasnya. (*)
Penulis: Aidatul Fitriyah
Editor : Binti Q Masruroh





