51动漫

51动漫 Official Website

Pantau Kegiatan Ramadan, Perlunya Kerja Sama Orang Tua dan Guru

Ilustrasi kegiatan positif anak selama bulan Ramadan (Foto: freepik)
Ilustrasi kegiatan positif anak selama bulan Ramadan (Foto: freepik)

UNAIR NEWS – Bulan Ramadan menjadi momentum bagi anak sekolah untuk mengembangkan diri, baik secara akademik maupun sosial. Dalam perspektif pendidikan, kegiatan selama Ramadan dapat membentuk karakter dan keterampilan sosial siswa melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari. 

Melalui wawancaranya pada Minggu (2/3/2025), Pakar Sosiologi Pendidikan 51动漫, Prof Tuti Budirahayu Dra MSi menekankan bahwa aktivitas siswa selama Ramadan sebaiknya mengikuti ritme ibadah dan nilai-nilai sosial yang diajarkan dalam bulan suci.

Kegiatan produktif selama puasa dapat meningkatkan prestasi akademik dan keterampilan sosial siswa. Prof Tuti menjelaskan bahwa Ramadan melatih siswa dalam menginternalisasi nilai-nilai sosial. “Dalam amalan ibadah Ramadan, siswa dilatih untuk menerapkan disiplin, sabar, bertoleransi, dan menghargai sesama,” ujarnya.

Lebih jauh, Prof Tuti menyebutkan bahwa siswa belajar mengelola waktu lebih baik melalui aktivitas terstruktur. Hal tersebut. sambungnya, dapat berpengaruh pada efektivitas belajar dan kesiapan menghadapi tantangan akademik setelah Ramadan. Jika dijalankan dengan baik, kegiatan Ramadan dapat membentuk kebiasaan positif jangka panjang.

Pakar Sosiologi Pendidikan 51动漫, Prof Tuti Budirahayu Dra MSi. (Foto: Istimewa)

Agar tetap produktif selama Ramadan tanpa merasa lelah berlebihan, penting bagi siswa untuk memiliki jadwal harian yang seimbang. Ia menyarankan agar siswa memulai hari dengan tadarus Al-Qur檃n selama 10-15 menit setelah sahur dan sholat Subuh, sebelum melanjutkan dengan belajar serta mengerjakan tugas sekolah hingga waktu Dhuhur. Setelah Sholat Dhuhur, mereka disarankan untuk beristirahat dengan tidur siang secukupnya agar tetap bugar menjalani aktivitas di sore dan malam hari.

Ia menekankan pentingnya pengelolaan waktu dengan baik agar siswa tetap aktif dan tidak terjebak dalam kebiasaan yang kurang produktif. “Berpuasa tidak identik dengan tidur atau bermain-main, apalagi diberi libur lalu dimanfaatkan untuk bermain game melalui gawainya atau bermain-main ke luar rumah tanpa tujuan yang jelas,” tegasnya.

Setelah menjalankan Sholat Ashar, siswa dapat kembali mengerjakan tugas sekolah sambil menunggu waktu berbuka. Setelah berbuka puasa, mereka dianjurkan untuk melaksanakan ibadah seperti sholat tarawih dan tadarus Al-Qur檃n. Jadwal tersebut, lanjutnya, membantu siswa tetap aktif dan tidak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Sekolah dan guru memiliki peran dalam membimbing siswa selama Ramadan. Prof. Tuti menekankan pentingnya kesepakatan antara guru, siswa, dan orang tua dalam menyusun jadwal kegiatan. “Setiap anak harus berkomitmen dengan jadwal yang telah dibuatnya,” jelasnya.

Orang tua juga berperan dalam memastikan anak tetap produktif selama puasa. Prof. Tuti menyarankan orang tua mengecek aktivitas anak setelah pulang bekerja. “Ketika kembali ke rumah, waktu yang tersisa dapat digunakan untuk mengecek kegiatan anak,” tambahnya.

Kecanduan gawai menjadi tantangan yang perlu diatasi selama Ramadan. Prof. Tuti menyarankan agar anak-anak dialihkan ke kegiatan ibadah dan aktivitas produktif. “Perlu kerja sama antara anak, orang tua, dan guru agar Ramadan menjadi lebih bermakna,” pungkasnya.

Penulis: Adinda Aulia Pratiwi

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT