UNAIR NEWS – Seminar yang diadakan oleh BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik () 51动漫 (UNAIR) sukses menghadirkan Dr Emil Elestianto Dardak BBus MSc PhD. Dalam diskusi yang bertajuk Menata Trajektori Masa Depan Indonesia di Tengah Paradoks antara Sumber Daya dan Realita tersebut, Emil menjelaskan keadaan Indonesia saat ini.
Trajektori sebagai Alat Berdaulat
Mengawali topik, Ia mendefinisikan trajektori sebagai jalur yang menunjukkan arah ke depan sekaligus alat bangsa untuk mencapai tujuan. Trajektori seringkali berhadapan pada dua pilihan, antara melihat hanya ke depan, atau juga melihat dari belakang. Ia merefleksikan keadaan Indonesia sebagai negara yang kaya, namun juga mempertanyakan alasan mengapa kesejahteraan belum tercapai.
淚ndonesia negara agraris. Seharusnya, orang lain yang takut sama kita. Tapi kenapa kita yang takut dengan impor dari luar negeri? Seharusnya kita yang lebih menguasai pasar pangan dunia, itu paradoks, tuturnya pada Senin (24/11/2025).
Baginya, kemandirian pangan merupakan kata kunci. Jika negara belum bisa mandiri pangan, maka negara akan sulit dalam mengutilisasi sumber daya alamnya. 淜alau ketahanan, yang penting stok aman. Mau stoknya ngambil dari luar negeri, tidak apa-apa. Tapi kalau kedaulatan pangan, kita harus berdaulat. Artinya, harus diproduksi di dalam negeri, kita tidak bergantung pada luar negeri, jelasnya.
Belajar dari Singapura
Selanjutnya, Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa paradoks sumber daya realita adalah variatif. Ia khawatir posisi comparative advantage Indonesia berada pada beberapa langkah di belakang, maka perlu dilakukan suatu tindakan. Mengutip perkataan Tony Blair, ia menjelaskan tiga keputusan strategis oleh mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew, di awal berdirinya Singapura.
Pertama, saat Singapura diputuskan hubungannya oleh The Federation of Malaya, Lee Kuan Yew memutuskan agar Singapura menggunakan bahasa Inggris yang menurutnya merupakan bahasa dunia. Kedua, Singapura tidak boleh mentolerir korupsi sedikit pun. Mereka percaya bahwa pengeluaran yang besar untuk menggaji pekerja profesional bukanlah suatu masalah.
Ketiga, mengutip Tony Blair, Lee Kuan Yew memutuskan bahwa Singapura terbuka terhadap talenta dari mana saja, tidak ada pembatasan. Sehingga siapapun boleh berkiprah di Singapura. Kesuksesan Singapura terlihat dari National University of Singapore yang dulu dipandang sebelah mata, saat ini berhasil menempati posisi sepuluh besar kampus terbaik di dunia.
Ia menekankan bahwa Indonesia tidak harus menerapkan hal yang sama, namun setidaknya dapat menjadikannya contoh. 淒ia (Singapura, red) cari yang terbaik tanpa memandang latar belakang negara, mahasiswa juga. Apa artinya? Bahwa memang mindset-nya, bukan I’m rich and I have to use it, tidak. But we have to be the best to survive. Jadi mentalitasnya adalah kalau tidak struggle, tidak bisa, tutupnya.
Penulis: Uswatun Khasanah
Editor: Yulia Rohmawati





