Pandemi Corona saat ini menjadi isu global yang sangat memprihatinkan. Per Januari 2021, tercatat 100 juta jiwa terinfeksi virus Corona di seluruh dunia. Sementara di Indonesia, kasus Corona mencapai 1.051.795 jiwa (Covid19.go.id) dan di Jawa Timur sendiri, 111 orang dinyatakan positif dan 7.691 orang meninggal dunia (http://infocovid19.jatimprov.go.id/).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 15% populasi dunia (1 miliar orang) hidup dengan beberapa bentuk disabilitas (UNWTO, 2021). Aksesibilitas untuk semua fasilitas, produk, dan layanan pariwisata harus menjadi bagian sentral dari setiap kebijakan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Aksesibilitas tidak hanya tentang hak asasi manusia, namun juga tentang bagaimana industri pengelola destinasi dan permerintah mampu merangkul semua pengunjung. Pemulihan pariwisata nantinya diharapkan harus mencakup aksesibilitas sebagai pilar utama dalam langkah-langkah untuk meningkatkan penawaran dan daya saing destinasi, berkontribusi pada lingkungan dan layanan wisata yang inklusif.
Penyandang disabilitas dan lansia sangat terpengaruh oleh COVID19. Mereka sering dikecualikan dari komunikasi tentang kesehatan publik dan pariwisata, pengambilan keputusan dan informasi tentang aksesibilitas layanan dasar. Kondisi kesehatan dan isolasi sosial dapat membuat mereka berisiko tinggi. Wabah pandemic benar-benar menyulitkan kaum disabilitas.
Sejak tahun 2009, Kota Surabaya sudah mengawali diri sebagai Kota Inklusif. Berkomitmen pada hal itu, setiap pembangunan di kota Surabaya diarahkan untuk mengakomodir aktivitas kaum disabilitas, terutama terkait dengan fasilitas dan hak bagi mereka (Nurshalikhah, 2019). Munculnya wabah Corona menimbulkan pertanyaan kritis apakah kepentingan dan kebutuhan para kelompok kelompok rentan sudah diepertimbangkan dalam persiapan pembukaan kembali destinasi wisata. Sejauh mana pemerintah mempersiapkan dan mengincludekan kepentingan dan kebutuhan kelompok rentan dalam kebijakan dan pembangunan pariwisata di era pandemic ini.
Penelitian ini akan berkontribusi dari dua sisi: praxis dan teoritis. Dari sisi praxis, bagaimana industri mempersiapkan destinasi wisatanya dengan mengakomodir kebutuhan kaum disability akan memberikan informasi dan angin segar bagi kaum disability dalam peningkatan akses berwisata. Tidak hanya dari sisi praxis, dari sisi akademik, penelitian ini juga berkontribusi untuk menganalisa kebijakan pariwisata dengan menekankan pada promosi inklusif agar dapatnya kebijakan 楾ourism for all dapat terwujud.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif secara signifikan penting untuk penelitian sosial, termasuk studi hubungan sosial (Flick 2002).
Menggambar pada karakteristik penelitian kualitatif dan dengan fokus pada kota Surabaya, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplore atntangan dalam torusim microentrepreneuship di destiansi wisata baru.
Studi ini menawarkan tiga hal utama tentang bagaimana mencapai lebih mudah diakses atau inklusifpariwisata di negara berkembang seperti Indonesia. Pertama, pariwisata untuk orang-orang dengandisabilitas merupakan peristiwa sarat emosi yang perlu diperhatikan oleh pengelola pariwisata.Karyawan industri pariwisata harus menyadari, dan memahami, spesifik kebutuhan penyandang disabilitas. Komunitas tujuan perlu memberikan pendidikan yang lebih baik tion tentang bagaimana berkomunikasi dengan wisatawan penyandang cacat dan berempati melalui lebih besar kesadaran akan kesulitan yang mungkin mereka hadapi.Kedua, penyandang disabilitas harus diajak berkonsultasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan pariwisata proses pada tingkat tujuan.
Ketika konsultasi tersebut dilakukan, seharusnyamenyebarluaskan kepada anggota kelompok disabilitas untuk menunjukkan nilai pemangku kepentingan disabilitas keterlibatan dalam perencanaan destinasi dengan cara yang mengutamakan suara wisatawan dengan disabilitas. Ketiga, destinasi pariwisata harus menawarkan pengalaman yang lebih sensoris, selain itu daripada melihat dan bergerak. Misalnya, berbagai elemen berbasis sentuhan dan audio dan inovasi harus ditambahkan ke pengalaman destinasi. Penambahan multi-indera ini akan menguntungkan semua wisatawan, bukan hanya penyandang disabilitas. Tentu saja, ini juga berarti bahwa aksesibilitas fasilitas harus ditingkatkan. Perbaikan dapat berupa jalur yang tidak terhalang untuk akses kursi roda, atau kursi tambahan untuk istirahat bagi orang yang hanya mampu bergerak jarak pendek. Perbaikan lainnya termasuk menyediakan kursi roda, brailletanda, tanda audio, blok pemandu, dan ruang pandang yang lebih rendah sehingga fasilitas dapatdinikmati dalam posisi duduk. Sebagai implikasi teoritis, penelitian ini memodifikasi teori peristiwa afektif dalam penerapannyauntuk memahami disabilitas dalam pariwisata dengan menambahkan elemen sosial ke dalam teori. Kitamengusulkan bahwa pemanfaatan sumber daya sosial adalah salah satu mekanisme penyangga yang digunakan oleh wisatawan dengan disabilitas untuk mengurangi reaksi afektif yang dialami oleh peristiwa pariwisata yang merugikan.
Sebelumnya, kerangka peristiwa afektif hanya memfasilitasi teori kognitif dan disposisional dan meninggalkan perspektif sosial yang belum dijelajahi. Penambahan ini berkontribusi pada pengembangan teori peristiwa afektif, terutama dalam konteks pariwisata yang inklusif dan dapat diakses secara sosial.Studi ini berkontribusi pada pertumbuhan penelitian pariwisata yang dapat diakses dan disabilitas. Pertama, penelitian ini berfokus pada negara berkembang pariwisata yang dapat diakses, khususnya Indonesia konteks. Sampai saat ini, sebagian besar penelitian telah dilakukan dalam konteks Barat, dengan Jerman, Spanyol, Australia, dan Inggris Raya menjadi lokasi sebagian besar penelitian tentang disabilitas dan pariwisata yang dapat diakses. Memang, studi yang ada tentang pariwisata yang dapat diakses di negara berkembang negara didominasi oleh penelitian yang berkaitan dengan infrastruktur fisik untuk orang-orang dengan cacat. Studi semacam itu jarang menggambarkan pengalaman hidup wisatawan penyandang disabilitas.
Penulis: Dian Yulie Reindrawati
Link Jurnal: 13310.https://doi.org/10.3390/su142013310





