Odontologi forensik merupakan salah satu cabang ilmu forensik yang menggunakan gigi sebagai sarana identifikasi, antara lain melalui penggunaan dental record, analisis bitemark, serta estimasi usia. Estimasi usia bertujuan untuk mengidentifikasi korban tak dikenal, memperkirakan usia saat kematian maupun usia kronologis anak dengan catatan kelahiran yang tidak diketahui. Objek yang biasanya digunakan dalam estimasi usia adalah gigi dan tulang, tetapi gigi dianggap mempunyai kelebihan dibandingkan dengan tulang karena dapat dipergunakan memperkirakan usia individu dari tingkat prenatal sampai dengan usia dewasa, sedangkan tulang hanya dapat digunakan pada rentang usia tertentu. Gigi juga merupakan bagian tubuh yang paling kuat dibanding yang lain sehingga dapat digunakan untuk identifikasi kasus korban yang sulit dikenali karena terbakar, mutilasi maupun mengalami dekompisisi
Penggunaan gigi sebagai sarana estimasi usia lebih umum digunakan karena tahap kalsifikasi gigi sangat dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga variasi bentuk maupun ukuran gigi lebih sedikit dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Estimasi usia menggunakan gigi dapat dilakukan dengan berbagai metode antara lain metode radiografis, morfologis, dan biokimiawi. Pemilihan metode dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain: keadaan individu (korban meninggal atau bukan), rentang usia, kondisi gigi dan juga ketersediaan fasilitas.
Penelitian ini menggunakan metode Demirjian dan Willems yang merupakan metode radiografis dan bersifat non “ invasive. Metode tersebut dipilih karena menggunakan tahap kalsifikasi gigi sebagai indikator penilaian sehingga dianggap lebih akurat dibanding menggunakan indikator waktu erupsi gigi. Metode Demirjian merupakan metode estimasi usia anak usia 3 – 17 tahun yang menggunakan sistem scoring dari delapan tahapan kalsifikasi gigi permanen rahang bawah kiri. Kelebihan metode ini adalah sederhana, berbasis foto radiografi panoramik dan memungkinkan standarisasi yang lebih baik. Sistem penilaian dari metode ini juga bersifat universal dan dapat dilakukan dengan menggunakan sampel yang relatif sedikit. Metode Willems merupakan modifikasi dari metode Demirjian yang dianggap memiliki tingkat overestimasi tinggi. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda saat membandingkan antara metode Demirjian dan Willems untuk mengetahui keakuratan kedua metode tersebut dalam memperkirakan usia.
Hasil penelitian menunjukkan metode Demirjian mendapatkan hasil underestimasi
pada laki-laki sebesar – 0,57 ± 1,17 tahun dan oversestimasi pada perempuan sebesar 0,58 ± 1,40 tahun, sedangkan metode Willems mendapatkan hasil overestimasi pada laki-laki sebesar 0,10 ± 0,96 tahun dan overestimasi pada perempuan sebesar 0,44 ± 0,94 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dinyatakan bahwa metode Willems lebih akurat dibandingkan dengan metode Demirjian. Hasil tersebut sesuai dengan beberapa penelitian serupa yang juga menyimpulkan bahwa metode Willems lebih akurat dibandingkan dengan metode Demirjian.
Tetapi ada juga penelitian yang menunjukkan hasil bahwa metode Demirjian lebih akurat dibandingkan dengan metode Willems. Perbedaan hasil dapat terjadi karena adanya variasi biologis pada anak-anak dengan etnis yang berbeda. Selain itu, rentang usia dan pendekatan statistik juga dapat berpengaruh. Perbedaan hasil juga dapat terjadi karena perbedaan tingkat perkembangan gigi pada populasi yang berbeda, hal ini dikaitkan dengan perbedaan faktor
genetik pada setiap populasi yang akan mempengaruhi tumbuh dan kembang gigi.
Menurut Mohammed et al. (2015), ukuran sampel, kelompok usia yang berbeda, metodologi statistik dan ketepatan metode yang diuji dapat mempengaruhi hasil estimasi usia. Selain itu, perbedaan hasil juga dapat terjadi karena adanya pengaruh faktor lingkungan seperti nutrisi, kebiasaan diet, dan gaya hidup (Ozveren et al., 2018). Demirjian et al. (1973) menyatakan bahwa metodenya didasarkan sepenuhnya pada populasi Belgia dan variasi populasi tersebut dapat terjadi pada populasi lainnya. Oleh karena itu, meskipun metode tersebut dapat diaplikasikan secara universal, tetapi terdapat kemungkinan untuk tidak valid dan akurat untuk beberapa populasi.
Penulis: Dr. An™nisaa Chusida, drg., M.Kes
Diambil dari artikel ilmiah berjudul: Estimation of children™s age based on dentition via panoramic radiography in Surabaya, Indonesia (Dental Journal, 2022, 55(3), pp. 161 “ 164)
Artikel dapat diakses pada: https://e-journal.unair.ac.id/MKG/index





