51动漫

51动漫 Official Website

Patah Tulang di Lutut Akibat Tarikan Ligamen: Operasi dengan Sekrup atau Jahitan?

Ilustrasi Pasien Patah Tulang di Lutut (Sumber: Klinik Patella)
Ilustrasi Penderita Patah Tulang di Lutut (Sumber: Klinik Patella)

Patah tulang pada bagian tengah lutut, atau yang secara medis dikenal sebagai fraktur eminensia tibia, sering dialami oleh anak-anak, remaja, atau dewasa muda, terutama akibat tarikan ligamen pada lutut (Anterior Cruciate Ligament / ACL). Cedera ini dapat menyebabkan lutut menjadi longgar, tidak stabil, dan terasa sakit saat digerakkan. Meskipun demikian, kasus ini tergolong relatif jarang, dengan angka kejadian sekitar 3 per 100.000 orang per tahun, dan menyumbang sekitar 2 hingga 5 persen dari seluruh cedera lutut pada populasi anak-anak. Namun, ketika cedera ini terjadi, dampaknya bisa cukup signifikan terhadap fungsi lutut.

Untuk mengobatinya, dokter biasanya menyarankan tindakan operasi yang bertujuan menyatukan kembali bagian tulang yang patah agar fungsi lutut bisa kembali normal. Ada dua metode operasi yang paling umum digunakan. Pertama adalah metode sekrup (screw fixation), yaitu memasang logam kecil seperti baut ke dalam tulang untuk menahan bagian yang patah. Kedua adalah metode jahitan (suture fixation), di mana tulang yang patah dijahit menggunakan benang bedah khusus yang sangat kuat. Kedua metode ini dilakukan dengan teknik yang disebut artroskopi, yakni prosedur bedah dengan kamera kecil dan alat-alat halus yang dimasukkan melalui sayatan kecil di kulit, sehingga luka operasi menjadi lebih ringan dan pemulihan lebih cepat.

Pada saat operasi, pasien akan dibius, lalu dokter melakukan artroskopi dengan membuat sayatan kecil untuk memasukkan kamera dan alat bedah. Jika menggunakan sekrup, dokter akan mengebor sedikit tulang dan memasang sekrup logam agar tulang yang patah menempel kembali. Jika menggunakan benang jahit, tulang yang patah dijahit dengan teknik khusus agar kembali menyatu. Setelah operasi, pasien bisa mengalami kekakuan lutut atau nyeri ringan, yang biasanya akan membaik dalam beberapa minggu dengan bantuan fisioterapi. Penyembuhan tulang umumnya berlangsung antara dua hingga empat bulan.

Untuk mencari tahu metode mana yang lebih aman dan efektif, para peneliti melakukan sebuah meta-analisis, yaitu penggabungan data dari berbagai penelitian sebelumnya. Mereka menganalisis sembilan studi dari berbagai negara yang melibatkan 412 pasien, yang telah menjalani operasi dengan salah satu dari dua metode tersebut.

Hasilnya cukup menarik. Secara umum, kedua metode memberikan hasil yang sama baiknya dalam hal fungsi lutut, kemampuan bergerak, dan aktivitas harian setelah operasi. Namun, pasien yang dioperasi dengan metode sekrup memiliki angka komplikasi yang lebih tinggi, sekitar 32%, dibandingkan dengan pasien yang dijahit, yang hanya sekitar 18%. Komplikasi yang sering terjadi pada pasien dengan sekrup antara lain nyeri karena sekrup menonjol atau mengganggu gerakan lutut, serta perlunya operasi ulang untuk mengangkat sekrup tersebut. Sementara itu, pasien yang dijahit lebih jarang mengalami gangguan serupa, meskipun waktu operasinya sedikit lebih lama, yaitu rata-rata 85 menit dibandingkan 67 menit pada metode sekrup.

Beberapa parameter yang digunakan adalah Lysholm score, IKDC (International Knee Documentation Committer), dan KT-1000. Sederhananya itu adalah cara dokter menilai apakah lutut sudah kembali normal. Lysholm menilai kemampuan berjalan dan berdiri, IKDC digunakan untuk menilai stabilitas sendi dari sudut pandang dokter, sedangkan KT-1000 adalah alat yang mengukur seberapa longgar lutut setelah operasi. Dalam semua penilaian tersebut, tidak ada perbedaan berarti antara pasien yang dioperasi dengan sekrup atau jahitan.

Namun, yang perlu dicatat, metode jahitan cenderung memiliki risiko lebih kecil terhadap komplikasi dan jarang memerlukan operasi ulang. Karena itu, meskipun membutuhkan waktu operasi sedikit lebih lama, banyak ahli menyarankan metode jahitan terutama untuk pasien anak-anak atau pada kasus patah tulang yang tidak terlalu besar.

Sebagai penutup, penting untuk segera melakukan konsultasi ke dokter spesialis ortopedi apabila terjadi cedera lutut akibat olahraga atau kecelakaan. Diagnosis dan penanganan yang tepat waktu dapat mencegah komplikasi serius serta mempercepat proses pemulihan. Pilihan metode pengobatan apakah menggunakan sekrup atau jahitan perlu disesuaikan dengan kondisi medis dan kebutuhan masing-masing pasien. Pemulihan yang optimal tidak hanya bergantung pada teknik operasinya, tetapi juga pada perhatian yang menyeluruh.

Penulis: Lukas Widhiyanto, dr.,Sp.OT., M.D., Ph.D

Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:

AKSES CEPAT