Patah tulang leher femur adalah kondisi serius yang sering dialami orang lanjut usia dan menimbulkan tantangan besar dalam dunia bedah ortopedi. Diperkirakan kasus patah tulang leher femur ini akan meningkat hingga tiga kali lipat dalam 50 tahun mendatang, seiring dengan bertambahnya populasi lanjut usia secara global. Kondisi ini tak hanya membutuhkan penanganan yang cepat tetapi juga teknik yang tepat untuk memastikan pasien bisa kembali beraktivitas dengan kualitas hidup yang baik.
Dua komplikasi utama yang sering muncul pada patah tulang leher femur adalah non-union (gagalnya tulang menyatu kembali) dan osteonekrosis (kematian jaringan tulang). Kedua komplikasi ini bisa dialami oleh 33% hingga 37% pasien, yang tentu berdampak serius terhadap pemulihan pasien. Oleh karena itu, pemilihan teknik operasi yang tepat sangat penting dalam mencegah terjadinya komplikasi-komplikasi tersebut.
Untuk menangani patah tulang leher femur, ada dua teknik yang umum digunakan, yaitu Hemiarthroplasty (HA) dan Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) dengan pencangkokan tulang fibula dan pemasangan sekrup. Mari kita kenali masing-masing teknik ini:
HA adalah teknik yang mencakup penggantian sebagian sendi pinggul dengan implan buatan, dan biasanya dilakukan pada sekitar 80% pasien. HA dipilih karena dianggap mampu mengurangi risiko komplikasi pada pasien lanjut usia yang mengalami patah tulang leher femur. Meskipun teknik ini memiliki beberapa keuntungan, tetapi tidak selalu memberikan hasil fungsional jangka panjang yang baik.
Pada teknik ORIF-FSG, tulang yang patah disatukan kembali dan diperkuat dengan pencangkokan tulang fibula serta dipasangi sekrup untuk menstabilkan tulang. Prosedur ini menunjukkan hasil fungsional yang menjanjikan dalam jangka panjang, namun penggunaannya belum begitu banyak dipelajari atau dibandingkan secara langsung dengan HA.
Saat ini, masih belum banyak penelitian yang membandingkan efektivitas HA dan ORIF-FSG dalam mengobati patah tulang leher femur. Padahal, mengetahui teknik mana yang memberikan hasil terbaik sangat penting untuk membantu dokter menentukan teknik terbaik sesuai kondisi pasien. Oleh karena itu, sebuah penelitian yang kami lakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya, bertujuan untuk membandingkan kedua teknik ini dengan melihat faktor-faktor seperti tingkat rasa sakit, fungsi sendi pinggul, dan kualitas hidup pasien.
Penelitian ini melibatkan 87 pasien yang mengalami patah tulang leher femur dan memenuhi kriteria tertentu. Dari jumlah ini, 50 pasien menjalani HA, sementara 37 pasien lainnya menjalani ORIF-FSG dengan sekrup. Setiap pasien dinilai menggunakan beberapa metode standar, yaitu: Visual Analogue Scale (VAS) untuk menilai tingkat rasa sakit; Harris Hip Score (HHS) untuk mengukur fungsi sendi pinggul; dan SF-36 untuk mengukur kualitas hidup secara keseluruhan. Hasil-hasil dari dua kelompok pasien kemudian dibandingkan secara statistik untuk mengetahui teknik mana yang lebih unggul.
Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa pasien yang menjalani ORIF-FSG menunjukkan hasil klinis yang lebih baik dibandingkan dengan pasien yang menjalani HA. Berikut adalah temuan utama:
- Fungsi Pinggul Lebih Baik: Skor HHS pada pasien ORIF-FSG lebih tinggi dibandingkan pasien HA, yang berarti pasien yang menjalani ORIF-FSG memiliki fungsi sendi pinggul yang lebih baik.
- Kualitas Hidup Lebih Tinggi: Pasien yang menjalani ORIF-FSG juga memiliki skor SF-36 yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa kualitas hidup mereka meningkat secara signifikan.
- Penurunan Rasa Sakit: Meskipun penurunan skor VAS untuk nyeri lebih besar pada pasien ORIF-FSG, perbedaannya tidak signifikan secara statistik bila dibandingkan dengan HA. Ini berarti kedua teknik ini hampir sama efektifnya dalam mengurangi rasa sakit.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa teknik ORIF-FSG dengan sekrup menawarkan keunggulan lebih besar dalam hal perbaikan fungsi sendi dan kualitas hidup pada pasien patah tulang leher femur, dibandingkan dengan teknik HA. Walaupun perbedaan dalam pengurangan rasa sakit antara keduanya tidak signifikan, secara keseluruhan, ORIF-FSG dianggap lebih efektif dalam jangka panjang.
Penemuan ini penting bagi dokter dalam menentukan teknik operasi yang paling sesuai bagi pasien dengan patah tulang leher femur. Pertimbangan terhadap metode ORIF-FSG sebagai pilihan utama dalam kasus patah tulang leher femur dapat meningkatkan hasil klinis pasien, khususnya bagi mereka yang ingin mempertahankan fungsi sendi pinggul dan kualitas hidup yang lebih baik setelah operasi.
Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien lanjut usia yang berisiko mengalami patah tulang leher femur, penting bagi para dokter dan peneliti untuk terus mengevaluasi dan memperbarui teknik pengobatan. Dengan memilih pendekatan yang lebih sesuai dan berbasis bukti seperti ORIF-FSG, kita dapat membantu pasien mencapai hasil terbaik dalam pemulihan pasca-operasi. Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya perawatan berpusat pada pasien, di mana setiap pilihan pengobatan disesuaikan untuk menghasilkan kualitas hidup yang optimal.
Penulis: Mohammad Zaim Chilmi, Dimas Rangga Yudyanda
Informasi detail terkait artikel ini dapat dilihat pada:





