Lobster pasir atau Spiny lobster (Panulirus homarus) merupakan komoditas perikanan ekspor Indonesia dari golongan crustacea menempati urutan ke-4 dengan mencapai 1,24 %. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dilakukan kegiatan budidaya lobster pasir di berbagai lokasi diantaranya keramba jaring apung, keramba dasar, dan kolam beton. Penyakit pada sistem budidaya lobster pasir masih menjadi kendala pada fase pembesaran, Salah satu penyakit yang menyerang lobster disebabkan oleh parasit. Octolasmis merupakan salah satu parasit golongan krustasea yang menyerang lobster.
Octolasmis menyebabkan beberapa kerugian antara lain menurunnya massa tubuh organisme budidaya, tingkat ketahanan terhadap serangan patogen, bahkan mampu menyebabkan kematian. Tingkat infeksi yang tinggi mampu menimbulkan perubahan kondisi patologi anatomi dan dapat meluas hingga menyerang pada organ insang, mulut, dan permukaan tubuh antara lain menghalangi jalannya pergerakan penampang insang (scaphognathite) sehingga mengganggu sistem respirasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisa perubahan patologi anatomi dan profil hemolim lobster pasir (P. homarus) yang terinfestasi ektoparasit Octolamis pada keramba dasar.
Metode penelitian yang kami terapkan yaitu survey dan observasi secara langsung. Objek penelitian yaitu 30 ekor lobster pasir dengan berat 100-150 g. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Juni-Juli 2022 di Kelompok Pembudidaya Ikan Pesona Bahari Wongsorejo, Banyuwangi, Jawa Timur. Selain itu, kami juga melakukan pemeriksaan terhadap sampel air untuk analisis parameter kualitas air berupa salinitas, DO, pH, amoniak, nitrit, nitrat, fosfat, dan TOM.
Hasil penelitian melaporkan terjadinya perubahan patologi anatomi yang sangat signifikan akibat infestasi Octolasmis pada tubuh lobster pasir dibandingkan dengan lobster normal (P<0,01). Lobster yang terinfestasi ektoparasit mengalami perubahan berupa geripis pada ekor, lesi pada karapaks, melanisasi insang, dan timbulnya borok pada ventral abdomen. Perubahan profil hemolim pada lobster yang sakit menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan dengan lobster normal (P<0,01). THC dan konsentrasi sel granular meningkat seiring dengan kerusakan yang dialami oleh lobster. Sedangkan persentase sel hyalin dan sel semi granular terjadi penurunan. Pengukuran kualitas air memperlihatkan data bahwa kondisi perairan dalam kondisi tercemar karena kadar nitrat, fosfat, dan TOM yang melebihi batas normal di perairan laut untuk budidaya dan diduga sebagai pemicu infeksi parasit pada lobster.
Penulis:
Baca Juga: Pematangan Gonad dan Pemijahan Ikan Uceng yang Diinduksi melalui Aplikasi Hormon Topikal Insang





