Eugenol merupakan senyawa keluarga alilbenzena dari senyawa fenol. Eugenol berbentuk cairan kental seperti minyak, tidak berwarna hingga kuning pucat. Eugenol sedikit larut dalam air, dan mudah larut dalam pelarut organik (Shelton, 2019). Aromanya menyegarkan dan pedas sehingga sering dimanfaatkan sebagai komponen penyegar mulut. Eugenol dapat ditemukan dalam minyak cengkeh dengan konsentrasi 80-90% dan dalam minyak daun cengkeh. Sumber lainnya adalah pala, kulit manis, dan salam (Bustaman, 2011). Senyawa ini dipakai dalam industri parfum, minyak atsiri, farmasi, dan sebagai stabilisator serta antioksidan dalam pembuatan plastik dan karet. Campuran eugenol dengan seng oksida (ZnO) dipakai dalam kedokteran gigi untuk aplikasi restorasi (prostodontika. Metil eugenol digunakan sebagai atraktan. Beberapa bunga melepaskan senyawa turunan eugenol ini ke udara untuk memikat lalat buah menghampirinya dan membantu penyerbukan.
Secara reaksi kimia, eugenol dapat berfungsi sebagai monomer fungsional pada pembentukan molecularly imprinted polymer (MIP), suatu polimer tercetak molekul target yang dalam aplikasi analisis kuantitatif dapat meningkatkan kinerja suatu sensor elektrometri terhadap molekul target. Pemanfaatan eugenol sebagai material penyusun sensor untuk deteksi glukosa dalam madu secara potensiometri telah dilaporkan oleh Djunaidi et al. (2022). Madu terdiri dari 40 persen fruktosa dan 30 persen glukosa. Glukosa dan fruktoda memiliki gugus fungsi yang mirip, sehingga analisis terhadap glukosa dalam madu beresiko diganggu oleh keberadaan fruktosa. Sensor berbasis polieugenol menunjukkan selektivitas yang tinggi terhadap glukosa dalam matriks yang mengandung fruktosa. Sensor berbasis eugenol tersebut bersifat hidrofilik dengan sudut kontak dengan air yang rendah.
Sensor non enzimatik berbasis polieugenol juga telah diaplikasikan untuk deteksi gula darah secara potensiometri (Djunaidi et al., 2022). Sensor potensiometri menawarkan keunggulan untuk aplikasi deteksi glukosa darah pada penderita diabetes mellitus (DM), yaitu bersifat selektif, memiliki waktu respon yang cepat dan kemampuan deteksi konsentrasi rendah. Menurut Irwansyah & Kasim (2020), diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan ketidakmampuan pankreas memproduksi insulin dalam darah, sehingga menimbulkan berbagai komplikasi yang berujung pada kematian, sehingga perlu dilakukan pengontrolan dan penanganan yang tepat (Wulan et al., 2020). Metode potensiometri mampu mendeteksi kadar glukosa darah hingga konsentrasi 1 mg/dL. Nilai tersebut berada pada kisaran 100 kali lebih rendah dibandingkan metode kolorimetri yang digunakan pada laboratorium medis. Metode potensiometri untuk penentuan kadar gula darah ini menunjukkan validitas yang tinggi, dengan volume sampel sekitar 300 kali lebih rendah dibandingkan volume sampel untuk uji dengan metode kolorimetri yang umum digunakan di bidang medis (Khasanah et al., 2022). Metode deteksi gula darah dengan limit deteksi rendah ini sangat bermanfaat untuk mendeteksi secara dini penyakit DM.
Pemeriksaan penunjang terhadap DM dapat dilakukan melalui tes glukosa darah dengan finger stick, yaitu jari ditusuk dengan sebuah jarum Rouphael et al. (2017). Sampel darah diletakkan pada sebuah strip yang dimasukkan ke dalam celah pada mesin glukometer. Pemeriksaan ini digunakan hanya untuk memantau kadar glukosa darah secara rutin dengan hasil yang kurang kuantitatif. Meskipun kadar yang diperoleh merupakan angka kisaran, dengan menggunakan alat sederhana dan ekonomis tersebut dapat dilakukan pengukuran kadar gula darah secara mandiri oleh pasien tanpa harus ke klinik atau rumah sakit (Maulidiyanti, 2018).
Penulis: Miratul Khasanah
Jurnal: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2214785322075708





