51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pemanfaatan Target-Controlled Infusion Propofol untuk Keamanan dan Kenyamanan Pasien

Pemanfaatan Target-Controlled Infusion Propofol untuk Keamanan dan Kenyamanan Pasien
Sumber: Ammarai

Prosedur endoskopi gastrointestinal, termasuk esofagogastroduodenoskopi, kolonoskopi, ultrasonografi endoskopik (EUS), dan kolangiopankreatografi retrograd endoskopik (ERCP), memainkan peran penting dalam diagnosis dan pengobatan berbagai kondisi gastrointestinal. Teknik-teknik ini memungkinkan tenaga medis untuk secara langsung melihat dan mengevaluasi kesehatan sistem pencernaan, mendeteksi kelainan, dan mengumpulkan sampel jaringan untuk analisis lebih lanjut. Prosedur ini memfasilitasi deteksi dan diagnosis dini kondisi seperti ulkus peptik, perdarahan gastrointestinal, penyakit radang usus, polip, dan tumor.

Menurut American Cancer Society, di Amerika Serikat, sebanyak 348.840 kasus baru kanker sistem pencernaan didiagnosis pada tahun 2023. Laporan yang sama mencatat 172.010 kematian akibat kanker sistem pencernaan pada tahun tersebut. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah kasus baru dan kematian. Dengan meningkatnya skrining dan pengawasan di seluruh dunia, jumlah prosedur endoskopi gastrointestinal yang dilakukan juga meningkat.

Sedasi sering kali direkomendasikan untuk prosedur endoskopi gastrointestinal guna mengurangi ketidaknyamanan pasien, sehingga meningkatkan kepatuhan pasien dan berkontribusi pada keberhasilan prosedur. Berbagai metode digunakan untuk pemberian sedasi dalam endoskopi gastrointestinal, termasuk bolus manual intermiten, infus manual, dan pendekatan yang paling baru dikembangkan: Target-Controlled Infusion (TCI). Beberapa studi telah membandingkan teknik-teknik ini. Ulasan ini berfokus pada penggunaan TCI sebagai modalitas baru untuk memfasilitasi endoskopi gastrointestinal.

Target-Controlled Infusion (TCI) adalah metode pemberian obat intravena yang dikendalikan oleh komputer. Teknik ini menggunakan model farmakokinetik waktu nyata untuk mencapai dan mempertahankan konsentrasi target obat yang telah ditentukan di dalam aliran darah. Sistem TCI menghitung laju infus berdasarkan parameter spesifik pasien, seperti berat badan, usia, dan variabel farmakokinetik, sehingga memungkinkan pemberian obat secara presisi. Mekanisme dasar TCI didasarkan pada prinsip farmakokinetik yang melibatkan volume distribusi obat dan clearance (pembersihan). Ketika obat diberikan secara intravena, obat tersebut didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk plasma dan jaringan lain, seperti otot dan lemak. Obat kemudian dihilangkan dari plasma dan jaringan melalui proses clearance.

Farmakokinetik obat anestesi intravena dapat dijelaskan menggunakan model distribusi obat tiga-kompartemen. Tiga area tersebut adalah: Kompartemen sentral (V1): Mewakili plasma, Kompartemen yang cepat mencapai keseimbangan (V2): Merujuk pada jaringan yang memiliki aliran darah tinggi, seperti otot, dan Kompartemen yang lambat mencapai keseimbangan (V3): Mengacu pada jaringan lemak. Setiap kompartemen memiliki jalur pembersihan yang berbeda. Clearance dari kompartemen sentral melalui eliminasi atau metabolisme disebut CL1. Clearance antara kompartemen sentral dan kompartemen kedua disebut CL2, dan clearance antara kompartemen sentral dan kompartemen ketiga disebut CL3.

Selain itu, terdapat perbedaan waktu antara saat obat mencapai konsentrasi target di plasma dan saat obat tersebut memberikan efek klinisnya. Keterlambatan ini, yang dikenal sebagai keseimbangan konsentrasi antara plasma dan lokasi kerja efek obat (misalnya sistem saraf pusat atau otak), diukur menggunakan konstanta keo. Setelah pemberian bolus intravena, konsentrasi obat dalam plasma biasanya mengalami penurunan eksponensial. Untuk mempertahankan anestesi intravena yang memadai, konsentrasi obat di otak harus seimbang dengan tingkat plasma. TCI mengatasi masalah ini dengan menyelesaikan persamaan kompleks yang menggambarkan distribusi obat antara kompartemen, sehingga memungkinkan penyesuaian target secara cepat untuk mencapai efek klinis yang diinginkan. Berbagai model yang telah divalidasi tersedia untuk digunakan, dengan model Marsh dan Schnider sebagai model yang paling umum. Model farmakologis ini menggunakan metodologi yang berbeda, memasukkan parameter yang beragam, dan dapat menghasilkan perbedaan signifikan dalam penentuan laju infus obat dalam sistem TCI.

Beberapa studi telah membandingkan metode pemberian sedasi selama prosedur endoskopi gastrointestinal. Teknik yang paling konvensional dan luas digunakan adalah pemberian bolus manual intermiten. Teknik ini mengharuskan pemberi anestesi untuk menyuntikkan dosis awal obat sedatif (dengan atau tanpa analgesik seperti opioid) selama induksi, kemudian mempertahankan tingkat sedasi dengan memberikan dosis tambahan secara manual dan berkala sepanjang prosedur. Seiring dengan berkembangnya praktik infus kontinu untuk anestesi intravena total, metode ini juga telah diadopsi dalam endoskopi, terutama untuk prosedur yang lebih panjang seperti ERCP. Belakangan ini, TCI telah digunakan dalam beberapa studi endoskopi gastrointestinal, dan perbandingan telah dibuat di antara ketiga teknik tersebut. Secara keseluruhan, berdasarkan studi yang tersedia, penggunaan propofol TCI sebanding dengan pemberian bolus manual intermiten dan infus manual dalam hal kepuasan pasien dan stabilitas hemodinamik selama prosedur endoskopi.

Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono W., dr., SpAn-TI., Subsp. An.R(K)., Subsp. TI(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Paramitha MP, Waloejo CS, Hamzah. Propofol target-controlled infusion for gastrointestinal endoscopy. International Journal of Gastrointestinal Intervention. 2024 Jul 31;13(3):82“5.

AKSES CEPAT