Sifilis merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah Kesehatan Masyarakat dengan perkiraan 12 juta kasus baru setiap tahun. Sifilis pertama kali muncul pada abad ke-15, dan pada abad ke-20.
Jumlah penyakit sifilis menurun tetapi penyakit ini mengalami peningkatan kembali dalam beberapa tahun sekarang ini. Beberapa negara yang menunjukkan adanya penyakit ini adalah Amerika, beberapa negara di Eropa. Selain itu peningkatan juga terjadi di beberapa negara di Asia.
Penyakit sifilias dapat menular melalui hubungan seksual. Dari beberapa tahun terakhir ini, Sifilis berkaitan dengan meningkatkan resiko penyakit HIV AIDS yang ditemukan pada penderita homoseksual yang ada di kota Makasar di Indonesia.
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum subsp.pallidum (T. pallidum).
Untuk mengobati penyakit Sifilis harus dilakukan pencarian/ pemeriksaan bakteri penyebab penyakit tersebut.
Pemeriksaan bakteri secara umum adalah dengan menumbuhkan bakteri pada media buatan (kultur), tetapi Treponema pallidum tidak dapat ditumbuhkan pada media buatan sehingga menjadi tantangan untuk pemeriksaan bakteri tersebut.
Pemeriksaan menggunakan Mikroskop lapangan gelap tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan, sehingga pemeriksaan lain terus dikembangkan.
Pemeriksaan serologi dengan target antigen bakteri atau antibodi yang dihasilkan tubuh manusia akibat tertular Treponema pallidum contohnya adalah enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), uji antibodi fluoresen tidak langsung (IFA). Pemeriksaan serodiagnosis ini juga memiliki keterbatasan yang cukup besar dalam hal kesediaan bahan yang diproduksi oleh Perusahaan.
Pengembangan pemeriksaan molekuler mulai dikembangkan lebih luas. Beberapa pemeriksaan molekuler dengan target gen khusus yang dipunyai olehTreponema pallidum seperti PCR dengan target gen tprK dan polA , Nested PCR dengan target gen polA and tmpC atau Nested PCR dan and DNASequencing dengan target genome utuh , DNA sequencing, reverse trascription-polymerase chain reaction kuantitatif (qRT-PCR) dengan target gen polA, reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR), isolasi virus, qRT-PCR Selain target pemeriksaan berupa gen polA, 16S RNA, terdapat juga menggunakan target gen arp dan T. pallidum repeat (tpr) untuk mencari abkteri penyebab sifilis Pemeriksaan molekuler seperti PCR memerlukan waktu sangat cepat dengan berbagai target gen yang ada didalam inti sel bakteri Treponema pallidum.
Pemeriksaan dengan metode PCR ini dapat memperbanyak DNA sampai lebih dari satu juta kali sehingga pemeriksaan PCR sangat peka untuk mencari bakteri Treponema pallidum yang merupakan penyebab sifilis.
Tujuan artikel ini adalah untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang pengembangan bermacam macam pemeriksaan molekuler untuk deteksi Treponema pallidum.
Metode penelitian: mengumpulkan beberapa literatur ilmiah tentang pemeriksaan molekuler Treponema pallidum yang diperoleh melalui pusat data (database) yang tersedia secara otomatis dengan mencari literatur melalui Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Kemudian menganalisa dan membandingkan beberapa hasil pemeriksaan dengan metode pemeriksaan serologi maupun molekuler yaitu reverse trascription-polymerase chain reaction kuantitatif (qRT-PCR), reverse transcription-polymerase chain reaction (RT-PCR), enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), uji antibodi fluoresen tidak langsung (IFA), dan isolasi virus, qRT-PCR dengan target pemeriksaan berupa gen polA, 16S RNA, gen arp dan T. pallidum repeat (tpr). Bahan yang digunakan untuk pemeriksaan molekuler Treponema pallidum adalah Darah, daerah sekitar alat kelamin Wanita (vagina), jaringan kulit. Diantara metode tersebut juga dianalisa salah satu metode yang sangat tepat dan berguna untuk pemeriksaan sifilis yang disebabkan bakteriTreponema pallidum.
Hasil penelitian: Dibandingkan metode lainnya, metode qRT-PCR dan juga metode PCR memiliki keuntungan lebih cepat dan lebih sensitif.
Kesimpulan: Metode molekuler terutama PCR mempunyai peluang untuk deteksi cepat penyakit sifilis baik Tingkat primer, sekunder, maupun yang tidak ada gejala (laten) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum, sehingga penderita sifilis dapat diobati dengan cepat dan dapat menurunkan penyakit sifilis dan pengembangan penyakit dapat dicegah dengan cepat pula.
Penulis: Wahyu Setyarini, Nurul Wiqoyah, Arif Nur Muhammad Ansori
Informasi detail artikel ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
; DOI: 10.20473/ijtid.v11i3.44506
Wahyu Setyarini, Nurul Wiqoyah , Arif Nur Muhammad Ansori; Molecular Diagnostic Tools for Treponema pallidum; The Indonesian Journal of Tropical and Infectious Disease (IJTID); Vol. 11 No. 3 September “ December 2023: 211-223





