51动漫

51动漫 Official Website

Penanganan Terpadu Mengatasi Stunting di Perdesaan di Jawa Timur, Indonesia

Stunting merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius dan harus segera diatasi. Stunting atau kasus anak yang ukuran tubuhnya pendek merupakan implikasi dari kondisi gagal tumbuh yang terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan (Trihono 2015, Flood et al 2018, Molitoris 2018, Putri & Rong 2021, Hoffman 2022). Di Indonesia, angka stunting masih tergolong tinggi. Hasil SSGI (2021) menunjukkan angka prevalensi stunting secara nasional tercatat masih diatas 20%. Sementara itu di Provinsi Jawa Timur, angka prevalensi stunting masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh WHO (20 persen).

Berdasarkan hasil survei status gizi secara nasional pada tahun 2021 prevalensi stunting di Indonesia mengalami penurunan dibanding tahun 2019 dari 27,7 persen di tahun 2019 menjadi 24,4 persen pada tahun 2021. Tren penurunan ini selanjutnya mendorong pemerintah melakukan penanganan stunting secara sungguh sungguh dan memiliki target penurunan prevalensi angka stunting hingga 14 persen pada tahun 2024 mendatang (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2022). Oleh karena itu penting untuk mengkaji penyebab terjadinya stunting, kendala yang dihadapi masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi bagi anak serta penanganan stunting, serta upaya yang perlu dilakukan untuk mengoptimalisasikan penanganan stunting di wilayah pedesaan.

Studi ini menemukan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: Pertama, perlu disadari bahwa upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan. Kedua, dari segi medis, selain faktor kekurangan gizi, yang tak kalah penting adalah karena faktor pengetahuan ibu yang kurang memadai, infeksi berulang atau infeksi kronis, sanitasi yang buruk, dan faktor keterbatasan layanan kesehatan. Ketiga, salah satu langkah kunci untuk mencegah terjadinya stunting adalah dengan memberdayakan dan memposisikan peran ibu sebagai aktor sentral yang memiliki komitmen dalam proses pencegahan stunting. Keempat, dalam proses tumbuh-kembang anak, salah satu hal yang perlu diketahui para orang tua, khususnya ibu adalah bagaimana mendampingi ASI Eksklusif dengan MPASI atau makanan pendamping yang sehat. Kelima, terus memantau tumbuh kembang anak adalah tahapan penting yang perlu diketahui orang tua untuk mencegah terjadinya stunting. Keenam, meski sebagian besar orang tua telah mengetahui arti penting pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi dalam kehidupan sehari-hari karena keterbatasan ekonomi dan kurangnya kesadaran, sebagian orang tua masih belium memberikan perhatian yang ekstra pada persoalan ini.

Studi ini merekomendasikan beberapa solusi yang dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam mencegah dan menekan angka stunting pada anak, diantaranya: (1) Penanganan stunting harus dimulai sedini mungkin karena mencegah jauh lebih penting daripada menangani setelah anak menderita stunting. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting oleh karenanya perlu dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dari anak balita. (2) Rutin berkonsultasi mengenai pentingnya menjaga asupan gizi selama masa kehamilan, memantau pertumbuhan perkembangan balita, pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita, melakukan stimulasi dini perkembangan anak, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, hindari paparan asap rokok, dan juga mengupayakan dapat menyisihkan waktu untuk berolahraga secara rutin. (3) Ada baiknya jika pemerintah membantu menyediakan kebutuhan tepat sasaran untuk anak stunting agar tidak mengalami resiko lebih buruk. Jangan sampai terjadi anak penderita stunting mengalami prestasi belakjar yang buruk, menderita penyakit kronis, terkena penyakit infeksi dan lain sebagainya karena kondisi biologios dirinya. (4) Gerakan memasyarakatkan Posyandu perlu terus dilakukan agar ada koneksi yang kuat dengan ibu-ibu hamil dan ibu lainnya guna mendorong tumbuhnya antusiasme berkunjung ke Posyandu untuk memeriksakan kesehatan janin dan anaknya. (5) Selain membutuhkan sosialisasi yang intentif, penting untuk membangun konstruksi/wacana yang benar tentang tanggungjawab orang tua dan upaya yang benar tentang bagaimana memenuhi kebutuhan gizi anak. Salah satu cara yang bisa dikembangkan adalah dengan pendekatan berbasis kebudayaan sosio-kultural masyarakat.

Penulis: Septi Ariadi

Jurnal: Integrated handling to overcome stunting in rural areas in East Java, Indonesia

AKSES CEPAT