Sindrom tulang keropos (HBS) mengacu pada suatu kondisi berupa hipokalsemia yang berkepanjangan dan berat disertai hipofosfatemia dan hipomagnesemia yang terjadi setelah paratiroidektomi. Penghentian produksi PTH secara tiba-tiba menyebabkan terjadinya remineralisasi tulang dan perpindahan kalsium secara cepat dari sirkulasi ke tulang. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyajikan penatalaksanaan hipokalsemia pada penderita HBS setelah ia menjalani operasi paratiroidektomi akibat karnikoma paratiroid.
Presentasi kasus: Ny., 46 tahun, menjalani tiroidektomi total dan paratiroidektomi total pada tanggal 30 April 2019 karena karnikoma paratiroid yang sebelumnya diderita pasien. Pasien direncanakan untuk dioperasi karena adanya patah tulang patologis pada tangan dan kaki pasien, yang merupakan komplikasi dari karnikoma paratiroid. Pemeriksaan laboratorium hari pertama pasca operasi 1 Mei 2019 diperoleh total kalsium 8,2mg/dL.
Pada tanggal 5 Mei 2019 (hari ke-5), total kalsium turun menjadi 6,1 mg/dL. Pada tanggal 10 Mei 2019 (hari ke-10) juga ditemukan hipofosfatemia dengan nilai 2,1 mg/dL dan hipomagnesium 1,2mg/dL. Apabila mengalami keluhan, kalsium pasien dipantau secara teratur, ditemukan kalsium rendah, dan juga ditemukan gejala hipokalsemia, sehingga pasien ini diberikan tetes kalsium glukonat 1000mg setiap 8 jam dalam 100ml normal saline. Pemeriksaan kalsium dilakukan setiap 24 jam; kalsium masih rendah selama 3 hari. Selain itu diberikan kartikol 2×0,25 mgc yang dititrasi hingga 2×0,5 mgc, tetes 40% mgS04 dalam 500 saline dalam 24 jam, dan 4×200 oral fosfat.
Selama perawatan, kalsium pasien mencapai 8,2 mg/dL dengan albumin 3,3 mg/dL dengan jumlah ion kalsium 8,4 mg/dL setelah 17 hari perawatan. Kesimpulan: Ditemukannya HBS akibat paratiroidektomi total sebagai terapi utama karnikoma paratiroid. Pemantauan kalsium yang ketat dan pemberian kalsium pasca operasi secara dini diperlukan untuk menghindari komplikasi hipokalsemia. Menghindari HBS dapat mengurangi jumlah hari rawat inap, sehingga menghemat biaya dan meningkatkan kualitas hidup pasien
Penulis: Dr. Sony Wibisono Mudjanarko, dr. Sp.PD-KEMD.FINASIM
Sumber: https://www.balimedicaljournal.org/index.php/bmj/article/view/4229





