Pendidikan merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan komunitas Tionghoa. Bagi komunitas Tionghoa, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai media menanamkan budaya, namun juga menanamkan semangat mencapai kesetaraan, sehingga pendidikan menjadi bagian dari gerakan emansipasi. Keberhasilan pendidikan komunitas Tionghoa dapat dilihat dari munculnya kelompok elite Tionghoa yang siap membawa perubahan-perubahan bagi komunitas Tionghoa. Keberagaman kelompok elite Tionghoa yang muncul pada akhir abad ke-19 hingga 1942, turut mewarnai corak khas sejarah masyarakat kota Surabaya, yaitu kemunculan tokoh-tokoh Tionghoa yang menjadi penggagas semangat kebangsaan Indonesia dan membantu mengurangi persoalan kesehatan dan pendidikan.
Etnis Tionghoa Akhir Abad ke-19 hingga Awal Abad ke-20
Tidak diingkari bahwa keberadaan etnis Tionghoa menjadi penggerak roda perekonomian sehingga Surabaya tumbuh menjadi kota besar kedua setelah Batavia. Peran dan aktivitas ekonomi dapat diketahui dari maraknya pertumbuhan toko-toko, industri gula, rokok, bioskop, kopi dan pasar. Sumber-sumber berupa iklan surat kabar yang terbit pada akhir abad ke-19 menunjukkan bahwa kelompok Tionghoa menguasai sebagian aktivitas ekonomi di Surabaya, sehingga tidak mengherankan, pada akhir abad ke-19 hingga 1942, komunitas Tionghoa kelahiran lokal yang disebut Peranakan berkembang menjadi komunitas yang mapan. Beberapa orang Tionghoa yang berasal dari keluarga terpandang dan kaya, ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai opsir. Mereka adalah Tionghoa Peranakan yang dipilih berdasar kekayaan dan popularitas. Mereka memperoleh pangkat seperti anggota militer, misalnya Kapten, Mayor dan Letnan dengan tugas mengawasi aktivitas komunitas Tionghoa.
Selain memimpin komunitas Tionghoa yang berada di wilayah Pecinan, opsir Tionghoa juga berperan dalam pembangunan tempat ibadah. mensponsori pembukaan sekolah-sekolah Tionghoa. mensponsori pembukaan sekolah-sekolah Tionghoa dan mendukung gerakan menghidupkan kembali budaya Tionghoa melalui perkumpulan-perkumpulan berdasar ikatan primordial, misalnya Perkumpulan Hok Kian Kong Tik Soe dan Perkumpulan Buat Perbuatan Baik. Dukungan opsir Tionghoa terhadap pembukaan sekolah Tionghoa pada akhir abad ke-19 memberikan semangat dan perubahan sosial komunitas Tionghoa, yaitu kemunculan kelompok Tionghoa terdidik yang memiliki perhatian terhadap pendidikan dan menjadi agen perubahan komunitas Tionghoa.
Pendidikan Etnis Tionghoa sebagai Gerakan Penyetaraan Kedudukan
Ada dua sekolah Hokkian yang cukup populer di Surabaya, yaitu Sekolah Lam Yang Han Boen Kwan di Kapasan yang dibuka oleh Tjioe Ping Wie dan didukung oleh keluarga opsir Tionggoa bermarga The pada akhir tahun 1870 dan Sekolah Ho Tjiong Hak Tong di Keputran yang dibuka oleh Kapiten Liem Sioe Tien dan saudagar yang bergabung dalam perkumpulan Ho Tjiong Hak Kwan pada 5 November 1903. Kedua sekolah tersebut menganut sistem pendidikan modern, karena meninggalkan metode menghafal, yaitu metode yang lazim digunakan oleh sekolah-sekolah Hokkian lainnya. Nasionalisme Tiongkok yang merebak pada awal abad ke-20 turut memengaruhi gerakan Tionghoa Peranakan di Surabaya. Gerakan mereka mulai bersifat politis yang ditandai dengan upaya mendirikan perkumpulan-perkumpulan yang mendukung gerakan nasionalisme Tiongkok. Untuk menanamkan semangat nasionalisme Tiongkok, Tionghoa Peranakan di Surabaya mendirikan perkumpulan Tiong Hoa Hwee Koan (T.H.H.K), yang tujuan utamanya adalah menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak Tionghoa. Berbeda dari Sekolah T.H.H.K di kota lainnya, Sekolah T.H.H.K Surabaya berawal dari Sekolah Hokkian yaitu Ho Tjiong Hak Kwan yang terletak di Jalan Keputran.
Penyebaran gagasan nasionalisme Tiongkok mengakibatkan keresahan di kalangan pejabat Pemerintah Kolonial Belanda. Untuk merespon meningkatnya gerakan di kalangan Tionghoa Peranakan, pada tahun 1908 pemerintah membuka Hollandsch Chineesche School (HCS). Pembukaan HCS dan THHK memperoleh respon beragam. Ketidakpuasan terhadap kedua sekolah itu mendorong pembukaan sekolah-sekolah baru. Beragam sekolah yang dibuka untuk anak-anak Tionghoa pada akhir abad ke-19 hingga awal 1942 menghasilkan kelompok elite yang beragam. Meskipun bergerak di bidang yang beragam, namun memberi perhatian terhadap beragam kebutuhan komunitas Tionghoa, termasuk diantaranya kebutuhan terhadap pendidikan yang sesuai untuk generasi Tionghoa.
Penulis: Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, S.S, M.A.
Informasi detail tentang riset ini dapat dilihat dalam tulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/MOZAIK/issue/current





