Presiden Jokowi baru saja memutuskan untuk menghentikan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Hal ini menandai bahwa COVID-19 sudah tidak menjadi ancaman di Indonesia. Luasnya cakupan vaksinasi COVID-19 dan tumbuhnya imunitas masyarakat tentunya berperan besar dalam hal ini.
Kilas balik selama tiga tahun terakhir, di mana masyarakat hidup dalam bayang-bayang COVID-19. Banyak pelajaran yang bisa diambil, banyak permasalahan yang kemudian terbuka, banyak solusi yang muncul. Hal ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat beradaptasi, dan dengan berusaha maka kesempatan selalu terbuka lebar.
Salah satu permasalahan yang timbul dan mulai terbuka di masyarakat adalah tentang kesehatan mental. Tekanan ekonomi, tekanan pendidikan dan pekerjaan, tekanan pertemanan dan gaya hidup, merupakan salah satu stressor bagi masyarakat, termasuk bagi individu dewasa muda.
Individu dewasa muda adalah generasi masa depan yang diharapkan berkontribusi dalam menggapai Indonesia Emas 2045. Proporsi kelompok dewasa muda di Indonesia mencapai 49% dari seluruh populasi. Sayangnya, karena pandemi COVID-19 selama tiga tahun terakhir ini, banyak permasalahan dan tantangan yang harus dihadapi oleh kawula muda Indonesia. Termasuk masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan/ansietas, dan stress.
Dilaporkan bahwa gangguan kesehatan mental di Indonesia pada tahun 2013 dialami oleh 6% populasi, yaitu sekitar 13 juta individu, dengan hanya 10% atau 1,3 juta individu yang bisa mengakses fasilitas kesehatan. Pun saat pandemi dilaporkan 25% dari 610 Ibu dengan anak sekolah memiliki gangguan depresi, kecemasan, dan/atau stress.
Dengan keterbatasan akses pendidikan tatap muka, dan juga agar dapat mencapai target lebih luas, maka dikembangkanlah pendidikan jarak jauh menggunakan video untuk meningkatkan kesadaran masayarat, khususnya generasi muda, perihal kesehatan mental. Video ini berisi penjelasan perihal kesehatan mental, jenis-jenis stressor, cara mengatasi stress, deteksi dini, dan juga kapan harus berkonsultasi jika terdapat gangguan kesehatan mental.
Sebagai pilot study, metode pembelajaran ini diujicobakan pada 37 orang mahasiswa di Surabaya, yang berasal dari bidang kesehatan maupun non-kesehatan. Sebelum pemutaran video, tingkat pengetahuan peserta menunjukkan pengetahuan yang cukup (moderate) perihal kesehatan mental, dengan hanya 22.9% yang memiliki pengetahuan baik perihal hal ini. Namun setelah pemutaran video, pengetahuan peserta meningkat menjadi 45.7% yang memiliki pengetahuan baik. Peningkatan pengetahuan ini tidak berhubungan dengan jenis kelamin, usia, dan pengalaman mengunjungi situs kesehatan mental sebelumnya. Namun terdapat perbedaan bermakna dari skor dan peningkatan skor antara peserta di bidang kesehatan dan non-kesehatan.
Hal ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran jarak jauh ini cukup berhasil dalam meningkatkan pengetahuan perihal kesehatan mental. Dengan berbagai media, termasuk pembelajaran jarak jauh dan pengembangan online supporting group dan kalkulator kesehatan mental (www.laluibersama.com), FK UNAIR terus mendukung kesehatan mental yang baik bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk individu dewasa muda yang merupakan generasi penerus bangsa.
Penulis: Annette d橝rqom, dr., M.Sc.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
D’ARQOM, Annette et al. Increasing the Knowledge of Mental Health of Young Adults through Video-Assisted Education: A Pilot Study in Surabaya. Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement), [S.l.], v. 8, n. 4, p. 184-191, dec. 2022. ISSN 2541-5883. Available at: <>. Date accessed: 31 dec. 2022. /*doi:.





